
Bacaan I: Yes. 49:1-6; Bacaan II:Kis. 13:22-26; Bacaan Injil: Luk. 1:57-66,80.
Meneladani Yohanes Pembaptis
Hari ini Gereja merayakan Kelahiran Yohanes Pembaptis. Seperti diceritakan dalam Injil Lukas 1:57-66,80 bahwa Yohanes adalah anak Zakharia dan Elisabet. Lukas menuliskannya sangat lengkap. Kisah hidup Yohanes Pembaptis dipenuhi dengan drama, bahkan sejak masih di dalam kandungan [Luk.1:39-45].
Kemudian saat pemberian nama ketika dia lahir yang diwarnai dengan munculnya nubuat kidung sang ayah Zakharia yang terkenal itu [Luk.1:68-79]. Sosok Yohanes Pembaptis ditampilkan lagi ketika sudah dewasa saat berseru-seru di padang gurun mempersiapkan jalan Tuhan [Luk.3:3-6]. Seorang ahli sejarah Yahudi menyebut tahun 27-28 ketika itu. Kisah hidup Yohanes berakhir tragis. Penguasa saat itu Herodes Antipas memenggal kepala Yohanes. Yohanes hanya sempat tampil di depan khalayak sekitar 2 tahun. Yohanes Pembaptis yang bicaranya lantang dan lugas punya banyak pengikut. Kemunculannya dikira sebagai mesias yang ditunggu publik. Paling sedikit ada dua peranan amat penting dari sosok Yohanes Pembaptis.
Pertama sebagai nabi yang mempersiapkan, menyeru dan meluruskan jalan untuk Tuhan [Kis 13:24-25]. Yohanes Pembaptis inilah yang disebut sebagai 'nabi peralihan' antara era Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Kedua sebagai pembaharu baptis sebagai syarat pertobatan individu yang mempertegas hakikat penyucian eskatologis [Luk.3:16-17]. "Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia yang lebih berkuasa dari padaku akan datang dan membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan api. Alat penampi sudah di tangan-Nya untuk membersihkan tempat pengirikan-Nya dan untuk mengumpulkan gandum-Nya ke dalam lumbung-Nya, tetapi debu jerami itu akan dibakar-Nya dalam api yang tidak terpadamkan." Apa yang bisa kita teladani dari Yohanes Pembaptis untuk jaman ini? Ketegasan terhadap godaan duniawi seperti pujian, ketenaran, dan harta benda. Konsistensi Yohanes Pembaptis untuk melayani dan mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Yang tak kalah penting bagi kehidupan kita sebagai orang Katolik adalah kerendahan hati. Seperti dikatakan Yohanes Pembaptis sendiri [Yoh.3:30]: "Ia (Yesus) harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (VH)




