
Bacaan I : Kej. 3:9-15; Bacaan II : 2Kor. 4:13-5:1; Bacaan Injil : Mrk. 3:20-35.
SIAPAKAH SAUDARA-KU ?? SIAPAKAH IBU-KU ??
Bacaan Injil pada Minggu Biasa X ini amat luar biasa. Injil Markus 3:20-35 bukan hanya ingin mempertunjukkan siapa Yesus dan betapa terkenalnya Dia hingga para ahli Taurat dari Jerusalem mau datang secara khusus ingin melihat Dia. Namun juga ada sepenggal pertanyaan Yesus yang sangat penting dan mendasar: "Siapakah ibu-Ku? Siapakah saudara-saudara-Ku?" [3:33].
Pada waktu itu, pastilah Yesus seorang superstar yang amat dikenal publik. Ke mana pun Dia berada, orang-orang selalu datang berkerumun mengikuti Dia. Tentu dengan berbagai kepentingan. Ada yang sekadar ingin melihat Yesus sebagai sosok pesohor muda yang sedang bersinar. Ada yang berharap ingin melihat mukjizat. Ada yang ingin mendengar khotbah-Nya yang lugas tajam. Tentu juga ada yang ingin disembuhkan. Bahkan yang sekadar hadir ingin 'mengintip' apa yang dikhotbahkan Yesus pun ada. Merekalah para ahli Taurat. Tak main-main, mereka datang dari kota besar Jerusalem [3:22]. Semua berbaur menjadi satu dalam kerumunan.
Apa pesan yang ingin disampaikan Yesus dengan pertanyaan: "Siapakah saudara-saudara-Ku? dan Siapakah Ibu-Ku? lalu dilanjutkan dengan: "Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku [3:35].
Pastilah Yesus tidak bermaksud untuk meremehkan saudara- saudara-Nya apalagi sang ibunda tercinta Maria. 'Keluarga rohani' itulah yang ingin ditekankan Yesus. Keluarga rohani adalah kita semua yang telah disatukan oleh pembaptisan atas nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus tanpa membeda-bedakan umur, jenis kelamin, kaya-miskin, etnik, warna kulit, dan kebangsaan. Melalui Roh Kudus-Nya, Allah memberikan segala karunia-Nya untuk saling melayani dan mengasihi serta membawa jiwa-jiwa kepada-Nya.
Santo Fransiskus Asisi mengatakan kita menjadi ibu (Yesus) jika kita mengandung Dia di dalam hati dan tubuh kita karena kasih dan karena suara hati yang jernih murni. Kita melahirkan Yesus lewat karya suci yang bercahaya bagi orang lain. Kita semua seharusnya juga meneladani Bunda Maria dengan berdoa dalam embusan setiap nafas: "Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan, jadilah padaku seturut perkataan-Mu." (VH)




