RISIKO MASUK NERAKA, ADA ASURANSINYA?

Bacaan I.Yes. 63:16b-17,64:1.3b-8. Bacaan II. 1Kor.1:3-9. Bacaan Injil. Mrk. 13:33-37
RISIKO MASUK NERAKA, ADA ASURANSINYA?
Kita semua berhadapan dengan ketidakpastian, dan sadar bahwa ketidakpastian adalah masalah serius. Karena itu kita selalu berusaha meminimalkan ketidakpastian dan meningkatkan kepastian. Belajar, sekolah, menabung, dan berasuransi adalah beberapa upaya manusia modern memastikan masa depannya. Untuk itu orang rela menginvestasikan waktu, tenaga, perhatian dan uang dalam jumlah besar.
Obsesi manusia memastikan masa depannya di sisi lain menimbulkan bisnis raksasa seperti bisnis kesehatan, pendidikan, perbankan, dan asuransi. Sebagai gambaran, di Indonesia jumlah tabungan masyarakat di bank mencapai lebih dari Rp5.000 triliun, sedangkan simpanan “rasa aman” di asuransi mencapai Rp370 triliun. Belum aneka bisnis pengaman masa depan lainnya. Orang berani membayar mahal untuk memastikan masa depan.
Hari ini Tuhan Yesus mengingatkan kita pada satu ketidakpastian lain, yakni soal “kapan saatnya tiba.” Bahwa saatnya akan tiba, itu pasti. Yang tidak pasti adalah kapan saat Anda, kapan saat saya. Bisa puluhan tahun mendatang, bisa nanti siang. Pertanyaannya, berapa besar kita “berani bertaruh” untuk mendapat kepastian itu? Seberapa besar upaya yang kita untuk mengamankan ketidakpastian itu? Tidak perlu dijawab, karena dua situasi di atas memiliki perbedaan sense of urgency. Risiko kegagalan ekonomi dan kesehatan adalah risiko yang sangat terukur. Risiko jatuh miskin dan risiko sakit sangat mudah dibayangkan rasa dan dampak ikutannya. Tetapi risiko Tuhan datang hari ini atau 40 tahun lagi, apa bedanya? Bahwa itu adalah soal kematian, mungkin mudah bagi kita membayangkan risikonya. Tetapi bahwa itu adalah saat kita berurusan dengan Tuhan soal keabadian, sungguh sulit dibayangkan.
Tampaknya itu sebabnya Gereja menempatkan teks Yesaya dan Korintus pada bacaan 1 dan 2. Yesaya menulis bahwa Tuhan akan datang kepada orang-orang Israel yang sedang dibuang dan dijadikan budak Babilonia. Dalam konteks itu, kedatangan Tuhan berarti hari pembebasan. Sementara itu Jemaat Paulus pada umumnya merasa bahwa mereka berada di zaman akhir, zaman ketika Tuhan akan memilah dan menjaga kawanan dombanya dari segala yang lain. (her) .
Yesus Ingatkan Kita Tentang Akhir Jaman

Bacaan I: Keb. 6:13-17. Bacaan II: 1Tes. 4:13-18,13-14. Injil: Mat. 25:1-13.
Yesus Ingatkan Kita Tentang Akhir Jaman
Kisah dalam Injil (Mat 25:1-13) tentang lima gadis bijaksana dan lima gadis bodoh sangat populer di kalangan umat. Perumpamaan ini disampaikan Yesus dalam khotbah tentang akhir jaman. Isi khotbah ini menekankan bahwa semua orang beriman harus selalu memperhatikan kondisi rohani pribadi masing-masing. Mereka harus bertekun dalam iman agar ketika Kristus tiba pada hari kedatangan-Nya yang kedua nanti, segala sesuatunya sudah siap. Kealpaan dalam memelihara hubungan pribadi dengan Tuhan berarti akan menjauhkan diri dari undangan pesta kerajaan-Nya. Ada beberapa hal dalam perumpamaan ini yang menarik untuk disimak.
Pertama. Tentang gadis-gadis bijaksana dan gadis-gadis bodoh. Gadis bijaksana merupakan gambaran tentang pribadi yang selalu mempersiapkan kematangan diri menyambut kedatangan Tuhan. Sementara gadis bodoh melukiskan pribadi yang tak memperhitungkan bahwa kedatangan Tuhan akan terjadi pada saat yang tidak terduga sama sekali. [Mat 25: 13] "Karena itu, berjaga-jagalah sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."
Kedua. Perumpamaan ini juga menggambarkan bahwa kedatangan Kristus nanti tidak menunggu kesiapan umat dan bahkan tanpa ada tanda-tanda khusus. [Mat 25:8-11]
Ketiga. Dalam perumpamaan ini Yesus memberikan penekanan soal pentingnya kesetiaan dan kesiapsiagaan hingga saat kembali-Nya nanti. Kesetiaan ini terkait dengan masalah ketekunan dalam iman. Sementara kesiapsiagaan berhubungan dengan kesiapan rohani dari setiap masingmasing pribadi. Kesiapsiagaan itu disimbolkan dalam wujud minyak untuk lentera.
Minyak dalam kisah perumpamaan ini melambangkan iman sejati, kebenaran, dan kehadiran Roh Kudus yang terus menerus.
Ingar bingar kehidupan yang begitu gemerlap kerap membuat kita lupa diri dan jauh dari harapan Yesus. Apakah kita akan menjadi ‘gadis bijaksana’ atau kita akan menjadi ‘gadis bodoh’, pilihan ada pada pribadi masing-masing. Tapi ingat, kedatangan Tuhan akan terjadi di saat yang tidak pernah bisa diduga. (VH)
Penghakiman Terakhir

Bacaan I.Yeh. 34:11-12,15-17. Bacaan II. 1Kor.15:20-26,28. Bacaan Injil. Mat. 25:31-46.
Penghakiman Terakhir
Minggu ini Gereja merayakan Yesus Kristus Raja Semesta Alam. Bacaan Injil menghadirkan penggambaran tentang Penghakiman Terakhir dimana Anak Manusia akan datang untuk yang keduakali. Apa yang ingin disampaikan Yesus melalui penggambaran Penghakiman Terakhir? Di jaman sekarang kita kerap ingin serba tahu dalam berbagai hal. Bocoran informasi terlebih yang bersifat rahasia sangat diharapkan dan ditunggu bahkan dicari. Dalam konteks kehidupan beriman, Yesus sendirilah yang memberikan bocoran rahasia tentang Kerajaan Surga [Mat 25:31-46]. Inti informasi rahasia itu bahwa kedatangan Anak Manusia yang kedua nanti hadir sebagai Raja untuk memerintah dan menghakimi. Sebelum penghakiman terakhir dilaksanakan, sang gembala lebih dulu akan memisahkan domba dari kambing. Sang Raja menyampaikan kriteria pemilahan domba dan kambing. Tak hanya itu, Sang Raja pun memberikan info penting bahwa domba-domba akan ditempatkan di posisi istimewa sementara kambing akan menerima hukuman. Kawanan domba akan ditempatkan di sebelah kanan sebagai penghargaan. "Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan." [Mat 25:34]
Kelompok kambing ditempatkan di sebelah kiri untuk kemudian menerima penghakiman akhir. "Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk iblis dan malaikat-malaikatnya." [Mat 25:41] Pesan moralnya adalah kita harus sadar diri bahwa kita sesungguhnya bukanlah pemilik kehidupan. Kita pun dituntut agar menjalani hidup dengan selalu rendah hati serta terbuka untuk melayani Tuhan dan sesama. Rasul Yakubus mengingatkan, "Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia." [Yak 1:27] Sebagai penutup, baik juga kita renungkan apa yang dikatakan Rasul Paulus [2Kor 9:6] "Camkan ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." (VH)









