
Bacaan I:2Raj. 4:42-44; Bacaan II:Ef.4:1-6; Bacaan Injil: Yoh. 6:1-15.
MENJADI MUKJIZAT
#1. Pada suatu hari ada upacara tunangan. Acara disempurnakan dengan perayaan ekaristi, dan tentu saja makan malam bersama. Usai misa, pihak keluarga meminta ketua lingkungan memimpin doa makan. #2. Setelah doa makan selesai, Pastor yang tadi memimpin ekaristi langsung memberikan interupsi. “Doa makannya kita ulangi.” Tentu saja ini mengejutkan semua yang hadir.
#3. “Ini doa makan yang banyak digunakan, tetapi tahukah kita bahwa ini cara kita lari dari tanggung jawab sebagai orang kristen?” Yang dimaksud oleh sang pastor adalah kalimat “berilah makanan bagi saudara-saudara kami yang tidak memilikinya.” Beliau menambahkan, “Kita punya makanan. Tuhan meminta kita berbagi dan kita bisa berbagi. Kok malah kita minta Tuhan yang harus memberikan makanan?”
#4. Tambah sang pastor, “Sengaja saya sampaikan ini agar kita, terutama yang baru bertunangan, tidak pernah melupakan tanggung jawab iman ini.”
#5. Tuhan meminta kita memastikan tidak ada orang di sekitar kita, yang di depan mata kita, yang kelaparan. Ketika ribuan orang di sekitar-Nya lapar, Yesus tidak berdoa supaya Bapa menurunkan mukjizat. Yesus bertanya pada Filipus, di mana bisa membeli makanan. Artinya para muridlah (kita) yang harus menyediakan makanan. Bahkan ketika makanan itu hanya sedikit dan mestinya menjadi “hak anak kecil”, bagikan saja.
#6. Apakah yang sedikit itu akan cukup? Pertanyaan ini juga disampaikan murid Elisa (bacaan 1) yang diminta menyajikan 20 roti untuk 100 orang.
#7. Kedua bacaan hendak mengatakan, cukup tidak cukup bukan urusan kita. Yang harus menjadi urusan kita adalah keberanian untuk berbagi, betapa pun sedikitnya yang kita punya.
#8. Kedua bacaan bercerita bahwa pada akhirnya mukjizat terjadi. Tuhan mencukupkan makanan untuk orang banyak itu, bahkan hingga banyak sisa. Apakah itu adalah jaminan? Kalau kita sudah memberi maka Tuhan akan mencukupkan? Apakah Tuhan lantas akan membuat mukjizat? #9. Kembali sang pastor berkata, “Nah, kita boleh berdoa supaya terjadi mukjizat, tetapi setelah kita mau dan terlebih dulu menjadi mukjizat bagi sesama.” (her)




