Orang Farisi dan Pemungut Cukai

Bacaan 1: Sir.35:12-14,16-18Bacaan 2: 2Tim.4:6-8,16-18 Bacaan Injil : Luk.18:9-14
Orang Farisi dan Pemungut Cukai

Bacaan 1: Sir.35:12-14,16-18Bacaan 2: 2Tim.4:6-8,16-18 Bacaan Injil : Luk.18:9-14
Orang Farisi dan Pemungut Cukai

Bacaan 1: Kel.17:8-13 Bacaan 2: 2Tim.3:14-4:2 Bacaan Injil : Luk.18:1-8
Perumpamaan Tentang Wanita yang Gigih
Dalam dua pekan lalu secara berturut-turut, Injil Lukas telah membuka wawasan keimanan dan memberikan pembelajaran penting bagi kita, lewat perumpamaan biji sesawi dan kisah Yesus menyembuhkan 10 orang kusta. Satu di antaranya orang Samaria, dan hanya dialah yang sujud syukur memuliakan Allah.
Injil Lukas Minggu ini (Luk.18:1-8) berkisah tentang perumpamaan 'Hakim yang Tak Benar'. Ada dua tokoh pemeran utama dalam kisah yang hanya ada di Injil Lukas ini. Seorang hakim dan janda. Mengapa wanita berstatus janda jadi bahan pembahasan? Nasib para janda di Israel ketika itu sangat tidak menentu, seperti digambarkan dalam kitab Perjanjian Lama (Ulangan, Bilangan, Yesaya, Maleakhi, dan Mazmur). Meski banyak peraturan yang menaungi mereka, tapi ketidakadilan dan penindasan tetap akrab dengan urusan keseharian para janda. Karena itulah, Allah berpihak dan melindungi mereka [Mzm.68:6 dan 146:9].
Wanita janda di Israel jadi simbol kaum yang lemah terpinggirkan secara sosial, ekonomi, politik, dan hukum. Mereka amat rentan terhadap perlakuan tidak adil meski para janda dinaungi undang-undang. Mereka tetap mengharap perlindungan dari sosok penguasa untuk membela haknya. [Luk.18:3] "Belalah hakku terhadap lawanku."
Apa pesan utama yang ingin disampaikan Yesus? Yesus dalam perumpamaan ini menegaskan, jika 'hakim yang lalim' (tak takut akan Allah dan tidak menghormati seorang pun) saja akhirnya bisa luluh karena wanita janda yang secara gigih mohon bantuan agar mendapatkan keadilan, apalagi Allah. Pastilah Allah akan memberikan keadilan bagi umat-Nya sendiri yang berdoa pada-Nya siang malam.
[Luk.18:6-7] Kata Tuhan: "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu! Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” Janda yang gigih ini juga merupakan gambaran dari gereja dalam hal doa. Allah merupakan tempat satu-satunya untuk mengadu. Kita selalu rindu menunggu kehadiran dan keterlibatan Allah dalam pengharapan yang penuh di dalam doa. Seperti perempuan janda yang tanpa ragu, sabar dan gigih tanpa putus asa mendatangi hakim setiap hari dengan permintaan yang sama, kita pun harus yakin. Masihkah kita meragukan belas kasih Allah?

Bacaan 1: Hab.1:2-3;2:2-4 Bacaan 2: 2Tim.1:6-8,13-14 Bacaan Injil : Luk.17:5-10
TUHAN, TAMBAHKANLAH IMAN KAMI
Sabda Tuhan dalam Injil hari Minggu ini (Luk.17:5-10) mengingatkan kita: Apakah kita benar-benar telah secara total beriman kepada Yesus Kristus? Bahkan lebih dari itu, bacaan Injil Lukas ini ingin menunjukkan kepada kita bahwa para rasul yang setiap hari bersama dengan Yesus pun masih memohon agar Tuhan berkenan menambahkan iman pada mereka.
[17:5] Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: "Tambahkanlah iman kami!"
Kata 'tambahkanlah' mengandaikan bahwa para rasul sudah lebih dulu memiliki iman. Namun para murid ini menyadari, keimanan mereka masih kurang sempurna. Yesus menjawab permohonan mereka dengan menggunakan perumpamaan biji sesawi.
[17:6] Jawab Tuhan: "Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu."
Yesus kerap menggunakan perumpamaan dengan ‘biji sesawi’ dalam mengungkapkan sesuatu hal yang amat penting kepada para muridnya, seperti Kerajaan Allah (Mrk 4:31) atau Kerajaan Surga (Mat 13:31) dan iman (Mat 17:20 atau Luk 13:19 dan 17:6).
Mengapa biji sesawi? Masyarakat petani Palestina pada jaman itu tahu persis benih sesawi merupakan jenis biji paling kecil. Namun dalam biji sesawi ada daya energi kehidupan yang bertumbuh dan potensial bermanfaat bagi lingkungannya.
[Mat 13:32] “Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar dari pada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabangcabangnya."
Jadi sebenarnya pesan apa yang ingin disampaikan Yesus?
Kadar keimanan sejatinya bukan dinilai dari ukuran besar kecil atau kuantitasnya, tapi kualitas. Tak ada gunanya memiliki iman sebesar batu karang namun mati, tak bertumbuh, tidak mampu memberikan kehidupan rohani yang positif bagi diri dan lingkungannya. Rasul Paulus mengatakan, bahwa beriman kepada Allah haruslah total, tak perlu takut apalagi malu. Seperti ditegaskan dalam bacaan kedua [2Tes 1:7] “Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.”
Selamat berhari Minggu. Tuhan memberkati

Bacaan 1: 2Raj. 5:14-17 Bacaan 2: 2Tim. 2:8-13 Bacaan Injil : Luk.17:11-19
Belajar dari Kisah Orang Samaria
Minggu ini, Injil Lukas mengajak kita untuk belajar bersyukur memuliakan Allah melalui kisah Yesus menyembuhkan 10 orang kusta (Luk.17:11-19). Penulis Injil Lukas memberikan perhatian lebih pada citra orang Samaria dibanding Matius, Markus, dan Yohanes. Sebut saja, semisal 'Kisah Orang Samaria yang baik hati' [Luk. 10:30-37] atau kisah orang Samaria penderita kusta yang disembuhkan Yesus [Luk. 17:11-19]. Bahkan Yesus mengutus para murid melakukan misi ke Samaria pun tercatat [Luk. 9:52-53].
Siapa sebenarnya ‘orang Samaria’ itu dan mengapa mereka dihinakan? Samaria adalah ibukota wilayah Israel Utara. Orang-orang Samaria dikenal sebagai penyembah dewa-dewi, berhala, dan Baal (dewa kesuburan orang Kanaan). Bahkan mereka memuja berhala di Bait Suci di Betel. Dalam konteks keagamaan, derajat orang-orang Samaria dipandang sangat rendah, dicap sebagai pendosa, hina, kafir, dsb. Setelah Samaria dikuasai bangsa Asyur (yang juga penyembah dewadewi) dan terjadi kawin campur, citra mereka kian hancur. Mereka dinilai sudah tidak murni lagi sebagai bangsa Israel, bangsa pilihan Allah. Di mata orang Israel, dosa ini tak terhapuskan hingga di jaman Yesus. Orang Samaria diasingkan layaknya penderita kusta. Dalam suasana sosial politik seperti itulah Yesus menyembuhkan 10 orang kusta. Salah seorang di antaranya orang Samaria. Jadi pesan apa yang ingin disampaikan Yesus dalam kisah ini? Pertama, Allah mengasihi semua orang tanpa pandang bulu. Tuhan Yesus sendiri yang telah mengajarkannya secara langsung. Kedua, Yesus membuka mata semua orang bahwa orang Samaria yang dinistakan itu lebih mampu bersyukur dan memuliakan Tuhan.
[Luk. 17:15-16] Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah orang Samaria.
Ada kritik keras Yesus pada kita yang kerap tak tahu berterimakasih meski pertolongan Tuhan setiap saat kita rasakan dan alami.
[Luk. 17:17-18] Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" Kritik pedas Yesus ini patut kita renungkan setiap hari. Selamat berhari Minggu, Tuhan memberkati

Bacaan 1: Am 6:1a,4-7 Bacaan 2: 1Tim.6:11 -16 Bacaan Injil : Lukas 16:19-31
BUDAYA TAK PEDULI
Beberapa waktu silam di media sosial beredar kisah tentang kejutan yang menohok sekelompok turis Indonesia di Hamburg, Jerman. Ketika menikmati makan di restoran, “tim Indonesia” ini
heran mengapa makanan yang dipesan orang setempat sangat minimalis, baik jenis maupun volumenya. Sepiring makanan dan segelas atau sekaleng minuman. Sama sekali tidak romantisnya. Sementara si “tim Indonesia” memesan pada volume besar.
Beda berikutnya, orang-orang Hamburg menyantap pesanannya sampai butir dan tetes terakhir, sedang si “tim Indonesia” menyisakan sekitar sepertiganya. Yang terakhir ini membuat berang seorang Oma, yang kemudian memarahi “tim Indonesia”. Tetapi dengan jumawa, anggota tim Indonesia menjawab, kami membayar, jadi berapa banyak makanan yang tersisa bukan urusan kalian. Semakin marah, si Oma kemudian menelepon seseorang, dan sejurus kemudian datanglah petugas berseragam.
Setelah mengetahui masalah yang menimbulkan pertengkaran, petugas itu mengeluarkan surat denda sebesar Rp.750 ribu. “Tim Indonesia” tentu saja bermaksud protes, tetapi kemudian terdiam mendengar penjelasan si petugas, Pesanlah hanya yang bisa kalian habiskan. Uang Anda memang milik Anda. Tetapi sumberdaya alam ini milik bersama.
Banyak orang di dunia yang berkekurangan. Jadi kalian tak punya alasan untuk menyia-nyiakan sumberdaya alam tersebut. Tidak ada salahnya menjadi kaya, dan tidak ada salahnya menggunakan kekayaan. Alkitab membahas masalah ini sejak periode Perjanjian Lama. Pada periode itu tidak ada pandangan negatif apapun tentang kekayaan dan orang kaya. Umat Perjanjian Lama bahkan percaya bahwa kekayaan adalah tanda berkat. Orang yang memiliki kekayaan berlimpah berarti mendapatkan kelimpahan berkat Tuhan. Lihat saja bagaimana cara mereka memandang kekayaan Daud, Salomo, memandang kisah Ruth dan Ayub
Baru dalam Perjanjian Baru kita menemukan banyak kritik terhadap orang kaya. Tetapi kembali, yang dikritik bukanlah kekayaannya. Pada bacaan hari ini yang dikritik adalah sikap orang kaya terhadap orang miskin (di tempat lain yang dikritik: cara menjadi kaya, dan kecenderungan berisiko orang kaya). Hari ini orang kaya dikritik bukan karena dia menikmati kekayaannya, tetapi karena dia membiarkan orang miskin mati di teras rumahnya. Jadi ini bukan pertama-tama soal kaya miskin, melainkan soal kepedulian pada yang lemah, “yang rentan mati”. Dan yang lebih parah adalah ketika ketidakpedulian itu kemudian berubah menjadi gaya hidup, tradisi, bahkan budaya .
