Ada seorang Pastor Amerika yang sangat terkenal pada dekade awal abad ke 19. Dia adalah Pastor Flanagan. Ia terkenal karena mendirikan Boys Town pada tahun 1921, untuk anak laki-laki tunawisma, sekaligus menampung anak-anak nakal. Dari Boys Town ini ada ceritera. Ada seorang anak laki-laki, umur 8 tahun yang membunuh ayah dan ibunya. Dia sudah berkali-kali ditahan karena merampok. Polisi tidak bisa berbuat apa-apa karena masih dibawah umur sehingga tidak bisa ke pengadilan maupun sekolah rehabilitasi. Mereka kemudian menelpon Pastor Flanagan untuk menitipkan anak ini. Ketika tiba di boys town polisi mengetuk pintu, dan pastor Flanagan berkata, “silakan masuk,” dan anak itu masuk. Pastor Flanagan berkata, “Hm… siapa nama kamu?” “Dave, pak.” “Oh ya, tentu saja Dave, selamat datang di boys town, kami mengharapkan kedatanganmu. Sekarang kamu ada di sini, tentunya kamu mau melihat-lihat, perlu kamu ketahui setiap orang di sini harus bekerja. Ini Henry, dia akan menjelaskan, kamu dapat memilih mau jadi apa, tetapi tidak perlu cepat-cepat, lihat-lihat dulu tempat ini. Itu saja, sampai jumpa lagi.” Anak itu kemudian menulis dalam buku hariannya bahwa, detik-detik itu mengubah hidup saya karena, “untuk pertama kalinya dalam hidup, saya melihat pada mata seseorang yang tidak mengatakan: saya mencintai kamu, tetapi dia mengatakan kamu baik, kamu tidak buruk, kamu bisa!” Pastor Flanagan dan orang Samaria dalam injil hari ini memberikan contoh bagaimana sesungguhnya cinta kasih Allah yang diwartakan Yesus Kristus. Cinta kasih sejati Allah itu melampaui batas suku, bahasa, ras, agama, predikat orang baik dan jahat, anak baik dan nakal, anak pintar dan bodoh. Ia berlaku universal seperti kasih Allah Bapa yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar. (Mat. 5:4). Hari ini kita dipanggil dan diutus oleh Yesus untuk melakukan perbuatan kasih seperti pastor Flanagan dan orang Samaria yang baik hati, karena perintah cinta kasih yang disampaikan ini, tidaklah terlalu sukar dan tidak terlalu jauh (Ul.30:11) tetapi sebaliknya sangat dekat, yakni di dalam mulut dan hati kita, untuk dilakukan. (Ul.30:14) [LN]
“BERSUKACITALAH KARENA NAMAMU ADA TERDAFTAR DI SURGA”
Dalam sebuah sayambara online, penyelenggara sayambara bertanya kepada para remaja, tentang hal dan momen apa yang paling menyenangkan dalam hidup mereka. Ada yang menjawab bahwa momen yang paling menyenangkan dalam hidupnya adalah ketika bersama teman-teman, ada yang bilang pergi ke Mall, ke taman wisata, tinggal di rumah, makan makanan kesukaan, bersama pacar, main game, disayang orang tua, dan beberapa jawaban lain lagi. Dari semua jawaban di atas, ada seorang remaja yang memberikan jawaban yang sangat berbeda. Remaja itu mengatakan bahwa dia mengalami kegembiraan ketika ia memberikan roti kepada dua anak yang sedang kelaparan. Ekspresi kegembiraan lewat senyum dan mata yang penuh sukacita ketika mengucapkan terima kasih, membawa sukacita di hati remaja tesebut. Ia mengalami kegembiraan ketika orang yang dibantu mengalami sukacita. Ceritera ini menggambarkan inti perutusan ketujuh puluh murid hari ini. Mereka diutus ke kampung-kampung untuk mewartakan kerajaan Allah. Kerajaan Allah yang diwartakan bukanlah suatu Hoax, tetapi adalah suatu perbuatan konkrit yang dirasakan manfaat langsung oleh umat, dalam bentuk menyembuhkan orang sakit, dan mengusir roh-roh jahat dan setan. Mereka menghadirkan wajah kerajaan Allah yang menghibur, murah hati, lemah lembut, suci hati, dan pembawa damai. Ketika para murid dengan bangga bercerita tentang keberhasilan mereka, Yesus kembali mengingatkan mereka untuk tidak berbangga karena mampu mengusir setan, tetapi sebaliknya bersukacita karena nama mereka ada terdaftar di surga. Pertanyaannya adalah, apakah nama anda telah terdaftar di surga? Kalau belum maka Anda dan saya masih memiliki peluang untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik bagi keselamatan sesama, karena St Teresa dari Avila mengatakan 'Kristus tidak memiliki tubuh di bumi selain milikmu; tidak ada tangan selain milikmu; tidak ada kaki selain milikmu. Matamu adalah tempat melalui mana belas kasihan Kristus memandang dunia. Milikmu adalah kaki yang dengannya Dia harus berbuat baik. Tanganmu adalah milikNya untuk memberkati orang lain sekarang ini juga.' (LN)
Upah dosa ialah maut (Rm6:23), dan karena nyawa makhluk ada di dalam darahnya (Im17:11), maka menebus dosa dilakukan dengan menumpahkan darah kurban. Bapa telah mengutus Sang Putra untuk menebus dosa umatNya; penebusan itu dinyatakan dengan mengorbankan diri untuk disalib sebagai lambang pemberian dirinya – tubuh dan darahnya – sebagai jaminan perjanjian keselamatan yang baru. Inilah amanat yang diperintahkan Tuhan Yesus untuk kita kenang dalam setiap perayaan Ekaristi. Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: "Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!" Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: "Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!" Sebab setiap kali kamu makan roti ini dan minum cawan ini, kamu memberitakan kematian Tuhan sampai Ia datang (1Kor11:23-26). Dialah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, sekaligus Imam Agung yang membawa darah sucinya sendiri sebagai persembahan korban penghapus dosa. Sebab tentang Dia diberi kesaksian: "Engkau adalah Imam untuk selama-lamanya, menurut peraturan Melkisedek."(Ibr7:17). Melkisedek, raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Lalu ia memberkati Abram, katanya: "Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, Pencipta langit dan bumi, (Kej14:18-19). Perayaan Ekaristi adalah gambaran perjamuan surgawi yang boleh kita alami, dimana setelah dikonsekrasikan, Roti dan anggur yang sudah menjadi Tubuh dan Darah Kristus adalah santapan surgawi yang bisa kita cicipi dalam misa kudus. Tuhan Yesus, kami mohon, buatlah kami semakin memahami, mengasihi dan mengalami Engkau yang hadir dalam Ekaristi. Amin.
Adakah pekerjaan besar yang bisa sukses tanpa kesungguhan? Tuhan Yesus-pun fokus mengarahkan pandangan-Nya untuk pergi ke Yerusalem mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan untuk melaksanakan karya keselamatan sesuai kehendak BapaNya. Tidak ada waktu untuk mengurus hal-hal ‘sepele’. Dia hanya menanggapi singkat permintaan orang yang bermaksud pamit-ijin sebelum mengikutiNya: "Biarlah orang mati menguburkan orang mati; tetapi engkau, pergilah dan beritakanlah Kerajaan Allah di mana-mana." Atau "Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh kebelakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.” Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih. Sebab seluruh hukum Taurat tercakup dalam satu firman ini, yaitu: "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!" Tetapi jikalau kamu saling menggigit dan saling menelan, awaslah, supaya jangan kamu saling membinasakan. Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging. Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging – karena keduanya bertentangan – sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki. Akan tetapi jikalau kamu memberi dirimu dipimpin oleh Roh, maka kamu tidak hidup di bawah hukum Taurat. (Gal5:13-18). Walaupun sudah ditebus, tapi godaan si jahat semakin gencar menyerang dengan cara halus dan canggih, berlindung dalam nama Roh kudus bagai srigala berbulu domba serta memiliki kekuatan supra natural yang mampu menyembuhkan penyakit dan memberi kenikmatan dunia. Kita hanya bisa selamat dengan pertolongan Allah! Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah (Maz16:8). Tugas kita adalah berusaha dengan segenap kekuatan yang bisa dilakukan manusia, selebihnya serahkan kepada Allah untuk menentukan hak prerogatifnya.
Kita sering mendengar banyak orang berkata bahwa umat katolik menyembah Bunda María. Ada juga orang yang mungkin tidak mengerti mengapa umat Katolik berdoa di depan patung atau gambar Perawan Maria. Padahal dalam Kitab Suci sudah sangat jelas ada larangan penyembahan selain kepada Allah Yang Esa.
Dalam tulisan ini, saya ingin memberikan pencerahan atas pertanyaan-pertanyaan atau keraguan tentang kebaktian Katolik kepada Maria. Dan bagi umat Katolik, tulisan ini mengajak agar kita semakin semangat untuk mempendalami iman tentang pentingnya peran Bunda Maria di dalam gereja yang satu dan kudus.
Maria Tidak Disembah
Ada perbedaan antara kata menyembah dan memuji. Menyembah merupakan penghormatan yang khidmat dengan sujud dan memuja; memuji adalah suatu perasaan yang lahir atas kekaguman sehingga memberikan sebuah penghargaan dengan cara memuliakan.
Menyembah dalam bahasa latin “Latría” atau dalam bahasa yunani “λατρεια” (latreia) yang berarti penyembahan atau kultus yang harus diberikan hanya kepada Allah karena Ia adalah Tuhan dari segala ciptaan, sumber kebaikan, kebijaksanaan, belaskasih, dan penyelamat kita.
Menyembah Allah berarti memberikan segala penghormatan serta penyerahan diri secara absolut karena kerendahan kita dihadapan keagungan Tuhan.
Umat Katolik hanya menyembah kepada Allah, ini tertera dalam Kitab Suci sebagai kebenaran iman.
Dalam kitab Keluaran 20: 4-5 berbunyi “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu...”
Umat Katolik tidak menyembah Bunda Maria, kepadanya diberikan pujian yang istimewa sebagai tanda hormat kita kepada sang bunda yang telah melahirkan Penebus dunia. Kultus yang diberikan kepada Maria dikenal dengan “hiperdulía”, ini lebih tinggi dari kultus yang diberikan kepada para Santo atau orang kudus yang disebut “dulia”.
Maria Wanita Pilihan
Pujian kepada Maria diberikan karena dia adalah wanita yang dipilih Allah untuk menjadi Bunda Kristus; artinya Maria tidak seperti yang lainnya karena dia menerima berkat dan karunia yang khusus untuk menjadi Bunda dari Allah sendiri.
Coba kita mengenang kembali narasi tentang Maria mengunjungi Elisabet dalam kitab Lukas1: 41-42 “Dan ketika Elisabet mendengar salam Maria, melonjaklah anak yang di dalam rahimnya dan Elisabet pun penuh dengan Roh Kudus, lalu berseru dengan suara nyaring: Diberkatilah engkau di antara semua perempuan dan diberkatilah buah rahimmu”. Dan selanjutnya
Pernyataan Elisabet mengafirmasikan bahwa Maria adalah wanita yang diberkati karena dia dipilih oleh Allah untuk membawa Juruselamat di dalam rahimnya, dan itulah sebabnya kita umat Katolik memanggilnya demikian dari generasi ke generasi.
Oleh karena itu, penghormatan dan pujian yang diberikan umat Katolik kepada Perawan yang Terberkati memiliki dasar alkitabiah yang kuat.
Kepada Maria kita memberikan cinta yang istimewa, meniru teladan hidupnya, menghormatinya dan percaya kepadanya seperti kepercayaan yang diberikan Yesus kepadanya.
Dia adalah makhluk pertama yang sepenuhnya dimuliakan Allah, suatu tanda konkret tentang keselamatan Yesus Kristus dalam kemanusiaan kita. Memuliakan Maria berarti mengakui iman kita dalam penggenapan Paskah Yesus Kristus yang kuat dalam diri kita.
Maria selalu memerhatikan kita, mengasihi kita dengan cinta seorang ibu yang tak ada batas karena Yesus sendiri telah menyerahkan kita kepadanya: Yoh: 19: 26 “ibu inilah anakmu”. Kita pun demikian mengasihi Maria dalam ketaatan kepada Yesus dan kesetiaan kepada Injil: Yoh 19: 27 “inilah ibumu”. Itulah sebabnya dengan penuh percaya diri kita menghadap Maria untuk menyampaikan segala kebutuhan dan percaya dengan perantaraan keibuannya.
Maria Perantara Kepada Kristus
Kita menghormati dan memuliakan Maria karena ia adalah perantara kepada Kristus bagi semua anak yang datang memohon belaskasih Allah. Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa Maria menggantikan posisi Tuhan Yesus sebagai perantara.
Gereja selalu mengajarkan bahwa hanya Kristuslah satu-satunya jalan untuk menuju Bapa, dan hanya melalui Dialah kita didamaikan dengan Allah; ini berarti Yesus adalah satu-satunya mediator Allah dengan Manusia.
Namun ada arti lain dari kata “perantara” yang menjurus pada pemohon bantuan. Contohnya: kita sering kali meminta bantuan para imam atau orang lain agar didoakan.
Dalam konteks ini, mereka pun menjadi perantara namun bukan berarti mengesampingkan peranan Kristus sebagai mediator utama. Jadi dalam hal ini yang ingin disampaikan adalah Maria adalah perantara yang istimewa karena lebih dekat dan bersatu dengan Sabda inkarnasi dan sekaligus menjadi Ibunya.
Kita bisa melihat contoh peran mediasi Maria yang meminta bantuan kepada Yesus dalam narasi Kitab Suci tentang pernikahan di Kana Galilea, injil Yoh 2: 1-11. Intervensi Bunda Maria dalam mukjizat pertama Putranya bukanlah suatu kebetulan. Narasi pernikahan di Kana menyoroti peran kooperatif Maria dalam misi Tuhan Yesus.
Jadi doa dan pujian yang diberikan kepada Bunda Maria bukanlah bentuk penyembahan, melainkan penghormatan dan cinta sebagai Bunda Allah. Tidak diragukan lagi bahwa dia adalah wanita yang paling diberkati dan suci, dan karena alasan itu, Maria pantas untuk dicintai, dihormati, dan diteladani.
Seringkali juga ada suara-suara dari non Katolik mengatakan bahwa kita menyembah Maria ketika melihat kita mempersembahkan bunga, memberi lilin, dan mendupai patung atau gambar Bunda Maria.
Persembahan tersebut sekali lagi bukanlah bentuk penyembahan. Umat katolik tidak menyembah Patung ataupun gambar; sudah sangat jelas tertera dalam kitab Keluaran 20: 4-5.
Kalau kita melihat narasi kitab Bilangan 21:8 “Maka berfirmanlah TUHAN kepada Musa: Buatlah ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup”.
Allah menyuruh Musa membuat patung sebagai simbol keselamatan dari kematian akibat gigitan ular, namun bukan sumber keselamatan atau keselamatan itu sendiri. Karena sesungguhnya keselamatan itu hanya ada pada Yesus Kristus.
Begitu pula dengan patung atau gambar Bunda Maria ataupun para santo, bukan untuk disembah melainkan untuk merangsang iman dan kepercayaan kita. Karena di balik patung atau gambar ada sosok yang menjadi panutan dalam hidup yang telah memberikan kesaksian hidup tentang iman dan kepercayaannya kepada Allah.
Ungkapan Iman Tidak Dibatasi Mata
Perlu diklarifikasi, ketika seorang Katolik berdoa dan di depannya ada sebuah gambar, ia tidak pernah berpikir untuk memohon pada gambar tersebut. Sekali lagi pada gambar tidak; pikiran kita tertuju pada orang yang berada di balik gambar itu.
Kita tidak pernah percaya atau mengajarkan bahwa gambar bisa berbicara, bisa melihat, ataupun berjalan. Bagi kita semuanya itu hanyalah representasi dari Yesus, Maria atau seorang santo santa.
Dan jika kita mencium, memberikan bunga, atau memberi lilin, mendupai, itu hanyalah suatu bentuk untuk mengekspresikan kasih kepada dia yang berada di balik gambar tersebut.
Ini juga sering terjadi dalam kehidupan kita. Jika kita melihat orang yang kita kasihi dalam sebuah foto, kita langsung mengenang sosok dalam foto tersebut, ada sebuah perasaan yang tersirat saat itu, bukan fotonya.
Jadi sekali lagi, gambar atau patung kudus hanyalah sebuah representasi, karena ungkapan iman tidak dibatasi dengan dipandang mata, melainkan lebih jauh dari itu.
Dengan ini saya akhiri, Katekismus Gereja Katolik menjelaskan bahwa ini adalah ibadah yang sama sekali berbeda dari penyembahan: no. 971.
"Sesungguhnya, mulai dari sekarang segala keturunan akan menyebut aku berbahagia" (Luk 1:48). "Penghormatan Gereja untuk Perawan Maria tersuci termasuk dalam inti ibadat Kristen" (MC 56). "Tepatlah bahwa ia dihormati oleh Gereja dengan kebaktian istimewa. Memang sejak zaman kuno santa Perawan dihormati dengan gelar 'Bunda Allah'; dan dalam segala bahaya dan kebutuhan mereka umat beriman sambil berdoa mencari perlindungannya... Kebaktian Umat Allah terhadap Maria... meskipun bersifat istimewa, namun secara hakiki berbeda dengan bakti sembah sujud, yang dipersembahkan kepada Sabda yang menjelma seperti juga kepada Bapa dan Roh Kudus, lagi pula sangat mendukungnya" (LG 66). Ia mendapat ungkapannya dalam pesta-pesta liturgi yang dikhususkan untuk Bunda Allah (Bdk. SC 103). Dan dalam doa marian - seperti doa rosario, yang merupakan "ringkasan seluruh Injil" (Bdk. MC 42)..”.
Ave Maria. Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria memberkati. ( Patrisius Frans Maria Bora. OSM)