#1. Pada suatu hari ada upacara tunangan. Acara disempurnakan dengan perayaan ekaristi, dan tentu saja makan malam bersama. Usai misa, pihak keluarga meminta ketua lingkungan memimpin doa makan. #2. Setelah doa makan selesai, Pastor yang tadi memimpin ekaristi langsung memberikan interupsi. “Doa makannya kita ulangi.” Tentu saja ini mengejutkan semua yang hadir. #3. “Ini doa makan yang banyak digunakan, tetapi tahukah kita bahwa ini cara kita lari dari tanggung jawab sebagai orang kristen?” Yang dimaksud oleh sang pastor adalah kalimat “berilah makanan bagi saudara-saudara kami yang tidak memilikinya.” Beliau menambahkan, “Kita punya makanan. Tuhan meminta kita berbagi dan kita bisa berbagi. Kok malah kita minta Tuhan yang harus memberikan makanan?” #4. Tambah sang pastor, “Sengaja saya sampaikan ini agar kita, terutama yang baru bertunangan, tidak pernah melupakan tanggung jawab iman ini.” #5. Tuhan meminta kita memastikan tidak ada orang di sekitar kita, yang di depan mata kita, yang kelaparan. Ketika ribuan orang di sekitar-Nya lapar, Yesus tidak berdoa supaya Bapa menurunkan mukjizat. Yesus bertanya pada Filipus, di mana bisa membeli makanan. Artinya para muridlah (kita) yang harus menyediakan makanan. Bahkan ketika makanan itu hanya sedikit dan mestinya menjadi “hak anak kecil”, bagikan saja. #6. Apakah yang sedikit itu akan cukup? Pertanyaan ini juga disampaikan murid Elisa (bacaan 1) yang diminta menyajikan 20 roti untuk 100 orang. #7. Kedua bacaan hendak mengatakan, cukup tidak cukup bukan urusan kita. Yang harus menjadi urusan kita adalah keberanian untuk berbagi, betapa pun sedikitnya yang kita punya. #8. Kedua bacaan bercerita bahwa pada akhirnya mukjizat terjadi. Tuhan mencukupkan makanan untuk orang banyak itu, bahkan hingga banyak sisa. Apakah itu adalah jaminan? Kalau kita sudah memberi maka Tuhan akan mencukupkan? Apakah Tuhan lantas akan membuat mukjizat? #9. Kembali sang pastor berkata, “Nah, kita boleh berdoa supaya terjadi mukjizat, tetapi setelah kita mau dan terlebih dulu menjadi mukjizat bagi sesama.” (her)
#1. Pada suatu hari ada upacara tunangan. Acara disempurnakan dengan perayaan ekaristi, dan tentu saja makan malam bersama. Usai misa, pihak keluarga meminta ketua lingkungan memimpin doa makan. #2. Setelah doa makan selesai, Pastor yang tadi memimpin ekaristi langsung memberikan interupsi. “Doa makannya kita ulangi.” Tentu saja ini mengejutkan semua yang hadir. #3. “Ini doa makan yang banyak digunakan, tetapi tahukah kita bahwa ini cara kita lari dari tanggung jawab sebagai orang kristen?” Yang dimaksud oleh sang pastor adalah kalimat “berilah makanan bagi saudara-saudara kami yang tidak memilikinya.” Beliau menambahkan, “Kita punya makanan. Tuhan meminta kita berbagi dan kita bisa berbagi. Kok malah kita minta Tuhan yang harus memberikan makanan?” #4. Tambah sang pastor, “Sengaja saya sampaikan ini agar kita, terutama yang baru bertunangan, tidak pernah melupakan tanggung jawab iman ini.” #5. Tuhan meminta kita memastikan tidak ada orang di sekitar kita, yang di depan mata kita, yang kelaparan. Ketika ribuan orang di sekitar-Nya lapar, Yesus tidak berdoa supaya Bapa menurunkan mukjizat. Yesus bertanya pada Filipus, di mana bisa membeli makanan. Artinya para muridlah (kita) yang harus menyediakan makanan. Bahkan ketika makanan itu hanya sedikit dan mestinya menjadi “hak anak kecil”, bagikan saja. #6. Apakah yang sedikit itu akan cukup? Pertanyaan ini juga disampaikan murid Elisa (bacaan 1) yang diminta menyajikan 20 roti untuk 100 orang. #7. Kedua bacaan hendak mengatakan, cukup tidak cukup bukan urusan kita. Yang harus menjadi urusan kita adalah keberanian untuk berbagi, betapa pun sedikitnya yang kita punya. #8. Kedua bacaan bercerita bahwa pada akhirnya mukjizat terjadi. Tuhan mencukupkan makanan untuk orang banyak itu, bahkan hingga banyak sisa. Apakah itu adalah jaminan? Kalau kita sudah memberi maka Tuhan akan mencukupkan? Apakah Tuhan lantas akan membuat mukjizat? #9. Kembali sang pastor berkata, “Nah, kita boleh berdoa supaya terjadi mukjizat, tetapi setelah kita mau dan terlebih dulu menjadi mukjizat bagi sesama.” (her)
#1. Adalah seorang ibu yang sedang kalang kabut karena suaminya memiliki wanita idaman lain. Lebih dari itu, sang suami mengancam akan menceraikan ibu itu. Di tengah kepanikan, si ibu menelepon romo, minta waktu untuk berbicara. Si romo sibuk, menjanjikan pekan depan. Romo lain menolak karena “bukan wilayah tanggung jawabnya.” Pendek kata si ibu tidak bisa berkonsultasi dengan semua romo di parokinya. Juga dengan dua romo di paroki lain yang diteleponnya.
#2. Akhirnya romo keenam menjawab, “Baik, Ibu… mau berkonsultasi lewat telepon, atau bertemu.” Kalau mau via telepon, romo itu siap saat itu juga. Tapi akhirnya si ibu memilih bertemu, walaupun jauh, malam itu juga. Perceraian akhirnya memang tak terhindarkan, “Tetapi karena romo itu minimal saya tidak bunuh diri.”
#3. Dalam injil hari ini dikisahkan para murid kembali kepada Yesus dari tugas pelayanan, untuk melapor. Lantas Yesus bermaksud mengajak murid-muridnya untuk menyepi. Semacam retret, merenungkan karya mereka. Tetapi rencana mereka “terganggu” oleh banyak orang yang mencegat. Jelas Yesus melihat, orang banyak itu memerlukan Yesus dan para muridnya. Dan satu frasa muncul, “Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.”
#4. Bacaan hari ini memang berbicara soal kegembalaan. Bacaan pertama bercerita tentang gembala yang tidak baik. Mereka dikutuk, karena membiarkan kambing domba “gembalaan-Ku” terserak. Sementara bacaan injil menyajikan ekstrim yang lain, yakni gambaran tentang gembala yang baik. Jika kita definisikan ulang, gembala baik menurut Markus adalah mereka yang karena tergerak oleh belas kasihan lantas bergerak melakukan sesuatu.
#5. Tugas untuk menjadi gembala yang baik, sebagaimana didengungkan oleh Keuskupan Agung Jakarta dalam beberapa tahun terakhir, bukanlah tugas eksklusif bagi para imam. Ini adalah tugas dan perutusan bagi semua pengikut Kristus. Kita semua diharapkan memiiki kepekaan terhadap persoalan-persoalan yang ada di sekitar. Tanpa kepekaan, hampir mustahil untuk “tergerak hatinya”, oleh persoalan yang dihadapi saudaranya. Bahkan ketika saudara itu sudah mengetuk pintu dan berteriak minta tolong sekalipun. (her).
#1. Adalah seorang ibu yang sedang kalang kabut karena suaminya memiliki wanita idaman lain. Lebih dari itu, sang suami mengancam akan menceraikan ibu itu. Di tengah kepanikan, si ibu menelepon romo, minta waktu untuk berbicara. Si romo sibuk, menjanjikan pekan depan. Romo lain menolak karena “bukan wilayah tanggung jawabnya.” Pendek kata si ibu tidak bisa berkonsultasi dengan semua romo di parokinya. Juga dengan dua romo di paroki lain yang diteleponnya.
#2. Akhirnya romo keenam menjawab, “Baik, Ibu… mau berkonsultasi lewat telepon, atau bertemu.” Kalau mau via telepon, romo itu siap saat itu juga. Tapi akhirnya si ibu memilih bertemu, walaupun jauh, malam itu juga. Perceraian akhirnya memang tak terhindarkan, “Tetapi karena romo itu minimal saya tidak bunuh diri.”
#3. Dalam injil hari ini dikisahkan para murid kembali kepada Yesus dari tugas pelayanan, untuk melapor. Lantas Yesus bermaksud mengajak murid-muridnya untuk menyepi. Semacam retret, merenungkan karya mereka. Tetapi rencana mereka “terganggu” oleh banyak orang yang mencegat. Jelas Yesus melihat, orang banyak itu memerlukan Yesus dan para muridnya. Dan satu frasa muncul, “Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala.”
#4. Bacaan hari ini memang berbicara soal kegembalaan. Bacaan pertama bercerita tentang gembala yang tidak baik. Mereka dikutuk, karena membiarkan kambing domba “gembalaan-Ku” terserak. Sementara bacaan injil menyajikan ekstrim yang lain, yakni gambaran tentang gembala yang baik. Jika kita definisikan ulang, gembala baik menurut Markus adalah mereka yang karena tergerak oleh belas kasihan lantas bergerak melakukan sesuatu.
#5. Tugas untuk menjadi gembala yang baik, sebagaimana didengungkan oleh Keuskupan Agung Jakarta dalam beberapa tahun terakhir, bukanlah tugas eksklusif bagi para imam. Ini adalah tugas dan perutusan bagi semua pengikut Kristus. Kita semua diharapkan memiiki kepekaan terhadap persoalan-persoalan yang ada di sekitar. Tanpa kepekaan, hampir mustahil untuk “tergerak hatinya”, oleh persoalan yang dihadapi saudaranya. Bahkan ketika saudara itu sudah mengetuk pintu dan berteriak minta tolong sekalipun. (her).
Surat Keluarga Juli 2018 IMAN MEMBUAT KITA TIDAK SALAH FOKUS
Keluarga-keluarga Katolik yang terkasih, senang sekali bisa menjumpai Anda semua dalam situasi yang baik. Semoga liburan Anda bersama keluarga berjalan baik dan menyenangkan! Saya selalu ikut bergembira bersama keluarga yang dapat menikma saat berkualitasnya bersama anak-anak dan pasangan. Semoga Tuhan selalu memberikan kesempatan kepada Anda sekeluarg untuk itu.
Kekuatan keluarga adalah dari kebersamaannya. Ayah, Ibu, anak-anak, yang berkumpul untuk sekedar membagikan pengalaman, membagikan kegembiraan. Pertemuan ini tak tergan kan oleh apapun juga di dunia ini. Pelukan, ciuman, usapan yang sederhana dari ayah dan ibu, tak tergan kan oleh godaan lain di dunia ini. Semua yang berasal dari keluarga in adalah kenangan yang tak lekang oleh waktu, akan selalu diingat dan menguatkan.
Memori dibangun dari interaksi di dalam keluarga secara sangat sederhana namun berkekuatan luar biasa. Pasangan yang ru n menerima pelukan, ciuman, atau sekedar gandengan tangan, merasa dicintai lebih dari mereka yang berlimpah harta. Sebab makanan dan pakaian se ap manusia hanyalah apa yang mampu ditelan dan dipakainya, tetapi memori akan sentuhan dan kedekatan fisik akan disimpan sebagai deposito kekuatan rohani yang jauh lebih abadi dan meyakinkan.
Saya melihat begitu sederhananya kekuatan yang dikumpulkan keluarga. Betapa sangat murahnya! Tuhan dak membuat harta berlimpah itu menjadi mahal. Tanpa bayar seluruh anggota keluarga mendapat kelimpahan itu. Sesuatu yang berasal dari Tuhan selain berlimpah, juga gra s. Air Susu Ibu (ASI), perha an orangtua, tawa anak-anak, pelukan ayah dan ibu, masakan yang dibuat ibu, guncangan mesra tangan ayah pada anak-anak, rasanya itu menjadi tangan Allah yang sedang memanjakan kita.
Tetapi kerancuan fokus kita bisa membuat kita jadi sangat jauh dari kekayaan seja itu. Kita bisa “salah fokus”dan bahkan mencari sesuatu yang sama sekali tak membawa kebahagiaan seja dari keluarga kita. Ayah mencari kepuasan dengan kerja dan persahabatan tak sehat, ibu jadi sangat ak f di bidang sosial yang tak kunjung berhen . Anak-anak lebih suka dengan gadget dan teman-teman sekolahnya saja. Semua jadi salah fokus dan akhirnya tak bahagia.
Keluarga-keluarga terkasih, sangat sulit mengurai masalah yang sudah lama berlangsung. Satu-persatu diurai dan diperbaiki dan luka sudah menetap. Tuhan lah yang dapat membantu. Akhirnya hidup doa dan spiritualitas lah yang dapat meredakan semua itu dan mengembalikan fokus keluarga.
2 Timotius 1:7 mengatakan, "Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan keter ban.“ Mari kita renungkan bersama makna ayat ini untuk keluarga kita masing-masing. Ada begitu banyak kekuatan yang dapat kita peroleh dari Allah. Bahkan kekuatan untuk melanjutkan hidup berkeluarga kita yang kadang dak mudah dijalani.
Dekat dengan Allah itu keuntungan. Kita dak mempunyai kekuatan untuk menjalani hidup dak hanya dengan pikiran dan akal, tetapi dengan iman, yang hidup, yang mampu mengatasi kesulitan dengan kekuatan dan krea vitas tanpa batas. Allah memberi inspirasi, “insight” (yang baru dan belum pernah terpikirkan) agar kita dapat menghadapi dunia dengan berani dan dak merasa takut.
Iman membuat kita dak salah fokus dan menger makna terdalam dari semua yang terjadi dalam keluarga kita. Ke ka iman menjadi perbuatan (Yak.2:22, “Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.”) maka kita bukan hanya membuat Allah menjadi berdaya, menjadi tampak, dan menjadi berkuasa, tetapi juga memberi kesaksian pada dunia bahwa Ia sungguh ada dan turut serta dalam pergumulan kita. Salah fokus terjadi pada orang-orang yang hidupnya dak diatur oleh hukum kasih (hukum Allah).
Dekat dengan Allah dalam iman yang sehat membuat kita disiplin menjalankan hidup yang satu-satunya ini. Disiplin menjalankan peran sebagai suami, isteri, ayah, ibu, anak, mertua, menantu, pemipin jemaat, dan sebagai anak-anak Allah yang diterangi firman. Disiplin dak menjauhkan kita dari kegembiraan, melainkan menyempurnakan kegembiraan itu dengan kesadaran bahwa dunia ini memerlukan Allah dan peraturan-Nya. Peraturan Allah bukan beban, tetapi justru membawa kelegaan, meskipun dak selalu ringan. Ketangguhan, ketulusan, cinta, kejujuran, penguasaan diri, kebijaksanaan, pelayanan, kese aan, ketekunan, bertanggung jawab, adalah beberapa yang akan lebih mudah dijalankan jika iman kepada Allah dihidupkan dan dijadikan pegangan hidup yang Kuat di rumah. Saya terus berharap agar banyak keluarga dak kehilangan semangat untuk mencintai Allah dan mencintai keluarganya. Jangan mudah menyerah, berilah waktu Tuhan, agar banyak orang diselamatkan. Dunia kadang mengerikan, tetapi Allah tetap berkuasa atas semua ini. Dia akan menjadikan segala sesuatu indah pada waktunya. Amin