
Bacaan I : Sir. 15:15-20; Bacaan II : 1Kor. 2:6-10;
Bacaan Injil: Mat. 5:17-37
KEHENDAK BEBAS YANG BAIK DAN BENAR
Salah satu anugerah yang diberikan Allah kepada manusia adalah kehendak bebas. Bacaan pertama dari kitab Sirakh mengilustrasikan kehendak bebas dengan indah “Tuhan menaruh api dan air di hadapanmu: engkau dapat mengulurkan tanganmu kepada yang kaukehendaki.” Meski demikian Tuhan tidak pernah menyuruh orang menjadi fasik dan berbuat dosa. Artinya, Dia tetap mengharapkan manusia memilih perbuatan benar dan mulia (Sir 15:20).
Kehendak bebas tidaklah berarti bebas melakukan segala hal. Untuk itu kepada Israel, bangsa pilihan-Nya, Allah memberikan Hukum Taurat sebagai pedoman hidup agar mereka menjauhi perbuatan-perbuatan dosa yang dibenci Allah. Dalam lanjutan Khotbah di Bukit, Yesus menegaskan bahwa Dia datang ke dunia bukan untuk meniadakan Hukum Taurat, namun untuk menggenapinya. Hukum Taurat tetap berlaku, tetapi harus dipahami dalam terang kasih dan kebenaran yang lebih dalam, melampaui kebenaran ahli Taurat dan orang Farisi yang hanya mementingkan ketaatan lahiriah. Yesus menuntut hati yang murni, motivasi yang benar, dan kasih yang nyata karena ibadah sejati tidak bisa dipisahkan dari hubungan dengan sesama. Berdamai dan saling memaafkan (Mat 5:23-24), menjaga lisan dan perilaku (ay.22 dan 30), menjaga pernikahan (ay.32) adalah bagian dari hidup kudus.
Ahli Taurat dan orang Farisi adalah para penguasa dunia yang disinggung oleh Paulus dalam surat kepada Jemaat di Korintus (1Kor 2:8). Para penguasa itu tidak percaya kepada Yesus dan pengajaran-Nya dan bahkan menyalibkan-Nya. Ini adalah kehendak bebas yang mereka pilih. Konsekuensi dari pilihan ini adalah mereka akan ditiadakan (ay.6). Paulus menyatakan bahwa dia datang untuk memberitakan Yesus yang adalah “hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita sebelum adanya zaman.” Pemberitaan ini hanya dapat dipahami bagi mereka yang telah matang rohani dan dewasa dalam iman.
Sesaat lagi kita akan memasuki masa PraPaskah, masa puasa dan pantang sebagai lambang pertobatan. Dari ketiga bacaan hari ini, kita diingatkan bahwa Tuhan sungguh menginginkan kita menggunakan kehendak bebas untuk berbuat baik dan benar. Namun kita tidak bisa terhindar dari gesekan-gesekan sosial entah dalam keluarga, pekerjaan, bahkan pelayanan. Kita bisa saja membuat keputusan-keputusan sesuai dengan kehendak bebas yang kita miliki. Namun apakah kehendak bebas yang kita pilih itu sejalan dengan perintah-Nya atau justru membuat kita jauh dari-Nya?
Marilah kita mohon rahmat-Nya agar kita dimampukan untuk memilih kehendak bebas yang baik dan benar, termasuk menjaga dan merawat alam ciptaan-Nya. Selamat memasuki masa Prapaskah! [FH]




