PEMUNGUT CUKAI – SI ORANG BARU

Bacaan I: 1 Sam. 26:2.7-9.12-13.22-23; Bacaan II: 1 Kor. 15:45-49; Bacaan Injil: Luk.6:27-38.
PEMUNGUT CUKAI – SI ORANG BARU
Pada zaman Romawi Kuno, pemungut cukai bukanlah pegawai negeri, melainkan kontraktor proyek pemerintah. Mereka dipilih berdasarkan tender, untuk menarik pajak dari daerah yang ditentukan. Pemenang tender adalah mereka yang berjanji akan memberikan setoran pajak paling tinggi. Pemenang tender akan berjuang keras untuk memungut pajak sebanyak mungkin. Sebagian akan disetorkan pada pemerintah, dan kelebihannya akan menjadi miliknya. Itu sah secara hukum.
Masalahnya, kebanyakan mereka semena-mena menetapkan tarif pajak, demi mengejar keuntungan tadi. Karena itulah para pemungut cukai umumnya kaya raya. Mereka ditakuti sekaligus dibenci, termasuk oleh orang Yahudi, yang menganggap mereka pendosa. Pada zaman Yesus, Israel adalah wilayah jajahan Romawi, sehingga perpajakannya mengikuti sistem Romawi.
Salah satu pemungut cukai itu bernama Lewi (bahasa Ibrani), yang dalam bahasa Yunani disebut Mateus. Injil hari ini bercerita tentang panggilan atas Lewi (yang di kemudian hari menjadi penulis Injil Mateus). Inilah konteks yang membuat para Ahli Kitab dan orang Farisi murka. Bagi mereka sistem seleksi murid Yesus sungguh absurd. Pada bagian sebelumnya Yesus memilih para nelayan (Petrus, Yakobus, dan Yohanes) – sosok yang sama sekali tidak diperhitungkan dalam tradisi religius Yahudi. Dan hari ini Yesus memilih pemungut cukai, yang bagi mereka bukan hanya tidak diperhitungkan, tetapi juga dibenci. Pada konteks itulah mereka protes, kok perilaku murid Yesus berbeda dengan murid Yohanes dan murid orang Farisi.
Dalam konteks itulah perumpamaan hari ini bisa dipahami. Ajaran baru (baju dan anggur baru) jangan diberikan pada mereka yang memegang tradisi lama (baju dan tempat anggur lama). Jika ajaran baru diberikan pada mereka yang memegang tradisi lama, ajaran itu bisa rusak. Sebaliknya jika ajaran lama (puasa) diberikan pada orang baru (murid), orang baru itu bisa rusak. Ajaran baru harus diberikan pada orang baru.
Jelas bahwa kebaruan yang dibawa Yesus adalah yang kebaruan yang diberikan pada kita. Pertanyaannya, apakah kita memang orang baru yang fit dengan ajaran baru itu, atau kita adalah orang lama? (her)




