Ada apa dibalik kekayaan ?

Bacaan I. Bil. 11:25-29; Bacaan II.Yak. 5:1-6; Bacaan Injil.Mrk. 9:38-43,45,47-48.
Ada apa dibalik kekayaan ?
Membaca teguran Yesus melalui Yakobus kepada orang kaya, seperti ada paradoks dalam kehidupan kita. Apa salahnya menjadi orang kaya, karena dengan kaya kita tidak menyusahkan orang lain dan bisa membantu orang lain.
Sebenarnya konteks dan kondisi sosial apa yang dibahas oleh Yakobus?
Pada jaman itu, Yakobus menegur para tuan tanah yang serakah, di mana mereka menguasai tanah dan mempekerjakan orang di tanah tersebut dengan upah yang tidak adil.
Dalam surat Yakobus, "kerja" tidak saja mengandung arti harafiah: ekonomis, tetapi juga arti rohani: yakni cara tertentu orang memperlakukan harta, dalam hal ini mengambil dan memanfaatkan harta orang lain tidak secara adil. Seperti misalnya orang kaya menambah hartanya dari upah buruh yang dia tahan, ini tentunya adalah perbuatan yang salah!
Setiap majikan mempunyai tanggung jawab di hadapan Allah untuk menggaji para pekerjanya secara layak, bukan mengejar keuntungan diri sendiri semata sampai menggelapkan hak para pekerja. Kita tidak boleh lupa bahwa Tuhan memperhatikan setiap orang yang tertindas dan mendengarkan teriakan mereka!
Yakobus juga memperingatkan orang kaya untuk tidak menimbun kekayaan. Ada sekali waktu Yesus mengajar orang untuk mendapatkan harta di surga dengan memberi bantuan kepada orang miskin. Namun ada orang yang menimbun kekayaan namun tidak membantu si miskin , hal demikian disebut tamak.
Ada dua kesalahan yang terkait dengan ketamakan. Pertama, orang hanya memperhatikan yang fana dan mengabaikan yang kekal. Kedua, ketamakan membuat orang mengambil hak orang-orang yang dan efeknya melakukan penindasan.
Rupanya di balik kekayaan ada menguntit dosa, jadi seruan peringatan Yakobus masih ada relevansi dalam kondisi kehidupan sekarang, kita tetap dituntut untuk bersikap arif pada kepemilikan harta, dan perlu menaruh empati terhadap orang papa di sekitar kita. Bukan hanya sekedar empati akan tetapi kita wajib mengukur apakah kita yang sudah beroleh kesejahteraan dan kekayaan sudah membantu orang-orang di sekitar kita? (IR)




