
Bacaan I: Yer. 1:4-5,17-19; Bacaan II: 1 Kor. 12:31-13:13(13:4-13); Bacaan Injil: Luk.4:21-30.
MENJADI NABI BARU
Beberapa waktu yang lalu banyak dari kita yang terhipnotis oleh seorang tokoh. Kita mengaguminya sebagai orang hebat. Ketika dia masuk penjara pun kita membelanya. Kita mengatakan pengadilanlah yang salah; tokoh kita tidak salah. Belakangan persepsi sebagian dari kita berubah. Tokoh kita ternyata bukan nabi. Dia pendosa, yang layak menerima hujatan bersama.
Drama pendek bacaan injil memperlihatkan dinamika yang sama. Tiba-tiba Yesus mulai mengajar, dan orang-orang Yahudi merasa takjub. Sebelumnya mereka sudah mendengar, bahkan melihat Yesus yang mengagumkan. Dan hari ini ketakjuban mereka memuncak. Cuma anak Yusuf si tukang kayu, kok mengajar sehebat itu? Tetapi ketika menit berganti, kekaguman mereka lenyap seketika. Digantikan amarah yang luar biasa. Mengapa? Karena di ujung pengajaran Yesus berkata, bahwa sama seperti Elia dan Elisa, Yesus diutus bukan untuk orang-orang Yahudi.
Orang Yahudi marah karena merasa istimewa di hadapan Tuhan. Mereka merasa berhak atas berkat, atas pemimpin, bahkan atas nabi yang diutus Allah. Karena sudah 1000 kali mendapat berkat, 1000 kali mendapat keistimewaan, mereka merasa berhak untuk menerima yang ke 1001 dan seterusnya. Maka ketika Yesus tampil tidak seperti yang mereka bayangkan dan mereka harapkan, marahlah mereka.
Sementara itu bagi Yesus (juga Elia dan Elisa), diterima atau tidak diterima sama sekali tidak menjadi soal. Justru Yesus mengingatkan, Beliau tidak diutus ke tengah keluarga atau komunitasnya. Yesus justru diutus ke tengah keluarga, komunitas, atau bahkan bangsa lain. Artinya keliru besar membayangkan perutusan ke tempat yang hangat dan nyaman. Kenabian adalah perutusan ke tempat asing yang tidak hangat, tidak nyaman.
Konsili Vatikan II, melalui dokumen Lumen Gentium (LG12) mengatakan bahwa “Umat Allah mengambil bagian dalam tugas kenabian Kristus.” Caranya? “Dengan menyebarkan kesaksian hidup tentang-Nya, terutama melalui hidup iman dan cintakasih.” Di sinilah bacaan kedua, surat Rasul Paulus menjadi relevan. Tugas kenabian kita bukan pertama-tama untuk mengajar, tetapi untuk menyampaikan dan membagikan kasih… “yang sabar, yang murah hati, tidak cemburu, tidak mencari keuntungan diri.” (her)




