SUNGGUH INDAH "KEGILAAN" YESUS
Mau hidup, mau mati... itu semua misteri. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita. Yang bisa dilakukan hanyalah mengisi kehidupan dengan kebaikan yang berarti.Mau hidup, mau mati... itu semua misteri. Kita tidak akan tahu apa yang akan terjadi pada hidup kita. Yang bisa dilakukan hanyalah mengisi kehidupan dengan kebaikan yang berarti.
SAYA merasa hidup saya sudah berarti dengan menjadi anggota, pengurus, dan pembina Putra Altar (PA) selama kurun waktu 14 tahun (1995-2009). Hal inilah yang menjadikan saya terlena. Saya tidak lagi menghayati untuk apa dan siapa saya bertugas. Pikiran pun mengatakan, “Saya cukup bertugas!” Dan itu sudah membayar semua kesalahan saya di hadapan-Nya. Tangan yang terkatup, menundukkan kepala, berlutut, dan jubah misdinar hanyalah formalitas yang menyinari betapa indahnya ketika saya melakukan itu semua. Tetapi, dunia kekudusan di mana saya berkecimpung tidak menancap pada hati dan iman saya.
Bertatapan muka dengan Bunda Maria tidak ada dalam kamus kehidupan saya, bahkan untuk satu menit pun. Yang ada di dalam hati dan pikiran saya hanyalah menjadi misdinar, ya bertugas. Itu saja, tidak ada yang lain. Dunia pergaulan yang bebas membawa saya pada sikap skeptis (ragu-ragu) dan apatis (cuek). Fatalnya,sikap demikian terjadi ketika saya kuliah dan berujung pada iman kekatolikan saya.
Tiga bulan lamanya saya cuek, tidak peduli, tidak menganggap, dan bahkan melupakan Tuhan. Saya cukup senang dengan apa yang saya alami. Pergi dengan teman-teman, jalan-jalan, olahraga, bolos kuliah... itu semua saya nikmati. Lalu, untuk apa saya pergi ke gereja, sedangkan waktu satu setengah jam sangat berharga bagi saya untuk berkumpul bersama teman-teman. “Lupakan ke gereja dan nikmati kesenanganmu!”, batin saya berkata demikian.
Kecelakaan Motor
Pada 9 Juli 2006 tepat pukul 15.00 (di jalan raya dekat Rumah Makan Tomohon BSD City), “kemurkaan” Tuhan menghampiri hidup saya. Kecelakaan motor yang mengakibatkan tulang paha saya patah membuat saya diam seribu kata. Sisa-sisa tenaga hanya saya gunakan untuk menutup mata, tergeletak, dan mengaduh kesakitan yang luar biasa melihat darah bercucuran. Saya tidak terima dan marah kepada Tuhan atas peristiwa ini. Mengapa semua ini terjadi dalam hidup saya? Dengan kejadian ini, saya tidak bisa lagi bermain bola, jalan pun pincang, ke mana-mana susah, menahan malu, bahkan ejekan “Evo, si nyawa kucing” dan “orang cacat” melekat dalam diri saya.
Saya berbalik menanyakan keadilan Tuhan. Mengapa Tuhan begini terhadap saya? Apakah tidak cukup selama 14 tahun saya aktif sebagai misdinar? Orangtua saya pun aktif di gereja, apakah tidak cukup, Tuhan? Apa yang harus saya lakukan supaya semua ini berubah? Dalam keadaan sakit dan tidak berdaya, mama pun marah ketika saya berkata demikian. Peneguhan dan motivasi yang dilakukan mama membuat saya berpikir ulang dan berefleksi. Permenungan terus saya lakukan. Akhirnya, pada suatu saat saya berpikir, “Apakah Tuhan mau lebih dari apa yang saya berikan selama ini?” Suara itu selalu terbayang-bayang dalam pikiran saya, bahkan ketika saya terbangun dari tidur di tengah malam karena kesakitan. Keputusan yang berani keluar dari hati saya, kalau saya sembuh saya akan masuk biara.
Saya sempat ragu dengan keputusan itu ketika saya sembuh. Godaan akan kesenangan di dunia luar kembali merayu kehidupan saya. Apa yang saya katakan di dalam hati belum seratus persen ingin saya lakukan.
Tiga Peristiwa
Tepat pada 19 Juli 2007, antara pukul 13.30-14.00, keraguan itu dijawab oleh Tuhan. Dia kembali memberikan peristiwa yang kali ini mengamini keputusan saya. Kecelakaan terjadi lagi! Mobil yang saya kendarai terjerumus selokan di kawasan Nusa Loka. Akibatnya, kelopak mata sebelah kanan saya pun dijahit. Saya beruntung karena saat itu saya sendirian dan masih bisa keluar dari dalam mobil untuk menyelamatkan diri.
Peristiwa kedua ini tidak membuat saya marah kepada Tuhan karena kejadian ini saya anggap sebagai jawaban atas keraguan saya. Ternyata, tidak cukup dua kali, bahkan Tuhan memberikan kembali tawaran kepastian itu. Tahun 2008, di bundaran air mancur BSD (saya lupa tanggal dan waktunya) peristiwa kecelakaan menimpa saya lagi. Kali ini, saya berboncengan dengan salah satu teman misdinar. Pada kecelakaan ketiga ini saya hanya jatuh dan lecet-lecet, tidak parah.
Atas ketiga peristiwa ini, saya berefleksi semakin dalam dan yakin bahwa Tuhan mau memakai saya untuk bekerja di kebun anggur-Nya. Dengan tekad bulat, saya katakan dalam diri saya, “Ya, saya mau masuk biara!” Keputusan ini tidak lain tidak bukan untuk mengabdikan diri saya kepada-Nya atas kebaikan-Nya yang selama ini melindungi saya. Jika tidak, mungkin sekarang saya tidak bisa menulis tulisan ini.
Tuhan berbicara melalui berbagai cara. Itulah yang saya yakini. Saya tidak bisa melupakan bahwa masuknya saya ke biara, tidak lepas dari peran utama saya menjadi PA. Melalui PA, Dia mengetuk pintu hati saya agar saya berbalik kepada jalan kebenaran, kebaikan, dan keindahan yang berasal dari Dia sendiri. Kebaikan mereka semua sampai saat ini terus saya rasakan.
Dalam berbagai kesempatan, ketika saya memberikan renungan pun, saya menceritakan pengalaman hidup panggilan saya ini yang akhirnya bisa membawa saya memakai jubah Ordo Salib Suci. Enam tahun sudah saya tinggal di OSC dan keluarga baru ini juga membawa perubahan dalam karakter saya. Dalam keluarga baru ini, saya mendapatkan nilai-nilai luhur yang tidak saya dapatkan sebelumnya.
Begitu juga dengan pastoral dan kerasulan yang saya lakukan sekarang. Dalam merasul, saya hanya ingin mengikuti orang Nazareth yang “gila” itu. Betapa tidak? Siapa yang mau jika ditampar pipi kiri memberikan pipi kanan? Siapa yang mau memilih pengikut yang akhirnya mengkhianati-Nya, yang menyangkal-Nya, yang tidak percaya pada kebangkitan-Nya? Siapa yang berani mengatakan omongan kasar kepada ibunya sendiri?
Senyum, Salam, Sapa
Semua “kegilaan” Yesus ini mau mengajarkan kepada saya bahwa perkataan, perbuatan, pikiran, kehendak, dan hati seorang Evo hendaknya tertuju kepada Allah, yang dipraktikkan dalam tugas kerasulan dan pastoral. Sekarang, saya bertugas di Paroki Kristus Raja Cigugur, Kuningan, Jawa Barat. Kegiatan saya di paroki ini, antara lain Legio, mengajar di sekolah, membagi Komuni di rumah sakit dan lingkungan, tugas sakramentali, menemani OMK, kunjungan rumah, ke stasi-stasi, dan tugas lainnya.
Ketika saya bertugas, yang selalu saya lakukan adalah senyum, salam, dan sapa. Saya mengutip kata-kata itu dari seorang pastor yang saat ini sekomunitas dengan saya. Ia juga pernah berkarya di Paroki St. Monika BSD. Ia selalu menciptakan surga kecil dan guyub dalam melayani umatnya. Bukankah itu yang dihadirkan Yesus ketika berkarya dalam perutusan-Nya? Saat saya bisa dan berusaha membuat mereka tersenyum dan senang, di situlah saya bisa menghadirkan “Allah kecil” bagi umat yang saya layani. Saat saya berpastoral dan berinteraksi dengan umat, di situlah saya belajar dan bisa mengetahui bagaimana reaksi mereka terhadap kehadiran saya. Dari reaksi mereka, saya pun bisa belajar bagaimana harus bersikap.
Saat saya melakukan kunjungan dan mendengar cerita, sharing, bahkan keluhan mereka, saya pun belajar menjadi pendengar. Dengan mendengarkan maka saya tahu apa yang diharapkan umat dari Gerejanya. Inilah pelajaran yang baik bagi saya ketika nanti saya ditahbiskan (amiiiiiinnnn....). Ketertarikan saya menjadi seorang biarawan karena ada kepuasan batin yang saya dapatkan ketika saya berbuat baik dan membawa “Allah kecil” kepada orang lain, entah itu umat, frater-frater lain, para pastor, dan bahkan pastor-pastor sepuh. Ketika senyuman itu lepas dari wajah mereka, di situlah saya merasakan kebahagiaan. Bahkan saya pun pernah meneteskan air mata ketika melihat pastor-pastor sepuh yang masih mau berjuang untuk hadir dan ikut dalam kegiatan rohani bersama para frater. Luuaarr biasa!
Keluarga baru ini menjadikan saya semakin percaya diri (karena di tempat saya bertugas sekarang, saya diharuskan untuk memberi renungan-renungan). Mereka menegur saya ketika saya berbuat salah (dulu saya keras kepala), membuat saya tahu keterbatasan dan kelebihan saya dalam berpastoral (dulu saya beranggapan saya bisa melakukan semua hal), dan terutama guyon-guyonan di antara kami (para frater dan pastor). Sukacita yang saya alami ini bukanlah tanpa konflik. Konflik yang terjadi dalam diri saya maupun dengan orang lain mengajarkan kepada saya, bahwa dengan konflik, saya bisa mengambil sikap dan belajar mengampuni.
Hal lain yang membuat saya senang adalah saya bisa makan sepuasnya dan tidak ada yang melarang. Masak frater dan pastor sudah tidak boleh pacaran dan punya istri, makan apa-apa juga tidak boleh sih... hahahaha....
Mengejar Impian
Perjalanan panggilan untuk masuk biara membuat saya bisa mengakui, bahwa dulu saya adalah orang Farisi yang hanya melakukan kewajiban agama, tapi tidak menghayati iman kekatolikan. Saya tidak tahu berterima kasih kepada orangtua; saya kerap membuat mereka kecewa. Saya cenderung tidak peduli dengan orang lain, dan cuek terhadap orang-orang yang menegur saya. Dan akhirnya, Tuhan sendirilah yang menegur saya.
Tetapi, dengan “kemurkaan”-Nya itu, saya dikembalikan bahkan digerakkan untuk menghadirkan keselamatan bagi orang lain di mana keselamatan itu sudah saya peroleh terlebih dahulu. Saya menyadari perjalanan panggilan saya masih panjang dan saya masih terus berusaha melakukan yang terbaik bagi diri saya maupun Ordo Salib Suci.
Dengan sangat, saya memohon bantuan doa-doa segenap warga Paroki St. Monika BSD agar saya berhasil mengejar impian saya ini. Yang paling saya harapkan adalah saya bisa ditahbiskan menjadi imam. Saya mencari Kerajaan Allah terlebih dahulu, selebihnya akan ditambahkan oleh Dia yang mempunyai hak atas hidup saya.
Oleh Fr. Evodius Karunia Lembaga, OSC
Fr. Evo adalah putra pasutri Daniel Lembaga dan Rusmala, lulus dari SD-SMA St. Ursula BSD, S1 Ekonomi Binus, dan S1 Filsafat Unpar. Saat ini, ia sedang menjalani Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Kristus Raja Kuningan, Cigugur, Jawa Barat.




