
Bacaan I: Yes. 43:16-21; Bacaan II: Flp. 3:8-14; Bacaan Injil: Yoh. 8:1-11.
JANGAN BERBUAT DOSA LAGI
Injil hari ini ( Yoh 8:1-11) begitu mengesankan sehingga seorang Goenawan Mohamad, yang nota bene muslim dan bukan penafsir injil, mengulasnya dalam Catatan Pinggir di Majalah Tempo, 28 Sept 2009 dengan judul “Perajam”. Ada 3 hal menarik bagi Goenawan Mohamad : 1) Menghukum habis-habisan seorang pendosa tak akan mengubah apa-apa. Sebaliknya, empati, uluran hati dan pengampunan adalah laku yang transformatif; 2) Yesus menulis di tanah dengan jariNya menunjukkan bahwa tiap konstruksi harfiah, niscaya ada elemen yang tidak menetap. Tulisan di atas pasir, akan diinjak oleh pejalan. Memang selalu melintas makna, tapi ada yang niscaya berubah atau hilang dari makna itu; 3) Ketika Yesus berbicara “barangsiapa di antara kamu yang tak berdosa”, maka hukum serta merta bersentuhan dengan “siapa”, bukan dengan “apa”. Hukum menjadi pengalaman pribadi, satu bagian dari hidup orang per orang di sebuah saat di sebuah tempat. Dan “beriman adalah menghayati hidup yang terus-menerus diciptakan Tuhan dan dirawat dengan cintakasih”. Sementara William Barclay dalam bukunya “The daily study Bible” mengangkat 2 sikap yang saling bertentangan antara Ahli Taurat dan Kaum Farisi di satu pihak, dan Yesus di pihak lain.
Kaum Farisi mempertontonkan 2 sikap : 1) Otoriter. Mereka selalu bersikap kritis, mencari-cari kesalahan dan memberi hukuman. Jabatan atau posisi bagi mereka adalah mengatur dan memberi sanksi kepada mereka yang melanggar. 2) Manusia tidak bedanya dengan sumber daya yang lain, yang dapat dimanfaatkan kalau masih berguna, namun dibuang kalau tidak berguna. Sementara Yesus menunjukkan sikap yang berbeda: 1) Dia tidak mau menghukum. “Akupun tidak mau menghukum engkau” (ayat 11). Dalam buku “99 Cara Belajar Hidup ala Pope Francis” diberi judul tambahan “Who am I to judge ?” Siapakah saya sehingga saya harus menghakiminya ?” (hal.21), Sri Paus menegaskan : “Kita kerap lebih siap mengutuk daripada menerima. Kita kerap cepat menilai, tetapi tidak membungkuk untuk memahami derita umat manusia. Siapakah saya hingga harus menghakimi orang lain : yang miskin, lemah, dan kurang dianggap penting oleh sesamanya ?” 2) Sikap Yesus adalah bersikap empati, berbela rasa, ingin membantu dan menguatkannya. Santu Agustinus menggambarkannya dengan sangat tepat :
“Perempuan yang sangat malang (misera) berhadapan dengan Yesus yang Maha Belas kasih (misericordia) “. 3) Memberi kesempatan kedua. “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi!” (ayat 11). Belaskasihan dan pengampunan Tuhan adalah sebuah kesempatan untuk berubah dan bertobat. Rasul Paulus dalam bacaan II menyadari pertobatan itu dengan mengatakan : “Segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah!” ( Fil 3:8). Masa Prapaskah adalah kesempatan untuk menyadari kerahiman Tuhan dan bertekad untuk berubah dan menjadi lebih baik. (YS)




