
Bacaan I : Kej. 18:20-33; Bacaan II : Kol. 2:12-14
Bacaan Injil : Luk. 11:1-13.
DOA SEBAGAI NAFAS HIDUP
Lukas mendeskripsikan sosok Yesus sebagai pribadi yang dekat dengan Bapa-Nya melalui doa. Ia membiarkan kekuatan ilahi menghidupi-Nya. Para murid yang semakin menyadari hal itu kemudian minta diajar berdoa sebagai bekal hidup.
Yesus mengawali pengajarannya tentang doa dengan sapaan Bapa, sebuah ungkapan relasi yang hangat dengan Allah. Relasi yang hangat ini tidak mengurangi rasa hormat dan tunduk kepada Allah yang kudus. Ini diungkapkan dengan kalimat datanglah Kerajaan-Mu, membiarkan Allah meraja dalam hidup dan hanya kehendak-Nya saja yang terjadi di atas bumi ini seperti juga di dalam surga. Itu adalah bagian pertama dari Doa Bapa Kami.
Bagian kedua berisi permohonan, karena sebagai insan yang menjalani kehidupan di dunia ini, tentu ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi dan ini juga diungkapkan di dalam doa Bapa Kami.
Pertama, memohon kebutuan dasar hidup yaitu makanan yang secukupnya, tidak lebih tidak kurang, untuk hidup dari hari ke hari. Kata secukupnya mengisyaratkan agar para murid juga memiliki kepedulian kepada orang lain. Kedua, sebagai manusia yang tidak lepas dari berbuat salah maka memohon ampun atas kesalahan yang telah diperbuat, merupakan bentuk dari kerendahan hati. Selain itu, kembali Yesus juga mengajarkan untuk mengampuni kesalahan yang dilakukan oleh sesama. Ini adalah bentuk kepedulian yang lain, yang mudah untuk diucapkan namun dalam kenyataannya sulit untuk dilakukan, namun merupakan sebuah keharusan. Ketiga, memohon agar tidak dibiarkan masuk ke dalam cobaan-cobaan kehidupan. Lebih lanjut, Yesus mengajarkan untuk tidak ragu meminta kepada Bapa karena Dia adalah Allah yang penuh kasih (Luk 11:13).
Kebaikan hati Allah nampak dalam dialog-Nya dengan Abraham dalam bacaan pertama. Abraham melakukan negosiasi dengan Allah yang saat itu hendak menghukum Sodom dan Gomora. Allah tidak akan menghukum kedua kota itu jika ada sepuluh orang baik yang tinggal di sana. Dalam bacaan kedua kasih Allah ini kembali diangkat oleh Paulus yang menulis surat kepada jemaat di Kolese. Paulus mengatakan bahwa manusia yang seharusnya mati karena dosa-dosanya telah dibebaskan berkat Yesus yang dibangkitkan dari kematian (Kol 2:12). Seluruh pelanggaran manusia telah dipakukan di kayu salib.
Injil Lukas juga dikenal sebagai Injil doa karena banyak menyoroti Yesus yang berdoa. Doa telah menjadi nafas hidup bagi Yesus. Demikian pula seharusnya bagi kita para pengikut-Nya. Namun doa bukan sekedar sarana untuk meminta saja melainkan ungkapan syukur atas segala kebaikan Allah yang tidak pernah kita minta. Sudahkah doa telah menjadi nafas hidup kita? [MSH]




