
Bacaan I : Kel. 17:3-7; Bacaan II : Rm. 5:1-2,5-8;
Bacaan Injil: Kel 22:20-23:9.
MATA AIR KEHIDUPAN
Menurut penelitian, manusia bisa hidup tanpa makanan selama 3-4 bulan, namun hanya bisa bertahan hidup 100 jam tanpa minum. Bacaan pertama dan bacaan Injil hari ini berkisah tentang pentingnya air dalam kehidupan manusia.
Dalam perjalanan menuju tanah terjanji, saat berada di tengah gurun yang kering, tandus dan cuaca panas menyengat, rasa haus mendera Bangsa Israel. Sejauh mata memandang hanya pasir yang tampak, tidak ada setetes air yang nampak sebagai pemuas dahaga. Mengalami situasi demikian membuat mereka bersungut sungut dan bertanya-tanya “Apakah TUHAN ada di tengah-tengah kita atau tidak” [Kel 17:7]. Mereka lupa akan kasih TUHAN yang telah membebaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Bangsa Israel menganggap masalah mereka jauh lebih besar daripada TUHAN. Dalam keadaan ini TUHAN menunjukkan kasih dan kehadiran-Nya di tengah Israel. Melalui pengabulan permohonan Musa, Dia menunjukkan jalan bagaimana kebutuhan akan air untuk memuaskan dahaga mereka.
Bacaan Injil hari ini berkisah tentang Percakapan Yesus dengan Perempuan Samaria di dekat Sumur Yakub. Saat itu Yesus sedang dalam perjalanan menuju Galilea dengan melintasi Samaria, daerah yang dinajiskan bagi kaum Yahudi. Samaria justru menjadi tempat di mana Yesus melintas batas pikiran manusia. Kedatangan-Nya menjawab kerinduan orang Samaria akan pengharapan Mesias [Yoh 4:25]. Sang Mesias tidak datang dalam kemeriahan melainkan menjumpai seorang perempuan Samaria dalam sebuah percakapan yang intim. Yesus terlebih dahulu menyapa dengan meminta air kepada perempuan Samaria yang sedang menimba air. Kemudian terjadilah percakapan yang membukakan hati perempuan Samaria tersebut untuk dapat berkata jujur siapa dirinya. Buah dari keterbukaan hati dan kejujuran tersebut memampukannya mengenali siapa yang sedang bercakap dengan dirinya. Dia tidak hanya seorang nabi, tetapi sang Mesias yang memberi air hidup seperti yang diungkapkan sendiri oleh Yesus “Sebaliknya air yang akan kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai hidup kekal “[Yoh 4:15].
Masa Prapaskah tidak hanya menjadi masa pertobatan dengan berpantang dan berpuasa, tetapi menjadi waktu hening untuk mengingat, mensyukuri segala kebaikan dan penyertaan Allah yang kita alami dalam perjalanan hidup kita. Rasa syukur kita akan lebih dalam lagi, jika membaca surat Paulus kepada jemaat di Roma bahwa Kristus telah mati untuk kita, [bahkan] ketika kita masih berdosa [Rm 5:8]. Kita semua telah berjumpa dan bersatu dengan Kristus melalui Ekaristi kudus maka semoga kita juga seperti perempuan Samaria, setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus, Sang Mata Air Kehidupan, mempunyai keberanian mewartakan kabar sukacita-Nya. [DN]




