
Bacaan I: Yos. 24:1-2a,15-17,18b; Bacaan II: Ef. 5:21-32; Bacaan Injil: Yoh. 6:60-69.
Perkataan yang Keras
Yesus mengundang murid-murid-Nya untuk bersatu dengan diri-Nya dengan menyantap tubuh-Nya dan meminum darah-Nya, dan bagi murid-murid-Nya: “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?”. Mengapa perkataan ini keras bagi murid-murid-Nya? Bersatu dengan diri Kristus berarti seseorang harus meninggalkan dirinya sendiri dan mulai mengenakan manusia baru yang melakukan semua yang dikehendaki Allah, seperti juga yang telah Yesus lakukan selama hidup-Nya. Sanggupkah manusia meninggalkan semua yang dikehendakinya, dan kemudian hanya melakukan apa yang dikehendaki Allah, tentu saja sulit sekali. Dan memang hidup kita seolah sebuah perjuangan untuk menahan diri melakukan yang tidak dikehendaki Allah, walaupun perjuangan kita kebanyakan belum berhasil. Jadi bagaimanakah kita melakukan kehendak Allah itu selama kita masih hidup?
Dalam bacaan pertama Yosua menghadapkan umat Israel pada pilihan untuk mengikuti kehendak Allah atau meninggalkan jalan Allah, Sedangkan pada bacaan kedua Paulus juga menghadapkan kita pada perintah: “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan”, dan “demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri”. Kita tahu semua perintah, pilihan dan anjuran itu semua baik adanya, tetapi mengapa begitu sulit melakukannya? Semua pilihan-pilihan tersebut menjadi sulit selama kita memandangnya dari sudut pandang kepentingan kita sendiri. Tetapi apabila kita mau memandangnya dengan mata hati yang jernih, kita akan melihat semua pilihan-pilihan itu seharusnya dipandang dengan mata penuh kasih, karena semua pilihan-pilihan itu adalah pilihan untuk melakukan kasih.
Tuhan meminta kita bersatu dengan diri-Nya dan meninggalkan kehendak diri kita karena Dia sangat mengasihi kita, dan hanya dalam diri-Nya kita akan mendapat kebahagiaan sejati, kecuali kita menolak percaya adanya kebahagiaan itu, dan kalaupun percaya hanya karena kita takut masuk kedalam neraka saja. Seperti juga dalam rumah tangga kita, semua kebahagiaan didalamnya hanya dapat terjadi selama kita mau melakukan kasih didalamnya, kecuali itu hanyalah kebahagiaan palsu yang sepi seperti dalam neraka yang kita dapatkan. (AJ)




