Melawan Dominasi Dunia



Bacaan 1: Ul. 30:10-14 Bacaan 2 : Kol. 1:15-20 Bacaan Injil : Luk. 10:25-37.
“KOMITMEN MURID YESUS”
Perintah Allah sudah jelas, namun sebagai muridNya kita sering ‘lupa’ atau mencari alasan untuk menghindari tugas itu. Allah akan melimpahkan berkatNya apabila engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya, yang tertulis dalam kitab Taurat ini dan apabila engkau berbalik kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.” “Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh. Tidak di langit tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan naik ke langit untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Juga tidak di seberang laut tempatnya, sehingga engkau berkata: Siapakah yang akan menyeberang ke seberang laut untuk mengambilnya bagi kita dan memperdengarkannya kepada kita, supaya kita melakukannya? Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan. (Ul 30:10-14).
Sebetulnya semua murid Yesus tahu bahwa ‘ringkasan’ hukum Allah adalah: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Luk10:27). Namun seperti Ahli Taurat itu, kita juga sering membenarkan diri dengan bertanya: ”Siapakah sesamaku manusia?”
Bagaimana kita menyikapi perumpamaan Orang Samaria yang Baik Hati itu? Kita pasti memilih (ingin) menjadi seperti orang Samaria! Namun, tekad itu perlu dipupuk dan dipelihara agar menjadi komitmen sebagai murid Kristus. Banyak hambatan dan kesulitan yang menghadang: buat apa cari repot-lah, keluarga sendiri masih banyak kebutuhan-lah, enggan dianggap sok pahlawan-lah, orang lain yang lebih mampu masih banyak-lah, dsb.
Sebagai murid Kristus yang mengharap kehidupan kekal, kita harus melakukan perintahNya! Segala kesulitan pasti bisa diselesaikan olehNya! Bukankah Dia sendiri bersabda: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”. (Mat11:28). Karena seluruh kepenuhan Allah berkenan diam di dalam Dia, dan oleh Dialah Ia memperdamaikan segala sesuatu dengan diri-Nya, baik yang ada di bumi, maupun yang ada di sorga, sesudah Ia mengadakan pendamaian oleh darah salib Kristus. (Kol1:19-20).
Semoga kita berani membuat komitmen itu….

Bacaan 1: 1Raj. 19:16b,19-21 Bacaan 2 : Gal 5:1,13-18 Bacaan Injil : Luk. 9:51-62.
Tidak Layak Untuk Kerajaan Allah
Mirip dengan minggu lalu, bacaan minggu ini agak saling bertentangan. Dalam Injil, pada saat ada seorang yang meminta ijin untuk berpamitan dahulu dengan orangtuanya sebelum ia pergi mengikuti Yesus, Yesus berkata: “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”. Tetapi sebaliknya dalam bacaan pertama kita mendapatkan Elisa yang ketika ia meminta ijin untuk mencium ayah ibunya dahulu sebelum ia pergi mengikuti panggilan nabi Elia, saat itu nabi Elia mengizinkannya. Apakah sebabnya terjadi perlakuan yang sangat berbeda ini? Tidakkah justru Yesus menganjurkan orang yang ingin mengikuti-Nya itu untuk tidak menghormati ayah ibunya?
Bila kita memperhatikan lebih lanjut pada apa yang dikatakan Yesus, maka akan dapat dirasakan bahwa Yesus bukan melarang orang untuk berpamitan dengan orangtuanya, melainkan Ia menggambarkan situasi yang sedang terjadi pada orang itu, yaitu ketidak siapan dan ketidak layakkannya. Sedangkan yang terjadi pada nabi Elisa adalah hal yang berbeda, saat dipanggil ia sedang membajak dengan mempergunakan 12 pasang lembu (bagaimana caranya? Sedang dengan sepasang lembu saja sudah cukup). Gambaran hiperbolis (berlebihan) ini menunjukkan adanya makna iman didalamnya, dan, karena saat seseorang membajak tanah, tujuannya adalah untuk menggemburkan dan menyuburkan tanah, serta pada saat yang sama membersihkan tanahnya dengan membuang batu-batu dan semak-semak duri yang bisa mengganggu pertumbuhan tumbuhan yang akan ditanam. Tindakan Elisa ini mengingatkan kita akan perumpamaan penabur, dimana Yesus melambangkan tanah dengan hati manusia, dan tanah tidak subur karena, penuh bebatuan, serta semak berduri yang akan membuat benih firman Tuhan menjadi mati. Sehingga apa yang dilakukan Elisa menunjukan kesiapan dan kesuburan hatinya untuk menerima firman Tuhan. Kemudian tindakan Elisa menyembelih lembunya, serta membakar bajaknya juga menunjukan bahwa ia sungguh-sungguh meninggalkan pekerjaan serta kehidupan lamanya untuk menjadi manusia baru.
Sebenarnya setiap saat dan dalam berbagai kesempatan kita juga disapa oleh Yesus baik melalui firman maupun kejadian dalam hidup, dan bukan sekali pula timbul keinginan kita untuk lebih mengikuti Dia. Akan tetapi, keengganan kita untuk membersihkan hati dan menyiapkan hatilah yang sering menghalangi kita.

Bacaan 1: Yes. 66:10-14c Bacaan 2 : Gal. 6:14-18 Bacaan Injil : Luk. 10:1-12,17-20.
“UPAH SURGAWI”
Tugas murid Tuhan didunia ini tidaklah ringan, tapi Dia tidak pernah meninggalkan kita! Tuhan menghendaki agar kita bersandar sepenuhnya kepadaNYA, karena itu Dia melarang muridNya menyusahkan diri dengan ‘tetek-bengek’ rutinitas sehari-hari yang hanya menyulut kekuatiran yang sia-sia; bukankah Dia akan menambahkan semua yang diperlukan itu bagi yang percaya?
Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. Janganlah membawa pundi-pundi atau bekal atau kasut, dan janganlah memberi salam kepada siapa pun selama dalam perjalanan. Kalau kamu memasuki suatu rumah, katakanlah lebih dahulu: Damai sejahtera bagi rumah ini. Dan jikalau di situ ada orang yang layak menerima damai sejahtera, maka salammu itu akan tinggal atasnya. Tetapi jika tidak, salammu itu kembali kepadamu. Tinggallah dalam rumah itu, makan dan minumlah apa yang diberikan orang kepadamu, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya. (Luk 10:3-7).
Melakukan kehendak Tuhan itu banyak tantangannya, tapi Tuhan selalu menyertai umat yang setia agar berhasil dalam pelayanannya. Tuhan mengingatkan agar kita bersukacita bukan karena kesuksesan duniawi, melainkan karena ganjaran surgawi! Kemudian ketujuh puluh murid itu kembali dengan gembira dan berkata: “Tuhan, juga setan-setan takluk kepada kami demi nama-Mu.” Lalu kata Yesus kepada mereka: “Aku melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit. Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu. Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga.” (Luk 10:17-20).
Santo Paulus yang telah bertobat dan menghayati kurban salib Yesus menekankan arti hidup baru sebagai anak Allah yang akan menerima damai sejahtera dan rahmatNya. Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia. Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak ada artinya, tetapi menjadi ciptaan baru, itulah yang ada artinya. Dan semua orang, yang memberi dirinya dipimpin oleh patokan ini, turunlah kiranya damai sejahtera dan rahmat atas mereka dan atas Israel milik Allah. (Gal6:14-16).
Semoga kita bisa menentukan pilihan terbaik.

Bacaan 1: Za. 12:10-11; 13:1 Bacaan 2 : Gal. 3:26-29 Bacaan Injil : Luk. 9:18-24.
“MATA UANG DUA SISI”
Dalam Injil hari ini Yesus bertanya dua kali: “Siapakah Aku ini?”. Pertama Yesus bertanya: “Kata orang banyak, siapakah Aku ini?”, untuk memperjelas, bacalah Injil Lukas bab 9, di ayat 1-9 diceritakan Yesus memberi kuasa dan mengutus para murid untuk mengusir setan dan menyembuhkan orang sakit dan karena begitu heboh akibatnya banyak orang berkata Elia telah kembali atau Yohanes Pembaptis bangkit.
Bahkan di ayat 10-17 sebelum Yesus memberikan pertanyaan diatas, Ia masih sempat memberi makan lima ribu orang pula. Sehingga bisa dikatakan pada saat itu kekaguman orang banyak dan para murid kepada Yesus sedang sangat tinggi-tingginya, sehingga wajarlah pada waktu Yesus bertanya kedua kalinya: “Menurut kamu, siapakah Aku ini?” Petrus pun menjawab: “Mesias dari Allah.”. Jawaban ini sebenarnya
tepat sekali, akan tetapi yang mengherankan adalah: “Yesus melarang mereka dengan keras, supaya mereka jangan memberitahukan hal itu kepada siapa pun.” Mengapa begitu?
Sama seperti para murid yang walaupun hidup bersama Yesus, kitapun masih suka bingung siapakah sebenarnya Yesus. Karena Yesus dalam perjalanan hidup-Nya tampil seperti sebuah mata uang koin dua sisi. Di satu sisi Ia tampil dengan penuh kuat kuasa Ilahi dengan sederet muzizat dan kemuliaan, tetapi di sisi lain Ia tampil lemah seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian. Di satu sisi kita memuji dan mengharapkan berkat-Nya untuk menolong hidup kita, di sisi lain Ia terkadang terasa jauh dari doa-doa kita. Tetapi justru itulah jati diri Yesus, itulah sebabnya Ia
melarang para murid untuk menyiarkan hal itu, karena para murid masih hanyut dalam euphoria kehebatan Yesus sehingga memandang Dia dengan tidak lengkap.
Itulah sebabnya kemudian Yesus berkata: “Anak Manusia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak … dibunuh — dan setiap orang yang mau mengikut Aku, harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku”. Itulah sebabnya bacaan pertama berkata: “mereka akan memandang dan meratapi dia yang telah mereka tikam” sedangkan bacaan kedua berkata: “kamu adalah milik Kristus, …dan berhak menerima janji Allah.” Sudahkah kita mengenal siapa sesungguhnya Yesus Juru Selamat kita?
