HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS

Bacaan I:Ul. 4:32-34;39-40; Bacaan II:Rm. 8:14-17; Bacaan Injil: Mat. 28:16-20.
HARI RAYA TUBUH DAN DARAH KRISTUS
Hari ini Gereja merayakan peristiwa iman yang amat penting, Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus. Bacaan Injil Markus 14:12-16, 22-26 (yang diperkirakan ditulis tahun 64-70 M) ini berkisah tentang Jamuan Paskah Kristus. Kisah ini tak bisa dilepaskan dari tradisi Yahudi yakni perayaan Penyembelihan Domba Paskah dan hari raya Roti Tidak Beragi. Dalam tradisi Yahudi, ragi menjadi simbol ketidakmurnian, sesuatu yang buruk sehingga harus dibuang. Kisah tentang 'Yesus bersantap Paskah bersama para murid-Nya' ini juga diceritakan oleh Matius [26:17-25], Lukas [22:7-14], dan Yohanes [13:21-30]. Jadi betapa pentingnya peristiwa iman ini.
Pesan apa yang ingin disampaikan Markus dalam kisah 'Yesus makan Paskah bersama para rasul-Nya' ini?
Injil Markus dikenal paling ringkas dalam berkisah. Markus memperkenalkan pengajaran Yesus dari perbuatan-Nya. Perjamuan Paskah yang dilakukan Yesus bersama para rasul memperlihatkan aspek pelayanan dan pengabdian sebagai Mesias. Yesus diperkenalkan sebagai seseorang yang menyelamatkan kehidupan melalui kematian yang dialami-Nya. Dalam kisah itu Markus juga ingin memperkenalkan Yesus sebagai Mesias yang tunduk pada perintah Bapa, mengalami penderitaan, hingga wafat di kayu salib, dan kemudian bangkit dari kematian-Nya. Lewat peristiwa 'Perjamuan Paskah' inilah Yesus ingin mengajarkan kepada para murid, bahwa jika ingin menjadi pengikut-Nya mereka harus mau memanfaatkan setiap kesempatan sebagai aksi pelayanan dalam kasih.
Apa relevansinya bagi kehidupan kita?
Di Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus biasanya Gereja juga menggelar kegiatan penerimaan komuni pertama bagi anak-anak yang sudah menjadi tradisi. Penerimaan komuni pertama berupa hosti dan anggur merupakan simbol penerimaan Tubuh dan Darah Kristus di dalam tubuh kita. Jadi ada Spirit Kristus dengan segala roh pelayanan, pembebasan, pengorbanan, dan kasih-Nya menyatu di dalam badan dan jiwa kita. Itulah yang harus selalu kita sadari setiap kita menerima komuni. Suatu konsekuensi tanggung jawab moral dan spiritual sebagai pengikut Yesus Kristus yang juga harus kita bagikan kepada sesama. (VH)




