Renungan WM 31 / 05 Agustus 2018

Bacaan I: Kel. 16:2-4,12-15; Bacaan II: Ef. 4:17.20-24; Bacaan Injil: Yoh. 6:24-35.
JUDUL
“Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Yoh 6:28-29
Bagaimanakah caranya percaya kepada Yesus? Seringkali kata ‘percaya’ yang kita gunakan adalah kata percaya yang berupa tindakan pikiran, dimana kita percaya kepada sesuatu atau seseorang berdasarkan bukti-bukti yang kita lihat. Akan tetapi jenis kepercayaan ini mempunyai kelemahan-kelemahan, misalnya kita melihat seseorang memakai jas putih dan memegang stetoskop, kita akan menduga dia adalah seorang dokter walaupun belum tentu demikian.
Itulah sebabnya kepercayaan atau keimanan kita akan mudah goyah saat bukti-bukti kemahakuasaan Allah kurang kita rasakan. Demikian pula terjadi pada orang banyak yang mengikuti Yesus pada dialog Injil hari ini, karena pertama mereka mencari Yesus sebab menginginkan roti yang diperbanyak Yesus, dan kedua mereka bertanya: “Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu?” (30) mereka ingin percaya, tetapi mereka meminta tanda-tanda. Hal yang sama terjadi pada orang Israel yang mengikuti Musa pada bacaan pertama, mereka bersungut-sungut karena mereka kelaparan dan menderita di padang gurun. Betul memang setelah itu mereka mendapatkan manna dan burung puyuh dari Tuhan, akan tetapi yang mereka dapatkan bukanlah anugerah, melainkan cobaan “supaya mereka Kucoba…”, karena bukan itulah kepercayaan yang diinginkan Tuhan dari umat-Nya.
Jadi seperti apakah kepercayaan yang diinginkan Tuhan dari umat-Nya? Paulus memberikan petunjuk pada bacaan kedua: “yaitu bahwa kamu… harus menanggalkan manusia lama… supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru Ef 4:22- 24. Umat Tuhan yang sejati adalah umat yang menanggalkan pola pikir lamanya, dan menjadi manusia baru, yaitu yang merasakan dirinya adalah bagian dari umat Tuhan yaitu Tubuh Kristus (Gereja), yang selalu dikuatkan dengan menerima Tubuh Kristus setiap kali, dan memiliki hati, yaitu kepedulian, keinginan dan kasih yang dimiliki Yesus kepada sesama.




