
Bacaan I: Yeh. 17:22-24; Bacaan II: 2Kor. 5:6-10; Bacaan Injil: Mrk. 4:26-34.
KERAJAAN ALLAH DAN PERUMPAMAAN BENIH
Yesus berbicara tentang Kerajaan Allah. Suatu realitas yang tak mudah untuk dipahami. Penjelasan tentang Kerajaan Allah itu dinarasikan dalam perumpamaan tentang benih. Istilah Kerajaaan Allah sendiri kerap ditemukan dalam Injil Markus dan Lukas. Ada dua perumpamaan dalam Injil Markus ini. Pertama: "Kerajaan Allah seumpama orang yang menaburkan benih di tanah...." [4:26- 29]. Kedua: “Hal Kerajaan itu seumpama biji sesawi yang ditaburkan di tanah...” [Mrk 4:30-33].
Perumpamaan Yesus yang pertama, hanya ada di Injil Markus. Makna Kerajaan Allah ini bernilai kebesaran, kemuliaan, dan kekuasaan Tuhan. Penekanan perumpamaan ini ada pada aspek kuasa Ilahi yang bekerja secara menakjubkan dan tidak bergantung pada upaya manusia. Kehadiran dan campur tangan misteri Allah sendirilah yang menggerakkan hati hingga bertumbuh kembangnya iman.
Dalam perumpamaan kedua, Yesus menggambarkan Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi, yang bila ditaburkan di tanah yang cocok maka akan bertumbuh menjadi besar [4:30-34]. Biji sesawi adalah biji yang sangat kecil dan terkenal di tanah Palestina (Ensiklopedi Perjanjian Baru - Xavier Leon-Dufour SJ). Tanaman sesawi (Ynkokkos sinapeos) yang banyak ditemukan di sekitar Laut Genesaret bisa menjulang tinggi hingga 4 meter.
Bagaimana memahami kedua perumpamaan yang sekilas amat mirip ini? Dalam perumpamaan tentang Kerajaan Allah terkandung ajakan untuk membiarkan bibit itu bertumbuh seturut daya Ilahi. Agar biji dapat bertumbuh kembang semestinya, lahan tanah harus dijaga, disiangi dan terus dipupuk. Proses tumbuh kembang secara internal biji itu hingga menjadi tumbuhan dan akhirnya berbuah lebat, tetaplah menjadi rahasia Ilahi. Ketika kita memahami makna dari perumpamaan ini maka kita akan menjadikannya sebagai bagian dari pengajaran yang dapat menumbuhkembangkan rasa percaya kepada daya keilahian itu sendiri.
Yesus pun dalam menghadirkan Kerajaan Allah di dalam diri kita masing-masing seperti sebaran benih sesawi. Dalam kehidupan nyata ketika benih-benih iman dijaga, disiram, dan dipupuk dengan baik maka ia akan bertumbuhkembang secara baik pula, meneduhkan, serta berguna bagi banyak orang. (VH)




