
Bacaan I : Kej. 12:1-4a; Bacaan II : 2Tim. 1:8b-10;
Bacaan Injil: Mat. 17:1-9.
PERJALANAN IMAN
Bagi Bangsa Israel gunung mempunyai makna yang sangat penting, baik secara geografis maupun teologis. Musa menerima hukum Taurat di Gunung Sinai. Gunung menjadi simbol perjanjian Allah dengan Israel. Dalam kitab Mazmur gunung sering dipakai sebagai metafora untuk kekuatan dan keteguhan [Mzm 28:1]. Selain itu gunung dipandang sebagai tempat yang lebih dekat dengan langit, simbol kedekatan dengan Allah.
Bacaan Injil hari ini mengisahkan Yesus yang membawa ketiga orang rasul-Nya ke sebuah gunung untuk melihat dan mengalami relasi spiritualitas yang lebih intim dengan-Nya. Di atas gunung itu ketiga rasul menyaksikan sendiri Sang Guru berubah rupa, wajah-Nya bercahaya dan pakaian-Nya berkilau. Mereka melihat Yesus sedang bercakap-cakap dengan dua orang tokoh Israel yang sangat dihormati yaitu Musa dan Elia. Kedua tokoh ini merupakan simbol hukum [Musa] dan nubuat Perjanjian Lama [Elia] yang mana keduanya digenapi di dalam diri Yesus. Penggenapan ini mendapat validasi langsung suara dari langit yang menyebut Yesus sebagai “Anak yang Kukasihi” dan perintah untuk mendengarkan Dia [Mat 17:5]
Sementara itu bacaan pertama mengisahkan bagaimana sejarah keselamatan dimulai, yaitu dari panggilan Abraham untuk meninggalkan sanak saudara dan keluarganya menuju suatu negeri asing. Usia Abraham tidak muda lagi ketika dia pergi meninggalkan Haran [Kej 12:4]. Allah juga tidak sekedar menyuruh Abraham, namun menjanjikan berkat baginya dan keturunannya.
Beriman tidaklah berhenti pada hal-hal yang spektakuler seperti yang dialami ketiga rasul. Petrus mengungkapkan rasa bahagia mereka kepada Yesus saat berada di atas gunung melihat peristiwa mulia tersebut. Namun Yesus mengajak mereka untuk turun dari gunung dan menjalani perjalanan iman yang sesungguhnya. Beriman juga tidak berhenti dalam zona nyaman kehidupan. Abraham yang diminta meninggalkan keluarga dan kehidupannya yang mapan untuk melakukan perjalanan iman sebagai seorang bapa bangsa.
Kerap kali kita berada di dalam “gunung-gunung” spiritualitas rohani yang menyenangkan. Namun sesungguhnya iman tidak hanya dibangun di atas “gunung”, dia harus diuji di dalam “lembah-lembah” kehidupan sehari-hari. Di masa Prapaskah ini kita juga diminta “turun gunung” dan meninggalkan zona nyaman untuk melakukan perjalanan iman seperti yang dilakukan Abraham maupun Yesus dan para rasul. Masa Prapaskah merupakan saat di mana kita diajak untuk ikut menderita bagi Injil-Nya [2Tim 1:8]. Pantang dan puasa adalah gunung spiritualitas kita, namun bagaimana kita mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, itulah perjalanan iman kita. [CT]




