
Bacaan I: Yes. 50:4-7; Bacaan II: Flp. 2:6-11; Bacaan Injil: Luk. 22:14-23:56(23:1-49).
TURUT MEMIKIRKAN SALIB ORANG LAIN
Hari ini Gereja memasuki Pekan Suci, yang ditandai dengan peristiwa Kristus memasuki kota Yerusalem. Yesus menunggang seekor keledai, diiringi banyak orang, yang menghamparkan pakaiannya di jalan dan berseru : “Diberkatilah Dia yang datang sebagai Raja dalam Nama Tuhan". (19:38). Keledai, selain melambangkan kesederhanaan, juga melambangkan perdamaian. Yesus datang sebagai Raja Damai. Kisah Sengsara hari ini versi Lukas. Ada beberapa kekhasannya , yaitu 1) Ketika berdoa di taman Getsemani Yesus begitu menderita sehingga "peluhNya menjadi seperti titik-titik darah yang bertetesan di tanah" (22:44) dan malaikat memberi kekuatan kepadaNya (22:43); 2) Yesus masih sempat menyembuhkan telinga Malkhus, hamba Imam Agung, yang putus dipotong Petrus (22:51); 3) Yesus tidak menegur Petrus yang 3 kali menyangkalNya, bahkan hanya memandangnya dengan penuh kasih, sehingga Petrus menangis dengan sedihnya (22:62); 4) Tiga kali Pilatus menyatakan bahwa Yesus tidak bersalah (23:4.14.22); 5) Kepada para wanita yang meratapi Dia, Yesus berkata : "tangisilah dirimu sendiri" (23:28); 6) Yesus berdoa bagi pembunuhNya : “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (23:34); 7) Kepada penyamun di sebelah kananNya, Yesus berkata : “Hari ini juga engkau bersama dengan Aku di dalam Firdaus” (23:43). Dari Kisah ini kita petik beberapa makna : 1) Yesus begitu tabah dan tegar menanggung penderitaanNya walau tidak ada kesalahanpun padaNya. 2) Dalam penderitaanNya, Yesus masih berusaha meringankan penderitaan orang lain, misalnya : menyembuhkan telinga Malkhus, mengampuni Petrus yang 3 kali menyangkalNya, menghibur wanita yang meratapiNya dan menjanjikan Firdaus kepada penyamun. 3) Yesus tidak saja mengampuni pembunuhNya, tetapi berdoa bagi mereka. Kisah Sengsara Yesus merupakan versi lain dari penderitaan kita, walau dengan kualitas berbeda. Sikap Yesus dalam menghadapi penderitaanNya semoga menjadi kekuatan bagi kita dalam penderitaan kita masing-masing. Selain itu, kita tidak sendirian menghadapi salib hidup kita. Dalam semangat kebersamaan dan sepenanggungan, kita mampu mengatasi tantangan hidup ini, berapapun beratnya. Dan itulah hakekat hidup seorang Kristiani yaitu berani "memikul salib setiap hari!". "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya dan memikul salibnya setiap hari" (Luk 9:23). "Per crucem ad salutem" - melalui Salib kepada keselamatan. Itulah iman kita ! (YS)




