
Bacaan I: Keb. 1:13-15;2:23-24; Bacaan II: 2Kor. 8:7,9,13-15; Bacaan Injil: Mrk. 5:21-43.
MELAWAN BUDAYA KEMATIAN
Para penggemar National Geographic pasti pernah melihat tayangan tentang dunia binatang di alam liar. Termasuk tayangan bagaimana sekelompok predator berburu mangsa. Kedua pihak berjuang. Yang satu berburu. Yang lain menghindar atau melawan. Kedua pihak berjuang sepenuh tenaga demi mempertahankan dan melanjutkan hidup. Berkeringat dan bahkan berdarah untuk mempertahankan dan melanjutkan hidup adalah kecenderungan alamiah, yang “oleh alam” ditanamkan dalam setiap makhluk. Termasuk manusia.
Itu sebabnya manusia pun berburu makan dan berlindung dari bahaya. Itu sebabnya orang memenuhi klinik, puskesmas, dan rumah sakit. Mereka juga bersaing untuk mendapatkan hidup dan kehidupan yang lebih baik. Tetapi sebagai makhluk sosial, manusia bukan hanya bersaing. Mereka juga berjuang bersama menciptakan kehidupan yang lebih baik. Melalui jaminan kesehatan. Melalui rumah sakit pemerintah. Melalui jaminan kesehatan dan jaminan sosial.
Itulah “budaya kehidupan” (lawan dari budaya kematian). Kitab suci serius sekali memperjuangkan budaya itu. Dalam injil ada lebih dari 20 cerita tentang Yesus menyembuhkan, dua cerita Yesus membangkitkan orang mati, dan satu cerita Yesus memberi makan 5000 orang. Injil hari ini berkisah baik tentang penyembuhan orang sakit maupun pembangkitan orang mati.
Bacaan ini umumnya membawa kita pada renungan untuk percaya. Karena jika kita percaya, Tuhan bisa melakukan apa pun. Termasuk membangkitkan orang mati. Tetapi Gereja menitipkan pesan lain. Melalui Rasul Paulus. Pada bacaan kedua. Bahwa hendaknya kita berada pada pihak Yesus. Yang menjaga hak paling azasi manusia. Yakni untuk bertahan dan melanjutkan hidup.
Beberapa waktu terakhir kita disuguhi banyak cerita tentang teror. Dan bunuh diri. Hal-hal yang jelas bisa disebut budaya kematian. Jangan-jangan kita adalah bagian dari budaya kematian itu. Yang merelakan orang mati kelaparan. Atau mati tak mampu berobat. Yang mati rasa pada persoalan orang lain. Hingga hanya bisa berdoa dan bilang “kasihan” ketika ada yang terlanjur bunuh diri. (her)




