YESUS WARTAWAN SEJATI
Setiap pekan di seluruh dunia ada seorang wartawan mati dibunuh dalam tugas. Menurut Unesco, sejak 2006 hingga 2013, 593 wartawan tewas terbunuh. Data tahun 2014 tidak lebih baik. Menurut Komite Perlindungan Wartawan Dunia, selama 2014, 61 wartawan terbunuh. Semua data itu merujuk pada wartawan yang dibunuh karena tugas jurnalistiknya. Indonesia juga tidak imun dari fenomena itu. Sebut saja Udin, wartawan Bernas yang dianiaya dan akhirnya tewas, Ersa Siregar (RCTI), Herliyanto (Delta Pos), Naimulah (Sinar Pagi), Agus (Asia Pers) dll. Belum lagi wartawan yang “hanya” dianiaya atau diteror. Untuk yang terakhir, “diteror”, rasanya setiap wartawan “yang bener” dan tidak mau berkompromi tentang kebenaran pernah mengalaminya. Teror, penganiayaan, hingga pembunuhan adalah risiko yang jelas, spesifik bagi wartawan yang tak mau berkompromi tentang kebenaran.Pada poin terakhir inilah, “tidak mau berkompromi tentang kebenaran”, cerita soal kewartawanan dan risikonya terhubung dengan kita, Gereja.Hari ini Gereja merayakan Hari Komunikasi sedunia. Sejak Konsili Vatikan II, Gereja memang menempatkan komunikasi sosial sebagai instrumen penting pewartaan sabda. Konsili menulis, “Gereja berhak menggunakan dan memiliki semua jenis media, sejauh diperlukan atau berguna bagi pendidikan kristen … dan demi keselamatan manusia.” Dalam konteks itu pula Gereja memilih bacaan injil hari ini. Teks ini merupakan bagian dari pidato plus doa panjang Yesus pada malam perjamuan terakhir. Ini adalah bagian eksklusif Yohanes, yang tidak ada dalam injil lain. Yesus berdoa kepada Bapa, “Aku telah memberikan firman-Mu kepada mereka… [dan] firman-Mu adalah kebenaran…” Teks ini memberikan pemahaman bahwa ya, Yesus adalah seorang pewarta; yang diwartakan adalah firman-Mu; dan firman-Mu adalah kebenaran.Bahwa pada akhirnya Yesus dibunuh di kayu salib, pangkal soalnya adalah karena Beliau tidak mau berkompromi soal kebenaran. Bagaimana mungkin berkompromi, sebab Beliau adalah pewarta sekaligus sabda itu sendiri. Sabda sudah menjadi daging dan tinggal di antara kita.Jelas bahwa abad ini adalah abad media sosial. Hampir pasti kita semua adalah para aktivis media sosial. Kita adalah pewarta. Bahan refleksi kita adalah: apa yang kita wartakan; dan seteguh apa kita memegang kebenaran? Seorang wartawan pernah berkata, jika yang kau kautulis dan kausiarkan menyenangkan semua orang, sangat mungkin kau seorang kompromis. Kau tak akan disentuh, apa lagi dibunuh. Nah, Anda bisa menebak kalimat berikutnya




