BANGKIT DARI KEMATIAN

Bacaan 1: 1Raj. 17:17-24 Bacaan 2 : Gal. 1:11-19 Bacaan Injil : Luk. 7:11-17
“BANGKIT DARI KEMATIAN”

Bacaan 1: 1Raj. 17:17-24 Bacaan 2 : Gal. 1:11-19 Bacaan Injil : Luk. 7:11-17
“BANGKIT DARI KEMATIAN”

Bacaan 1: Kej. 14:18-20 Bacaan 2 : 1 Kor. 11:23-26 Bacaan Injil : Luk. 9:11b-17
“BERANI BERBAGI”
Stephen R. Covey - penulis buku bestseller “The 7 Habits of Highly Effective People” - membagi manusia atas 2 kelompok, yaitu yang memiliki “Mental Kelimpahan” (Abundance Mentality) dan yang memiliki “Mental Kelangkaan” (Scarcity Mentality). Orang yang memiliki “Mental Kelangkaan” berpikir bahwa kita tidak mempunyai cukup sumber untuk dinikmati semua orang. Mereka sulit membagi “pengakuan dan penghargaan, wewenang dan keuntungan”. Mereka memiliki “paragdima zero-sum” bahwa apa yang saya bagikan akan mengurangi apa yang saya miliki. Sebaliknya, “Mental Kelimpahan” mengalir dari nilai diri dan rasa aman pribadi yang mendalam. Mereka berpikir bahwa di luar sana tersedia cukup sumber yang dapat dibagi untuk semua orang. Mereka tidak pelit untuk memberi pujian, pengakuan dan penghargaan. Mental ini lahir dari karakter yang kaya oleh integritas, kematangan dan kejujuran.
Injil hari ini (Lk 9:11b-17) bicara tentang MUKJIZAT PENGGANDAAN ROTI. Mukjizat ini sangat penting dan satu-satunya mukjizat yang diceritakan dalam 4 injil (Mateus, Markus, Lukas, Yohanes). Ada 4 hal penting dari injil ini : 1) Ketika hari mulai malam para murid mengusulkan orang banyak itu pergi (ayat 12). “Malam” adalah simbol kegelapan, bahaya, godaan dan masalah. Usulan para murid cukup masuk akal, tapi terkesan lepas tanggungjawab. Mereka cari jalan pintas dengan menyuruh orang banyak pergi. Ketika menghadapi masalah atau bahaya, kita cenderung cari jalan pintas atau lepas tanggungjawab. 2) Sikap Yesus sangat tepat dengan mengatakan “Kamu harus beri mereka makan” (ayat 13). Ini sikap mau bertanggungjawab, sikap berani ambil risiko. Sebagai calon pemimpin gereja, Yesus mengharapkan para murid untuk peduli dan mau bertanggungjawab terhadap situasi orang banyak, situasi umat manusia. 3) Hanya ada “5 roti dan 2 ikan” (ayat 13). Ini sikap “mental kelangkaan” (scarcity mentality), di mana “untuk kami saja tidak cukup, apalagi buat orang lain”. Sikap egois membuat “apa yg dimiliki” tidak pernah cukup, sehingga tidak mungkin bisa dibagikan kepada orang lain. 4) Yesus mengambil roti itu, menengadah ke langit untuk berdoa, mengucap syukur, memecah-mecahkan roti dan memberikannya kepada para murid (ayat 16). Ini rumusan EKARISTI. Bdk Doa Syukur Agung I : “Ia mengambil roti .. dan sambil menengadah kepadaMu.. Ia mengucap syukur dan memuji Dikau ..memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-muridNya seraya berkata..”
Bagi Yesus, 5 roti dan 2 ikan sangat cukup untuk dibagikan kepada orang banyak. Yesus mengubah “MENTAL KELANGKAAN” menjadi “MENTAL KELIMPAHAN”. Menurut Yesus : kita memiliki cukup sumber daya dan kemampuan untuk dibagikan. Pengertian “makanan” di sini bukan makanan jasmani saja, melainkan juga makanan rohani, makanan mental, seperti : sikap saling mengasihi, saling memaafkan, mau mengerti, saling menghargai, saling berbela rasa, dll. Yesus mengubah “kekurangan kita” menjadi “kekayaan”, “kelemahan” menjadi “kekuatan”, “keragu-raguan” menjadi “keberanian”, “pesimisme” menjadi “optimisme”. Seperti Yesus yang mau membagi “Tubuh dan DarahNya” untuk keselamatan kita, demikian pula kita harus berani membagi “apa yang kita miliki” untuk kepentingan orang lain. Inilah makna Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Berani bersaksi, berani berbagi dan berani berbela-rasa. Keberanian yang timbul dari “Mental Kelimpahan” (abundance mentality) adalah mental seorang Kristiani sejati !

Bacaan 1: Kis. 2:1-11 Bacaan 2 : Rm. 8:8-17 Bacaan Injil : Yoh. 14:15-16,23b-26.
BAHASA ROH - BAHASA KASIH
Dalam tradisi Umat Perjanjian Lama, Pentakosta, yang artinya “Hari ke-50” dirayakan 7 minggu setelah panen gandum (Im 23:15-21 dan Ul 16:9-12). Dalam perkembangan selanjutnya, “Hari ke-50” dihitung dari tanggal 14 Nisan, yaitu Hari Paskah Yahudi. “Hari ke- 50” ini kemudian diperingati juga sebagai “Hari Turunnya Taurat”. Di kalangan Umat Kristen, “Hari ke-50” itu dirayakan 7 minggu setelah KebangkitanYesus untuk memperingati “Turunnya Roh Kudus”. Jadi perayaan “7 minggu” setelah “Panen gandum” dari dunia Perjanjian Lama itu diadopsi oleh Perjanjian Baru kepada “Panen rohani” dengan turunnya Roh Kudus.
Bacaan I hari ini (Kis 2:1-11) bercerita tentang turunnya Roh Kudus. Setelah Yesus ditangkap, disiksa dan wafat, para Rasul menyembunyikan diri di ruangan tempat Yesus mengadakan perjamuan malam terakhir. Suasana penuh ketakutan dan sangat mencekam. Mereka kuatir nasib mereka akan sama dengan Gurunya. Mereka hanya berdoa, semoga tidak ada yang mengetahui tempat persembunyian itu. Dan ini berlangsung hampir 2 bulan. Sampai suatu saat, ketika mereka berkumpul untuk berdoa, tiba-tiba “timbul bunyi gemuruh disertai tiupan angin kencang dan nampaklah lidah-lidah api hinggap di atas kepala mereka. Dan mereka dipenuhi Roh Kudus” (Kis 2:2-4). Angin kencang itu seperti taifun, yang membongkar pintu-pintu serta merobohkan dinding-dinding penyekat. Mereka seakan dicampakkan di lapangan terbuka dengan hati tanpa takut dan gentar. Merekapun dibekali kemampuan berbahasa, yang dapat dipahami oleh para pendengarnya. “Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berbicara dalam bahasa, yang dipakai di negeri asal kita ?” (Kis 2:8). Saat itu ada lbh dari 3000 org berkumpul di sana (Lht Kis 2:41) dari hampir 20 suku bangsa dan bahasa. Lalu bahasa apa yang disampaikan oleh para Rasul, sehingga dapat dimengerti oleh pendengarnya ? Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa Roh (Kis 2:4 “mereka berkata-kata dengan bahasa-bahasa lain, seperti yg diberikan Roh itu”).
Apa itu bahasa Roh ? “Bahasa Roh” di sini tidak sama dengan “bahasa Roh atau bahasa lidah” (=Glossolalia) seperti yang disebutkan dalam 1 Kor 14:1-25. Bahasa Roh di sini adalah bahasa “kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, sikap lemah lembut dan penguasaan diri” (Gal 5:22). Barangsiapa menggunakan “bahasa Roh, yaitu kasih, sukacita, kebaikan, kesabaran, dst” pasti dapat dimengerti oleh semua orang. Itulah bahasa universal, yang dapat dipahami oleh semua umat manusia.
Ketika Mother Teresa datang dari Eropa dan kerja di antara orang miskin di Calcutta / India, dia langsung diterima dan dimengerti oleh penduduk setempat, karena dia menggunakan bahasa roh yaitu bahasa kasih ! Hal ini ditegaskan kembali dalam injil hari ini : “Jika kamu mengasihi Aku, maka kamu akan menuruti segala perintahKu” ( Yoh 14:15). Maka, semoga perayaan Pentekosta ini mengingatkan sekaligus memampukan kita utk selalu “berbahasa Roh” yaitu “BAHASA KASIH”.

Bacaan 1: Ams. 8:22-31 Bacaan 2 : Rm. 5:1-5 Bacaan Injil : Yoh. 16:12-15.
“KASIH YANG SEMPURNA”
St. Agustinus, uskup Hippo adalah salah satu Pujangga besar Gereja. Dia menulis banyak buku dalam berbagai ilmu, khususnya filsafat maupun teologi. Namun ketika hendak menulis tentang “Allah Tritunggal”, dia mengalami kesulitan. Konon untuk mendapatkan inspirasi, Agustinus berjalan-jalan di tepi pantai. Ketika berada di sana, dia melihat seorang anak kecil mencedok air laut dengan sebuah gayung lalu menuangkannya ke sebuah lubang kecil di pantai. Itu dilakukannya berulang-ulang, sehingga membuat Agustinus penasaran. Dia lalu mendekat dan bertanya : “Apa yang kamu lakukan ?” Jawab anak kecil itu : “Saya sedang memindahkan air laut itu ke dalam lubang ini !”. “Mana mungkin“ balas Agustinus, “itu mustahil”. Jawab anak kecil itu : “Sama halnya dengan yang engkau lakukan. Tidak mungkin misteri Allah Tritunggal yang sedemikian dalam, luas dan tidak terbatas bisa masuk otak manusia yang kecil dan terbatas”. Jawaban lugas anak kecil itu membuat Agustinus sadar bahwa manusia tidak mungkin bisa memahami misteri Allah Tritunggal secara tuntas.
Hari ini Gereja merayakan PESTA TRITUNGGAL MAHAKUDUS. Kita tidak ingin membahas misteri Allah Tritunggal di sini, melainkan poin-poin apa saja dari pesta ini bagi kehidupan iman kita ?
Pertama, kita mengimani SATU ALLAH namun 3 PRIBADI. Kita tidak menganut polytheisme(=percaya akan banyak Allah), melainkan monotheisme (= satu Allah) atau Allah yang Esa. Dalam Syahadat panjang, yang dikenal sebagai Syahadat Nikea Konstantinopel ditegaskan : “Aku percaya akan satu Allah..”.
Kedua, 3 pribadi mempunyai peranan masing-masing : Allah Bapa sebagai Pencipta; Allah Putra sebagai Penebus dan Allah Roh Kudus sebaga Penegak Kebenaran serta Paracleitos (=Penghibur / Pembimbing).
Ketiga, misteri Tritunggal Mahakudus menyadarkan kita akan “kemahabesaran Allah”. Allah itu Maha Besar dan manusia bagaikan “debu” di hadapanNya (lht Mzm 103:14 “kita ini debu”). Hakekat Allah jauh melampaui akal budi manusia, karena Allah bukan menjadi obyek pengetahuan, melainkan obyek iman (bdk. Kisah St. Agustinus).
Keempat, misteri Allah Tritunggal adalah misteri kasih yang sangat sempurna. Hal ini ditegaskan Yesus dalam injil hari ini : “Segala sesuatu yang Bapa punya adalah Aku punya” (Yoh 16:15). Dan dapat kita teruskan pula : “Apa yang Aku punya adalah Roh punya” (bdk. Yoh 16:14 “Ia akan memberitakan kepadamu apa yang diterimanya dari padaKu”).
Ketiga pribadi dalam Tritunggal memiliki satu pikiran, satu perasaan, satu kehendak dan satu tindakan ! Maka kesatuan Tritunggal di sini bukanlah kesatuan fisik, melainkan kesatuan roh ! Dan Roh yang menyatukan Tiga Pribadi adalah Roh Kasih karena “Allah adalah Kasih” (1 Yoh 4:8). Sebuah model kehidupan yang sempurna. Maka makna pesta ini bagi kita adalah selain memperkuat iman kita kepad Allah Tritunggal, semoga semangat kasih yang menghidupi Allah Tritunggal bisa juga mengisi kehidupan kita. Maka bersama Santo Arnoldus Janssen kita berdoa : “Vivat Unus Deus et Trinus in Cordibus Nostris” (Hiduplah Allah yang Esa dan Tritunggal di dalam hati kita). Semoga !

Bacaan 1: Kis. 7:55-60 Bacaan 2 : Why. 22:12-14,16-17,20 Bacaan Injil : Yoh. 17:20-26
DOA EKUMENE “Semoga mereka semua menjadi satu”
Dewasa ini Umat Kristen di dunia berjumlah sekitar 2 milyar, yang terdiri dari umat katolik ( + 1,3 milyard ), Ortodoks, Anglikan, Lutheran, Calvinis, Presbyterian, Reformasi, Methodis, Pentekost, Karismatik, Baptis, Adven serta ribuan gereja-gereja Protestan lainnya. Gereja-gereja ini, selain mempunyai pimpinan sendiri, juga mempunyai ritus ibadat dan terkadang versi Alkitabnya sendiri. Banyaknya gereja yang mengaku mengimani Kristus tentu saja memprihatinkan. Maka pada tahun 1910 dimulailah Gerakan Ekumene di kota Edinburgh di Inggris untuk menyatukan umat Protestan. Tanggal. 22 Agustus 1948 dibentuklah Dewan Gereja-Gereja Sedunia (DGD). Ekumene berasal dari kata Yunani “Oikoumene” artinya “bumi tempat kita berdiam”. Ekumenisme adalah upaya penyatuan atau kerjasama di antara Umat Kristen. Sejak Konsili Vatikan II Gereja Katolik mulai melibatkan diri dalam gerakan Ekumene. Tanggal. 25 Januari 1959 Paus Yohanes XXIII menyerukan Gerakan Ekumene. Tanggal. 25 Mei 1995 Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan Ensiklik tentang Ekumene yang berjudul “Ut unum sint” (semoga mereka bersatu). Sejak saat itu telah dilakukan berbagai inisiatip dan pertemuan utk menyatukan umat Kristen. Bahkan Gereja Katolik menetapkan tanggal. 18 - 25 Januari sebagai Pekan Doa Sedunia untuk mendoakan persatuan umat Kristen.
Setelah Yesus menyampaikan wejangan yang cukup panjang kepada para muridnya (bab 14 s/d 16), Yesus menutup pertemuannya dengan “DOA” (bab 17 - 26 ayat). Ada yang menyebut doa ini sebagai “Doa Tuhan Yesus sebagai Imam Besar”, ada yang menyebutnya sebagai “Doa Penyerahan” atau “Doa Kemenangan”. Doa ini terbagi 4 bagian : 1) Doa bagi perutusan Yesus sendiri (ayat 1-5); 2) Doa bagi murid-muridNya (ayat 6-19); 3) Doa bagi orang yang akan percaya kepada-Nya (ayat 20 - 23); 4) Penutup (ayat 24-26). Injil hari ini berisikan “doa bagi yang akan percaya” dan “doa penutup”. Walaupun Yesus tahu bahwa Dia akan ditangkap, disiksa dan wafat, namun Dia sangat yakin bahwa tugas perutusanNya tidak berakhir. Penderitaan dan penyaliban dilihat Yesus sebagai momen pemuliaan, oleh karenanya Dia tidak pernah gentar. Pada bagian akhir doaNya, Yesus berdoa bagi orang yang akan percaya kepada pewartaan para murid. Jadi, ini adalah doa bagi kita semua.
Selain percaya kepada kuasa Allah, Yesus juga percaya akan keterlibatan manusia, yakni para muridNya. Inti doa Yesus bagi semua yg akan percaya kepadaNya adalah “UT OMNES UNUM SINT - agar mereka semua menjadi satu”. Yesus tahu bahwa orang yang percaya kepada ajaranNya akan terdiri dari orang-orang yang berasal dari berbagai suku bangsa, bahasa, budaya, dll (bdk. KisRas 2:1-13). Karena “perbedaan ini bisa menimbulkan perpecahan”, maka ujud doa Yesus adalah “semoga mereka semua menjadi SATU” dan diulangNya sebanyak 3 kali (ayat 21, 22, 23). Namun kesatuan yang diinginkan Yesus di sini, bukan kesatuan organisasi atau administrasi, melainkan kesatuan “Roh”, seperti yang terjadi antara Yesus dan BapaNya! Dan Roh yg menyatukan Yesus dan BapaNya adalah Roh Kasih karena Allah adalah Kasih (bdk. 1 Yoh 4:16).
Apa yang dapat kita pelajari dari bacaan injil hari ini ? 1) Hidup doa. Yesus mengajar kita untuk selalu berdoa ! Setelah seharian mengajar, Yesus selalu meluangkan waktu untuk berdoa (bdk. Lk 5:16 “Ia mengundurkan diri ke tempat yang sunyi untuk berdoa”). Ketika Dia akan mengakhiri tugas perutusanNya, Yesus berdoa (lht Yoh 17:1-26). Sebelum ditangkappun Yesus berdoa di Taman Getsemani (Lk 22:40). 2) Semangat persatuan. Yesus mengajar kita untuk selalu mengusahakan persatuan. Seperti pepatah “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”, demikianlah kekuatan yang kita peroleh dari persatuan. Sebuah lagu menjadi indah, bukan karena satu nada, melainkan gabungan nada-nada berbeda, yang dirangkai menjadi alunan musik yang indah. 3) Kesatuan Roh. Kesatuan yang diinginkan Yesus, bukan kesatuan fisik, organisasi atau administrasi, melainkan kesatuan Roh. Dan model kesatuan yang sempurna adalah kesatuan antara Yesus dan BapaNya. Semoga semangat kesatuan ini menjiwai hidup kita, hidup keluarga kita, hidup masyarakat dan bangsa kita.
