Bacaan I. Yun. 3:1-5,10. Bacaan II. 1 Kor. 7:29-31. Bacaan Injil. Mrk. 1:14-20.
Lalu merekapun segera meninggalkan jalanya dan mengikuti Dia. (Mrk 1:18)
Pada misa minggu lalu, sebelum misa dimulai saya melakukan beberapa pembicaraan penting di handphone, akibatnya saya sulit berkonsentrasi selama misa. Berkali-kali tangan saya sudah terjulur untuk mengambil handphone, tapi masih tertahan oleh rasa malu, karena tidak pantas rasanya membuka handphone selama misa. Dan pastinya saya hampir-hampir tidak mendengarkan apa saja yang dikatakan dalam misa itu. Kemudian saat Injil sedang dibacakan, ditengah-tengahnya pastor mengatakan “Apakah yang kamu cari?” (Yoh 1:38), saat itu juga seperti ada sesuatu yang bergerak dalam hati saya. Ya, apakah yang sedang saya cari disini? Sejak itu perhatian saya berubah, dan terus memperhatikan jalannya misa. Apakah hati saya digerakkan oleh suara pastor, atau suara Tuhan? Saya merasa saat itu Roh Kuduslah yang menggerakkan hati untuk mendengar. Pada bacaan-bacaan hari ini, kita menemukan orang-orang Niniwe yang mendengarkan suara Tuhan melalui suara nabi Yunus, mereka langsung percaya, kemudian melakukan doa dan puasa serta merubah perilaku mereka. Pada bacaan Injil, kita menyaksikan Simon dan Andreas yang seketika itu juga meninggalkan jala mereka untuk mengikuti Yesus. Jala itu melambangkan pekerjaan dan sumber pendapatan mereka karena mereka adalah nelayan. Pernahkah kita meninggalkan pekerjaan atau kesenangan-kesenangan kita karena mendengar suara Tuhan yang memanggil? Tuhan selalu memanggil kita umat-Nya melalui berbagai cara, dan dalam berbagai kesempatan serta situasi. Nyanyian Mazmur hari ini mengatakan “TUHAN itu baik dan benar; sebab itu Ia menunjukkan jalan kepada orang yang sesat.” Serta Paulus yang menasihatkan: “Waktunya sudah dekat”, tinggalkanlah segala benda duniawi, kesedihan dan kekuatiran, bahkan kegembiraan untuk dapat fokus kepada Tuhan. Karena pesan inti Yesus hari ini: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” semua yang dipesankan itu hanyalah dapat terjadi apabila kita mendengar dan menanggapi-Nya. Berapa lama lagi kita akan tenggelam dalam berbagai hal dalam hidup kita, makin menjauh serta melupakan suara Tuhan yang selalu menyapa kita. – Aj
Bacaan I. 1 Sam. 3:3b-10,19. Bacaan II. 1 Kor. 6:13c-15a,17-20. Bacaan Injil. Yoh. 1:35-42.
“LIHATLAH ANAK DOMBA ALLAH !”
Pada bacaan hari ini dikisahkan dua orang murid Yohanes Pembaptis yang pergi mengikuti Yesus, begitu mereka mendengar Yohanes mengatakan: “Lihatlah Anak domba Allah!”. Prosesnya terlihat sangat sederhana, mudah dan cepat, kedua murid itu tidak bertanya-tanya siapakah Yesus, apa yang dapat dilakukan-Nya, dan apa untungnya mengikuti Yesus, tetapi mereka seketika itu juga pergi mengikuti Dia. Sedangkan pada bacaan pertama kita mengikuti kisah Samuel muda yang sedang tertidur dan kemudian ia mendengar suara Allah yang memanggil-manggil namanya. Samuel tidak mengenali suara Allah itu, tetapi berkat bimbingan Eli akhirnya ia mengetahui dan dapat menjawab panggilan Tuhan. Dari kedua bacaan itu kita mendapatkan bahwa Allah kita adalah Allah yang selalu membuka hati, menyapa dan memanggil umat-Nya dalam berbagai kesempatan. Begitu inginnya Allah mendekati manusia, sampai Ia rela mengirim Putera-Nya untuk menderita dan menebus dosa manusia, seperti yang baru saja kita rayakan. Sudahkah kita mendengar suara Dia yang selalu memanggil-manggil kita? Mungkin kita sedang tertidur seperti Samuel saat Allah memanggil, mungkin kita terlalu lelap sehingga tidak mendengar suaranya, lelap dalam kebiasaan-kebiasaan kita, dalam keasikan dan kesibukan kita, atau bahkan dalam kedosaan kita. Atau, bila kita seperti kedua murid Yohanes, kita mengajukan banyak pertanyaan dan menguji berbagai hal untuk mengetahui siapakah Yesus, sayangnya, sementara itu Yesus sudah jauh berlalu. “Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah anggota Kristus?”, Paulus mengatakan itu dalam bacaan kedua. Bagaimana mungkin ada anggota tubuh yang tidak mau mendengarkan suara Sang kepala yaitu Kristus? Atau mungkin kita memang tidak menyadari bahwa kita adalah anggota Kristus, karena sudah terlalu lama tidak mendengarkan suara-Nya. Semoga Natal yang baru saja lewat membawakan perubahan pada diri kita, perubahan untuk makin membuka hati, telinga dan diri kita pada orang-orang disekitar kita. Karena Allah justru hadir dan menyapa melalui orang-orang yang kita jumpai. – Aj
Bacaan I. Yes. 60:1-6. Bacaan II. Ef. 3:2-3a,5-6. Bacaan Injil. Mat 2:1-12.
Bangkitlah, menjadi teranglah!
“Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu.” Yes 60:1-2 Raja Herodes sangat terkejut mendengar kabar lahirnya “Raja Orang Yahudi” dari orang majus, iapun segera menyusun rencana untuk membunuh raja yang baru lahir itu. Sebenarnya tindakan Herodes sangatlah logis dan rasional, ia memikirkan kepentingan dirinya sendiri terlebih dahulu. Mungkin kita juga begitu dalam tindakan kita sehari-hari, dalam dunia kerja, bisnis atau bahkan dalam dunia pelayanan kita, keputusan-keputusan diambil berdasarkan pertimbangan-pertimbangan logis dan rasional yang diharapkan akan menguntungkan kita. Tetapi apakah keputusan-keputusan seperti itu yang diharapkan Tuhan dari kita? Pada saat nabi Yesaya menuliskan bacaan pertama, orang Israel baru saja kembali dari pembuangan berpuluh tahun di Babilon, mereka menghadapi reruntuhan negara mereka dan harus membangunnya kembali dalam berbagai ancaman dan hambatan besar, sehingga dikatakan “kegelapan menutupi bumi”, saat ini mungkin kita juga merasakan adanya ancaman kegelapan menutupi negara kita, keputusan-keputusan apakah yang akan kita ambil? Hanya yang logis dan rasional sajakah? Yesaya mengatakan “Bangkitlah, menjadi teranglah!”, dan Paulus berkata tentang: “tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah” dalam bacaan kedua. Dan akhirnya dalam bacaan Injil, Kristus tidak mengambil keputusan yang logis dan rasional untuk lahir sebagai anak raja di istana, tetapi lahir di tempat sederhana untuk merubah dunia. Kelahiran Kristus baru saja kita rayakan satu minggu yang lalu, akankah kita menjadi seperti Herodes yang mulai merencanakan membunuh harapan-harapan itu, atau kita mau menjadi pengikut Kristus yang “Bangkit, menjadi terang”, membawa “tugas penyelenggaraan kasih karunia Allah” dalam diri kita, membagikan keakraban, kehangatan dan kasih kepada orang-orang di sekeliling kita, menuju tema gereja tahun ini: “Kita Bhinneka, Kita Indonesia”? –aj
Keluarga-keluarga terkasih, tahun 2018 telah hadir bagi kita sekeluarga. Allah memberi kita kesempatan untuk memasuki tahun yang baru dengan gembira. Selamat Tahun Baru untuk Anda dan keluarga besar. Semoga segala yang baik diberikan Allah kepada Anda untuk Anda nikmati dan bagikan kepada banyak orang melalui hal-hal yang mendukung hidup bersama. Semoga hidup bersama Anda semakin menggembirakan.
Kami, keluarga Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta mengawali kegiatan komisi dengan bepergian bersama seluruh keluarga kami. Berwisata naik Kereta Api. Anak-anak dan bahkan orangtua kami pun diajak ikut serta. Menyenangkan dan menenangkan karena seluruh keluarga jadi “dekat” dengan komunitas komisi kami. Saya membayangkan bahwa seandainya hal ini terjadi dalam keluarga-keluarga kita semua, maka kedekatan bisa dijalin dan kegembiraan menjadi milik bersama.
Semangat kota besar selalu membawa keluarga untuk terpisah-pisah. Kesibukan dan pilihan aktivitas membuat masing-masing anggota keluarga tidak memiliki kesempatan untuk berinteraksi. Anak-anak mencari pemenuhan kebutuhan di luar, terutama melalui teman-teman sebaya dan teman teman dunia maya. Kekeringan seperti terpenuhi dengan kehadiran orang-orang di luar rumah dan di luar pertemuan fisik. Fenomena ini berimbas pada semakin inginnya orang diterima dan mengumpulkan perhatian dari orang orang di sekitarnya.
Keluarga yang hangat dan dekat adalah kerinduan semua orang. Untuk itu kita perlu menghindarkan diri dari situasi yang menenggelamkan bahtera keluarga menuju kehancuran. Keterlibatan dalam pelayanan Gereja pun tidak bisa menjadi pelarian yang menolong jika kita menghindarkan diri dari keterlibatan kita bersama pasangan, anak-anak dan orangtua kita di rumah. Dukungan, sentuhan, membuat kesepakatan empat mata, memberi senyuman asli, adalah cara-cara klasik yang seharusnya dilanjutkan, karena terbukti hal ini tidak tergantikan oleh dukungan online yang tanpa emosi.
Memang menyenangkan dan membuat kecanduan juga membaca komentar-komentar positif dan memotivasi. Komentar ini membuat kita ingin lebih lama lagi di sosial media itu. Kondisi ini juga membuat kecanduan dan mengabaikan dukungan otentik keluarga di rumah. kecanduan itu mengacaukan kebutuhan dukungan personal dari orang-orang terkasih. Fenomena “online likes” seperti ini sedikit banyak mempengaruhi relasi dalam keluarga.
Hal lain sebagai akibat dari terlalubanyaknya relasi online dan kecanduan internet adalah masalah kemalasan yang menurut sharing banyak keluarga amat mengganggu, khususnya di kalangan anak-anak dan remaja. Kemalasan dan penurunan prestasi pasti tidak mudah ditangani jika persoalan kecanduan ini tidak diselesaikan.
Di kalangan orang-orang dewasa, khususnya terkait dengan kehidupan menggereja, orang menjadi enggan terhubung dengan lingkungannya, karena merasa sayang meninggalkan aktivitas online-nya. Dunia religious mendapat pesaing dari dunia maya, karena banyak orang memilih aktivitas yang mereka kira sangat efektif dan “mengisi”. Kenyataannya, orang sibuk dengan dirinya sendiri, meninggalkan hidup bersama dan berjemaat, serta dikosongkan hidupnya karena dijerat waktu tanpa batas bersama jaringan elektronik itu.
Jika orang tidak terhubung dengan lingkungan sekitarnya, maka ia pun tidak memiliki hubungan emosional yang cukup untuk merasakan perasaan dicintai, diterima dan dibutuhkan. Selanjutnya, bisa saja ia kehilangan kerinduan untuk melibatkan diri, mengikatkan diri, dan akhirnya tidak mempunyai keinginan mempersembahkan diri secara tulus karena merasa kurang berguna.
Keluarga-keluarga yang terkasih, jika sebelum era digital, banyak keluarga Katolik kurang terlibat di lingkungannya, karena kesibukan pekerjaan, sekarang ini, jika kurang diperhatikan, maka semakin sulitlah melibatkan diri karena tantangan digital tadi. Kita berhadapan dengan situasi yang sangat tidak mudah. Anak-anak dan orangtua makin melek informasi, tetapi tidak selalu yang berguna. Mereka akan diarahkan untuk semakin rasional dan apatis pada lingkungan sekitarnya jika kita membiarkan mereka terlalu lama bermain games, media sosial, atau surfing internet.
Dalam pelayanan Gereja, dituntut juga suatu ketulusan atau keikhlasan sebagai dasar melayani. Kita perlu dengan tulus membuka diri pada pelayanan yang mengundang aksi nyata. Karya nyata ini tidak mungkin dilakukan sempurna dengan semangat “ingin tampil”, “ingin berkuasa”, apalagi “mencari untung”. Dunia digital mengarahkan kita kepada semangat itu. Media sosial membuat kita terkenal, menguasi orang lain, dan bahkan mencari keuntungan dengan lebih mudah. Barangkali renungan ini pantas kita cermati sebagai inspirasi bagi pelayanan terbaik kita.
Jangan tinggalkan rumah terlalu lama. Jangan abaikan perhatian bagi keluarga, fokus pada pasangan, anak-anak, dan orangtua tanpa terbagi. Dan selanjutnya, layanilah Tuhan dengan gembira melalui ketulusan dan keikhlasan yang murni. Saya percaya, kehidupan keluarga kita semua akan lebih baik dan seimbang jika kita memperhatikan hal-hal ini dengan baik. Segala sesuatu yang baik tidak boleh hanya ada di dalam konsep suci dan kata-kata bijaksana. Semua harus terwujud nyata.
Selamat memasuki Tahun Baru 2018, selamat melayani, semoga sebagai orang Katolik sejati, kita semakin kreatif mempersembahkan diri secara nyata, semakin manusiawi dalam berelasi, dan semakin rohani dalam melayani. Semoga seluruh keluarga diberkati. Amin
Bacaan I. Sir. 3:2-6,12-14. Bacaan II. Kol 3:12-21. Bacaan Injil. Mat 2:13-15,19-23.
MENGHADIRKAN TUHAN
Apa arti kata kudus atau suci, yang biasa kita sematkan pada kata seperti roh, gereja (bangunan), Gereja (Umat Allah), altar, kitab, orang, dan sebagainya? Jawaban yang akan sering muncul adalah: murni, tidak bercela, tidak berdosa. Seorang teolog mengatakan, sesuatu disebut kudus atau suci sejauh dihubungkan dengan Tuhan. Kitab dianggap kudus atau suci karena kita percaya isinya adalah wahyu Tuhan. Gereja diimani sebagai kudus dan suci bukan karena orang-orangnya tidak berdosa, tetapi karena kita percaya di dalam gereja ada Tuhan; kita percaya Gereja juga membawa kita kepada Tuhan, dan seterusnya. Hari ini kita merayakan Pesta Keluarga Kudus. Keluarga Yesus-Maria-Yosef oleh Gereja diimani sebagai Keluarga Kudus karena di dalam keluarga itu Tuhan hadir secara paling nyata dalam diri Yesus. Kita percaya bahwa Yesus Kristus sepenuhnya Tuhan dan sepenuhnya manusia. Artinya, bukan hanya menjadi manusia, Tuhan Yesus juga menjadi bagian dari keluarga. Bacaan Injil hari ini memperlihatkan bahwa kehadiran Tuhan dalam keluarga Yesus-Maria-Yosef sedemikian riilnya. Yosef dan Maria membawa bayi Yesus ke Yerusalem untuk menjalani budaya religius Yahudi, lengkap dengan persembahan burung merpati. Tetapi waktu itu sisi ilahi kehadiran Yesus juga sudah dimunculkan, dalam bentuk kesaksian Simeon dan Hanna. Simeon berkata, “Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan” – kalimat yang pasti mengaduk-aduk perasaan Bunda Maria dan Bapa Yosef. Gereja sedang mengajak kita menjadi Keluarga Kudus, dengan lebih proaktif membawa Yesus ke dalam keluarga kita. Melalui bacaan kedua, surat Rasul Paulus pada jemaat di Kolose, Gereja menunjukkan sisi teknisnya. Semua anggota keluarga diimbau untuk “mengenakan pakaian belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran.” Sementara itu ada pesan khusus bahwa istri harus tunduk pada suami; harus mengasihi istri; dan anak harus taat pada orangtua. (her)