
Bacaan I: Kel. 3:1-8a.13-15; Bacaan II: 1 Kor. 10:1-6.10-12; Bacaan Injil: Luk. 13:1-9.
Teriakan keras Yesus
Bacaan Injil hari ini menyajikan 3 peringatan keras Yesus. Pertama, mengomentari berita tentang orang Galilea yang dibunuh, Yesus menjawab: “jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa”, lalu mengenai 18 orang yang mati tertimpa menara di Siloam, Yesus juga berkata: “jikalau kamu tidak bertobat, kamu semua akan binasa”. Kemudian Yesus memberikan perumpamaan mengenai pohon Ara yang seharusnya ditebang karena sudah 3 tahun tidak menghasilkan buah. Apakah Anda merasakan gambaran Allah yang diberikan Yesus adalah gambaran akan Allah yang kejam, keras dan menuntut?
Pada bacaan pertama terdapat kalimat: “AKU ADALAH AKU.” Kalimat ini telah lama menjadi bahan studi dan perdebatan mengenai seperti apakah Allah itu. Tetapi Santo Thomas Aquinas justru mengajarkan untuk berfokus pada kata-kata sebelumnya yaitu: “Aku telah memperhatikan dengan sungguh kesengsaraan umat-Ku… Aku telah mendengar seruan mereka… ya, Aku mengetahui penderitaan mereka… Sebab itu Aku telah turun untuk melepaskan mereka” Menurut Thomas Aquinas, inilah: “eksistensi Allah sebenarnya dan yang paling sempurna”. Allah Bapa adalah Allah yang selalu memperhatikan dan mengasihi umat-Nya. Bukankah gambaran Allah disini justru berbeda dengan Allah yang digambarkan Yesus dalam Injil?
Dalam kisah itu, Musa melihat semak yang menyala tapi tidak dimakan api, dan Musa tidak boleh mendekat karena tanah itu kudus. Gambaran ini menunjukan bagi manusia berdosa, gambaran Allah adalah api yang panas, membakar, serta tidak terdekati, tetapi sebaliknya didalam api yang membakar itu terdapat Allah yang lembut, yang memperhatikan, dan menyelamatkan umat-Nya. Dan dalam gambaran itulah kita melihat Yesus berteriak: “bertobatlah!”, inilah teriakan keras Sang Gembala Baik kepada domba-domba-Nya hampir jatuh ke jurang, teriakkan keras yang menakutkan, mengancam dan tidak enak didengar, tetapi penuh kasih agar domba-domba-Nya tidak jatuh ke jurang. Bagi kita yang saat mendengar seruan Yesus itu merasa seruan itu keras dan menakutkan, masa Prapaskah inilah waktu yang tepat untuk kembali mendengarkan suara-Nya, dan kembali mendekat pada-Nya, karena suara keras itu timbul dari hati-Nya yang lembut dan mengasihi. – aj




