KATEKUMEN ABADI ?
Di Pangkalpinang bertugas sahabat lama saya, pastor yang sangat bersahaja, Pastor Agus Tarnanu. Kami bertemu pertengahan Mei lalu. Ketika saya merenungkan, bagaimana memaknai bacaan hari ini, saya langsung teringat pada satu obrolan dalam pertemuan itu. Minimal ada dua poin menarik dari bacaan hari ini. Yang pertama, …pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus. Perintah ini dilanjutkan dengan bagian kedua, …dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Bagaimana “membaptis” harus dimaknai? Bagaimana cara membuat orang melakukan “yang Kuperintahkan?” Pastor Nanu, begitu sahabat saya ini dipanggil, sempat bercerita tentang pengalaman pastoralnya. Yang paling menarik buat saya adalah cara Pastor Nanu, begitu dia dipanggil, mempersiapkan katekumen. Menurut pastor ini, syarat untuk bisa dibaptis bukan semata-mata selama satu tahun selalu hadir dalam setiap pelajaran katekumenat. Juga bukan semata-mata bisa mengerjakan semua test yang diberikan. “Yang paling menentukan adalah apakah dia sudah menjadi orang katolik… pribadi katolik,” kata beliau. Pandangan ini akhirnya menentukan cara belajar menjadi katolik (katekumenat). Katekumenat bukan lagi sekadar urusan pelajaran agama di satu ruang tertentu, melainkan bagaimana seorang calon baptis belajar menjadi orang katolik “yang sepantasnya”. Maka ruang pelajarannya bukan hanya aula gereja atau ruang pastoran, tapi hidup bersama di lingkungan (dengan aneka kegiatannya), kemudian naik ke wilayah dan paroki. Dan ini yang lebih penting: karena itu guru katekumen yang sejati adalah semua umat lingkungan dengan segala bentuk tingkah lakunya; segala bentuk kegiatannya.Di akhir periode katekumenat, lulus tidaknya seorang calon tidak hanya ditentukan oleh guru agama, tetapi oleh rekomendasi warga lingkungan: apakah calon ini pantas untuk dipermandikan. Tetapi di lain pihak si calon juga ditanya: melihat cara hidup orang katolik di lingkungan, apakah masih tertarik menjadi katolik? Karena itu, menurut Pastor Nanu, katekumenat bukan hanya soal bagaimana calon baptis belajar menjadi katolik, tetapi dan yang lebih penting bagaimana kita semua menjadi lebih katolik, sehingga pantas untuk diteladani oleh para calon itu. Katekumenat adalah proses kita bersama menjadi semakin katolik, sehingga para katekumen itu semakin yakin bahwa menjadi katolik adalah pilihan tepat.




