Yesus Ingin Kita Jadi Manusia Bermutu

Bacaan I: Mal. 1:14b-2:2b,8-10. Bacaan II: Tes. 2:7b-9,13. Injil: Mat. 23:1-12.
Yesus Ingin Kita Jadi Manusia Bermutu
Minggu ini Gereja menyuguhkan bacaan Kitab Suci yang luar biasa. Sabda Yesus dalam bacaan Injil (Mat.23:1-12) menampilkan kritik keras dengan bahasa yang amat lugas kepada para tokoh agama dan kaum Farisi. Kritik Yesus ini masih sangat relevan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kritik Yesus yang pertama terkait dengan kehidupan penuh kemunafikan para ahli Taurat dan kaum Farisi. Mereka adalah tokoh masyarakat yang sangat fasih berkata-kata tentang ajaran para nabi, namun tingkah laku mereka tak mencerminkan apa yang dikatakannya. Penampilan mereka pun tampak religius, tapi bertolak belakang dengan perilakunya. Yesus tidak menentang apa yang mereka ajarkan.
Karena itulah Yesus mengingatkan para murid dan juga kita sebagai pengikut-Nya agar tidak munafik. [Mat 23:3] "Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya."
Hal penting kedua yang disampaikan Yesus kepada para rasul dan juga kita sebagai orang Kristiani, hendaknya kita hidup saling melayani. Tujuannya bukan agar kita mendapatkan pujian dan penghormatan dari orang lain, tetapi karena kita meneladani pribadi Yesus Kristus yang penuh kasih. [Mat 23:11-12] "Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan."Apa yang sebenarnya diinginkan Yesus?
Yesus ingin supaya kita sebagai pengikut-Nya menjadi manusia bermutu tinggi dan memiliki iman yang berkualitas serta senantiasa rendah hati di hadapan Allah. Seperti dalam nyanyian Mazmur 131:1: "Tuhan, aku tidak tinggi hati, dan tidak sombong; aku tidak mengejar hal-hal yang terlalu besar atau hal-hal yang terlalu ajaib bagiku." (VH)
“Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”

Bacaan I: Yes. 45:1,4-6. Bacaan II: 1 Tes. 1:1-5b. Injil: Mat. 22:15-21.
“Berikanlah kepada kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat masih terus berjuang untuk menjebak Yesus. Lewat para muridnya, mereka bertanya kepada Yesus, apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar? Mereka berpikir pertanyaan itu akan menjebak Yesus: apabila Yesus mengatakan “tidak”, maka Dia melawan penguasa Roma, namun bila Yesus mengatakan “ya”, maka Dia adalah seorang pengkianat bangsa Yahudi. Jawaban Yesus di luar dugaan mereka semua: “Berikanlah kepada kaisar (negara) apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”
Inti dari pesan injil hari ini adalah bahwa kebaikan moral membayar pajak kepada Kaisar (Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar), tidak bertentangan dengan kewajiban kita sebagai umat Allah (berikanlah kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah).
Dalam bukunya “Catholic Way”, Mgr Ignatius Suharyo dengan gamblang menggambarkan kewajiban seorang warga Negara yang adalah sekaligus warga gereja Katolik. Bapak uskup Suharyo menjelaskan, bagaimana seorang warga gereja dapat menjadi Katolik 100% dan warga Indonesia 100%. Ia menjelaskan bahwa, seorang Warga Negara Indonesia yang beragama Katolik, justru karena imannya, bergerak melibatkan diri dalam kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan masyarakat Indonesia khususnya yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel.
Himbauan bapak uskup Suharyo ini senada dengan semangat Minggu misi hari ini. Kita dihimbau untuk melakukan peziarahan terus-menerus melintasi berbagai padang gurun kehidupan, melewati beragam pengalaman lapar dan haus akan kebenaran dan keadilan, lalu keluar dari zona nyaman kita sendiri untuk dapat menjangkau semua “pinggiran” yang membutuhkan terang injil. Dalam konteks ini, memiliki semangat misi berarti kita hidup bukan untuk diri sendiri tetapi untuk keselamatan banyak orang.
Mari miningkatkan semangat pelayanan misi kita dalam keluarga, lingkungan, RT/RW, wilayah dan Negara di mana kita tinggal, sebelum menjangkau ke lingkungan yang lebih luas, yaitu ke Negara dan benua yang lain.
KITA DICIPTAKAN UNTUK MENGASIHI

Bacaan I: Kel. 22:21-27. Bacaan II: Tes. 1:5c-10. Injil: Mat. 22:34-40.
KITA DICIPTAKAN UNTUK MENGASIHI
Orang-orang Farisi mengajukan pertanyaan kepada Yesus, tentang hukum manakah yang terbesar dalam Hukum Taurat. Terhadap pertanyaan ini Yesus menjawab bahwa, hukum yang pertama dan terutama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (37-38) dan hukum yang kedua adalah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (39).
Makna dibalik jawaban Yesus ini bukan hanya berlaku bagi orang-orang Farisi, tetapi juga untuk semua orang Kristen. Kita harus mencintai Tuhan tanpa syarat, menempatkan Tuhan lebih utama dari segala sesuatu. Dan bukti kasih kita kepada Tuhan harus ditunjukan dengan mengikuti segala perintah-Nya (1John 2:3; 1Yoh 3:24).
Mengapa manusia harus mencintai Tuhan dan mengasihi sesama? Jawabannya adalah bahwa, karena manusia diciptakan dengan kodrat untuk dapat mencintai Allah dan mengasihi sesamanya. Kodrat itu ada sejak penciptaan manusia pertama Adam dan Hawa, dan terpatri terus dalam semua umat manusia yang dilahirkan ke dunia.
Lalu, mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan kodrat untuk mengasihi? Karena kasih adalah tiket untuk masuk surga. Manusia tidak dapat mencapai Surga, tanpa mengasihi Tuhan dan sesamanya. Begitu pentingnya kasih itu, sehingga rasul Yohanes mengatakan “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” (1Yoh 3:14b) Artinya tidak layak masuk surga.
St. Agustinus menegaskan bahwa sama seperti manusia mempunyai dua kaki untuk berjalan, demikian juga mengasihi Tuhan dan sesama adalah jalan untuk mencapai Surga. Sama seperti burung mempunyai dua sayap untuk terbang, maka kita harus mengasihi Tuhan dan sesama untuk dapat terbang ke Surga. Rasul Yohanes menegaskan hal ini secara gamblang “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1Yoh 4:20). Mari kita hidup dan bertumbuhlah terus dalam kasih, sebab kita semua diciptakan untuk mengasihi.
PAKAIAN PESTA

Bacaan I: Yes. 25:6-10a. Bacaan II: Flp. 4:12-14,19-20. Injil: Mat. 22: 1-14, 1-10.
PAKAIAN PESTA
Dalam bacaan injil hari ini, Yesus mengumpamakan perjamuan surgawi dengan perjamuan nikah seorang putera raja. Raja telah menyebarkan undangan tetapi semua yang diundang tidak datang dengan berbagai macam alasan.
Akhirnya raja mengundang semua orang yang dijumpai di sepanjang jalan untuk mengikuti perjamuan puteranya, tetapi tetap pakaian pesta adalah prasyarat masuk ke dalam perjamuan itu. Apa arti dibalik perumpamaan ini?
Tuhan telah mengirim banyak utusan-Nya untuk memanggil kembali bangsa Israel yang tersesat dan semakin jauh dari pada-Nya, tetapi utusan-utusan itu tidak didengarkan oleh orang Israel. Akhirnya Tuhan mengutus putra-Nya sendiri Yesus Kristus, sebagai jalan, kebenaran dan hidup menuju perjamuan surgawi. Ada yang masih terus melawan hingga ikut menyalibkan Yesus, tetapi ada banyak orang yang menemukan jalan masuk ke dalam perjamuan surga, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi.
Orang pilihan yang masuk perjamuan surga adalah mereka yang mendengarkan perkataan Yesus dan mengikuti teladan hidup-Nya, yang melakukan perbuatan cinta kasih, berlaku adil, jujur dan benar, rendah hati, menerima orang berdosa dan yang terkucilkan dalam masyarakat, memperhatikan yang miskin. Itulah pakaian dan perlengkapan rohani orang katolik.
Kita tentu tidak ingin supaya di saat akhir hidup kita, Tuhan mengulangi pertanyaan ini kepada kita: ”Bagaimana engkau masuk kemari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?” (Mat. 22:12). Lalu kita pun diikat dan dibuang ke dalam kegelapan yang paling gelap. Kita tidak mau supaya kemudian kita ditolak untuk masuk ke dalam perjamuan surga. Sebaliknya kita mau supaya kita diterima sebagai undangan terhormat dalam perjamuan pesta akhir hayat kita.
Maka marilah kita bertanya diri: Apakah saya sudah mengenakan Kristus dalam hidup saya? Apakah saya sudah mengenakan pakaian kebenaran dan keadilan? Apakah saya sudah bersepatukan kejujuran dan kerendahan hati? Apakah saya sudah mengenakan cincin cinta kasih Kristus, berlaku adil, jujur dan benar, dan rendah hati? Mari kita renungkan. (LN).







