Kemunculan Yohanes Pembaptis membuat geger orang farisi dan para imam agung. Pasalnya sudah lama memang suara kenabian yang seperti diserukan Yohanes itu telah lama hilang dari tengah kehidupan orang Israel sebagai umat pilihan. Situasi yang menggambarkan krisis relasi antara Allah dan umat manusia. Allah begitu jauh sampai-sampai nubuatnya tidak terdengar lagi. Jadi tidak heran bila rasa penasaran yang mendalam bercampur rasa tidak percaya akhirnya menghantar mereka untuk mengorek lebih dalam sosok Yohanes Pembaptis. Maka kata mereka kepadanya: "Siapakah engkau? Sebab kami harus memberi jawab kepada mereka yang mengutus kami. Apakah katamu tentang dirimu sendiri?" Jawabnya: "Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: Luruskanlah jalan Tuhan! seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya."
Sepertinya seruan kenabian seperti ini pun tengah kita dambakan di tengah jaman yang menurut banyak orang serba amburadul ini. Jika lebih dramatis situasi jaman ini dapat digambarkan sebagai jaman tanpa pengharapan. Begitu banyak orang merasa frustrasi dengan kegagalan sistemik yang melanda kehidupan moralitas dan perilaku bangsa ini. Ambil contoh saja soal korupsi. Jika lebih jujur berkaca kita akan terperangah mendapati bahwa tindakan korupsi sudah menjadi budaya yang dimaklumi dalam segala aspek kehidupan bersama. Entah karena frustrasi dengan kelakuan petinggi yang menjarah miliaran hingga triliunan dana public, tidak sedikit rakyat biasa menjad latah untuk ikutan korup. Nyolong arus listrik pun gak masalah daripada gak dapat sama sekali . Belum lagi kita tersandera budaya suap yang terpaksa hrs kita pilih biar urusan cepat selesai dan usaha lancar.
Situasi seperti ini jelas membutuhkan keberanian dari diri kita untuk menyerukan suara kenabian. Ketika segala kebobrokan dianggap lumrah di saat itulah kita harus berani menawarkan kepada public untuk kembali menjalani kehidupan yang lurus sebagaimana dikehendaki Allah. Integritas Yohanes sejalan dengan nubuatnya, ia bukan hanya berbicara tetapi menjalani cara hidup yang sederhana di pasang gurun demi merasakan bagaimana semestinya kehidupan seorang manusia itu hanya bergantung pada kebaikan Allah. Jadi bila kita menyerukan perbaikan hidup maka yang pertama harus berubah adalah diri kita sehingga kita boleh menjadi contoh bagi sesama baik dalam kata maupun perbuatan.
Selain berani menyerukan suara kenabian, kita pun dituntut untuk jeli mendengarkan seruan kenabian yang didengungkan di sekitar kita. Orang Yahudi sama sekali tidak menyadari kehadiran Mesias di tengah mereka lantaran terjebak dalam pemahaman yang keliru tentang Mesias. Terlampau tertekan dalam suasana penjajahan Romawi mereka berharap agar Mesias tampil sebagai pahlawan perang yg membebaskan mrk dr kolonialisasi. Nyaris terlupakan oleh mrk sosok Mesias yg dinubuatkan Yesaya sbg Raja Damai yg lemah lembut. Atas kedegilan mrk Yohanes berkata, "Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal, yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak."
Bagi kita, Yohanes menawarkan semangat perubahan. Buatlah pembenahan dengan mulai belajar hidup secara lurus dan benar dalam segala situasi. Itulah identitas kita sebagai orang Katolik, kalau ya bilang ya, kalau tidak bilang tidak. Di saat yang sama pun kita diajak untuk mendengar suara Allah ketika DIA bernubuat melalui orang lain yang bersinggungan dengan kita atau pun lewat segala peristiwa kehidupan yang kita jumpai. Mudah-mudahan konsistensi kita untuk hidup lurus membuat kita layak menerima Sang Mesias saat Dia datang kembali.




