Kata gloria artinya kemuliaan, adalah madah yang sering kita nyanyikan (kadang kala kita ucapkan) dalam Misa. Lewat madah Kemuliaan ini Gereja berkumpul atas dorongan Roh Kudus memuji Allah Bapa dan Anak domba Allah (Kristus Tuhan), serta memohon belaskasihan-Nya. Kemuliaan dinyanyikan atau diucapkan pada Hari-hari Raya dan Pesta, pada perayaan-perayaan meriah, dan setiap Hari Minggu di luar Masa Adven dan Pra-Paskah.
Makna liturgis dari madah kemuliaan ini diilhami oleh nyanyian para malaikat di Betlehem, pada saat kelahiran Yesus (Lukas 2: 14). Gereja ikut menyanyikan dengan maksud memuji Allah Bapa dan Putera-Nya dalam liturgi. Dan Roh Kudus sendirilah yang mendorong kita umat beriman untuk memuliakan Allah Bapa, Putera, dan Roh Kudus. Pujian ini terasa pas juga untuk menyertai permohonan belas kasihan dari Allah. Madah Kemuliaan ini membantu menciptakan suasana liturgi yang meriah atau agung, sehingga memiliki karakter atau sifat pesta (festum).
Madah ini dibawakan dengan sikap tubuh berdiri tegap menggambarkan suasana batin kita yang mau memuji dan memuliakan Allah dengan hormat, tulus dan gembira. Biasanya Madah Kemuliaan versi-versi klasik dimulai oleh solis. Artinya sang solis-lah yang memulai bagian awal madah ini, maka tidaklah harus imam selebran. Karena itu, madah ini adalah milik umat, tidak bersifat presidensial. Kalau memang tidak ada solis atau wakil umat yang bisa diminta berperan, maka barulah imam selebran yang mengisi kekosongan itu. Pilihan untuk membawakannya: dilagukan atau diucapkan oleh umat secara bersama-sama atau bergantian; secara silih berganti antara solis atau paduan suara dengan umat, namun bukan antara imam selebran dengan umat; atau hanya oleh paduan suara. Bersambung P. Tinus Sirken, O.S.C.
Kata “absolusi” (absolution), artinya “pengampunan”. Rumusan absolusi umum dalam perayaan Ekaristi berbeda dari rumusan pengampunan sakramental seperti dalam Sakramen Tobat (PUMR 51). Rumusan umum dalam perayaan Sakramen Ekaristi lebih pendek dan tidak disertai baik penumpangan tangan maupun berkat. Beginilah bunyinya, Imam berdoa: “Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal.” Dan umat menjawab: “Amin”. Karena imam tidak perlu menumpangkan tangan ataupun memberi berkat, maka umat pun tidak perlu membuat Tanda Salib, umat cukup menyerukan amin saja.
Tuhan Kasihanilah
Pernyataan tobat selalu disambung dengan Tuhan Kasihanilah - Kyrie Eleison kecuali kalau seruan Tuhan Kasihanilah telah tercantum dalam pernyataan tobat. Sifat Tuhan Kasihanilah ialah berseru kepada Tuhan dan memohon belaskasihan-Nya. Tuhan
Kasihanilah biasanya dilagukan oleh seluruh umat secara responsorial, artinya, dinyanyikan silih-berganti antara umat dan paduan suara atau solis (PUMR 52).
Pemercikan Air Suci
Ritus tobat boleh diganti dengan pemercikan air suci. Pemercikan air suci mengingatkan kita akan Sakramen Pembaptisan. Saat kita dibersihkan dari segala dosa dan diterima sebagai anggota Gereja. Pemercikan air suci ini dapat berlaku khususnya untuk perayaan pada hari-hari pesta bernada gembira (Paskah, Natal dsb), yang sudah sepantasnya kurang menonjolkan perasaan sedih dan sesal. Dan dapat juga dipraktekkan untuk setiap perayaan hari Minggu (termasuk Sabtu sore). Sesudah pemercikan langsung menyusul absolusi dan tidak perlu lagi mengucapkan atau menyanyikan ‘Tuhan Kasihanilah’.
Selama pemercikan sebaiknya diiringi lagu yang selaras temanya dengan tindakan simbolis yang sedang diperagakan (misalnya, Asperges me, atau Vidi aquam untuk Paskah). Umat tidak harus membuat Tanda Salib, sekalipun terkena percikan air suci. Namun, kalau mau membuat Tanda Salib, itu dapat dimaknai sebagai ungkapan kesadaran kita sebagai anak-anak Allah dan kesetiaan kita pada janji baptis (TPE: BU, 2005).
Setelah memberikan pengantar singkat, imam kemudian mengajak seluruh umat untuk mengambil bagian dalam pengakuan dosa bersama (Confiteor) dan diakhiri oleh absolusi dari imam. Makna liturgis dari pengakuan bersama ini adalah seluruh umat mengakui dan mohon pengampunan kepada Allah dan kepada sesama atas dosa-dosa dan atas apa saja yang telah ia lakukan dengan salah. Gereja percaya bahwa Allah Bapa sedang menunggu untuk memperlihatkan kepada putra-putri-Nya cinta, kerahiman dan pengampunan-Nya. Ritus Tobat ini mencakup unsur-unsur berikut.
Pengakuan Bersama Seluruh umat mengakui dosanya melalui rumusan doa: “Saya mengaku kepada Allah yang mahakuasa dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa (sambil menebah dada). Oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita”.
Makna dari tata gerak menepuk atau menebah dada tiga kali, pada saat kita mengucapkan “saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh
berdosa”. Sikap batin ini mengacu pada pengalaman alkitabiah. Dalam Injil (Lukas 18: 13) dikisahkan “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya, Allah, kasihanilah aku orang berdosa
ini.”
Berinspirasi pada pengalaman biblis ini, Gereja memahami bahwa dada hanyalah simbol. Makna sesungguhnya dari sikap menebah
dada ialah menebah atau menyadari hati. Hati dianggap sebagai biang dari segala dosa manusia (Markus 7:21). Maka, sumber retaknya hubungan antar manusia dan antara manusia dengan Allah adalah hati manusia. Sehingga gerakan tangan yang menepuk atau menebah mengungkapkan rasa sesal dan tobat, dan disertai kehendak untuk membuat atau menjadikan hati yang bertobat itu menjadi baru. Menebah “tiga kali” bermakna “sungguh-sungguh menyesali dosa dan bertobat”. Dapat juga dengan cara meletakkan telapak tangan pada dada dan menundukkan kepala selama pengakuan bersama atau dengan cara lain lagi yang lebih sesuai seturut kebiasaan setempat.
Komunitas dapat memilih posisi tubuh berdiri atau berlutut yang dirasa sesuai dengan cita rasa budaya umat beriman, yang tentu maknanya selaras dengan makna dan maksud Ritus Tobat. Sebaiknya komunitas memilih salah satu cara untuk dipraktekan bersama supaya menandakan kesatuan hati umat.
Kata “absolusi” (absolution), artinya “pengampunan”. Rumusan absolusi umum dalam perayaan Ekaristi berbeda dari rumusan pengampunan sakramental seperti dalam Sakramen Tobat (PUMR 51). Rumusan umum dalam perayaan Sakramen Ekaristi lebih pendek dan tidak disertai baik penumpangan tangan maupun berkat. Beginilah bunyinya, Imam berdoa: “Semoga Allah yang mahakuasa mengasihani kita, mengampuni dosa kita, dan menghantar kita ke hidup yang kekal.” Dan umat menjawab: “Amin”. Karena imam tidak perlu menumpangkan tangan ataupun memberi berkat, maka umat pun tidak perlu membuat Tanda Salib, umat cukup menyerukan amin saja.
Tuhan Kasihanilah
Pernyataan tobat selalu disambung dengan Tuhan Kasihanilah - Kyrie Eleison kecuali kalau seruan Tuhan Kasihanilah telah tercantum dalam pernyataan tobat. Sifat Tuhan Kasihanilah ialah berseru kepada Tuhan dan memohon belaskasihan-Nya. Tuhan
Kasihanilah biasanya dilagukan oleh seluruh umat secara responsorial, artinya, dinyanyikan silih-berganti antara umat dan paduan suara atau solis (PUMR 52).
Pemercikan Air Suci
Ritus tobat boleh diganti dengan pemercikan air suci. Pemercikan air suci mengingatkan kita akan Sakramen Pembaptisan. Saat kita dibersihkan dari segala dosa dan diterima sebagai anggota Gereja. Pemercikan air suci ini dapat berlaku khususnya untuk perayaan pada hari-hari pesta bernada gembira (Paskah, Natal dsb), yang sudah sepantasnya kurang menonjolkan perasaan sedih dan sesal. Dan dapat juga dipraktekkan untuk setiap perayaan hari Minggu (termasuk Sabtu sore). Sesudah pemercikan langsung menyusul absolusi dan tidak perlu lagi mengucapkan atau menyanyikan ‘Tuhan Kasihanilah’.
Selama pemercikan sebaiknya diiringi lagu yang selaras temanya dengan tindakan simbolis yang sedang diperagakan (misalnya, Asperges me, atau Vidi aquam untuk Paskah). Umat tidak harus membuat Tanda Salib, sekalipun terkena percikan air suci. Namun, kalau mau membuat Tanda Salib, itu dapat dimaknai sebagai ungkapan kesadaran kita sebagai anak-anak Allah dan kesetiaan kita pada janji baptis (TPE: BU, 2005).
Setelah memberikan pengantar singkat, imam kemudian mengajak seluruh umat untuk mengambil bagian dalam pengakuan dosa bersama (Confiteor) dan diakhiri oleh absolusi dari imam. Makna liturgis dari pengakuan bersama ini adalah seluruh umat mengakui dan mohon pengampunan kepada Allah dan kepada sesama atas dosa-dosa dan atas apa saja yang telah ia lakukan dengan salah. Gereja percaya bahwa Allah Bapa sedang menunggu untuk memperlihatkan kepada putra-putri-Nya cinta, kerahiman dan pengampunan-Nya. Ritus Tobat ini mencakup unsur-unsur berikut.
Pengakuan Bersama Seluruh umat mengakui dosanya melalui rumusan doa: “Saya mengaku kepada Allah yang mahakuasa dan kepada saudara sekalian, bahwa saya telah berdosa dengan pikiran dan perkataan, dengan perbuatan dan kelalaian. Saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh berdosa (sambil menebah dada). Oleh sebab itu saya mohon kepada Santa Perawan Maria, kepada para malaikat dan orang kudus dan kepada saudara sekalian, supaya mendoakan saya pada Allah, Tuhan kita”.
Makna dari tata gerak menepuk atau menebah dada tiga kali, pada saat kita mengucapkan “saya berdosa, saya berdosa, saya sungguh
berdosa”. Sikap batin ini mengacu pada pengalaman alkitabiah. Dalam Injil (Lukas 18: 13) dikisahkan “Tetapi pemungut cukai itu berdiri jauh-jauh, bahkan ia tidak berani menengadah ke langit, melainkan ia memukul diri dan berkata: Ya, Allah, kasihanilah aku orang berdosa
ini.”
Berinspirasi pada pengalaman biblis ini, Gereja memahami bahwa dada hanyalah simbol. Makna sesungguhnya dari sikap menebah
dada ialah menebah atau menyadari hati. Hati dianggap sebagai biang dari segala dosa manusia (Markus 7:21). Maka, sumber retaknya hubungan antar manusia dan antara manusia dengan Allah adalah hati manusia. Sehingga gerakan tangan yang menepuk atau menebah mengungkapkan rasa sesal dan tobat, dan disertai kehendak untuk membuat atau menjadikan hati yang bertobat itu menjadi baru. Menebah “tiga kali” bermakna “sungguh-sungguh menyesali dosa dan bertobat”. Dapat juga dengan cara meletakkan telapak tangan pada dada dan menundukkan kepala selama pengakuan bersama atau dengan cara lain lagi yang lebih sesuai seturut kebiasaan setempat.
Komunitas dapat memilih posisi tubuh berdiri atau berlutut yang dirasa sesuai dengan cita rasa budaya umat beriman, yang tentu maknanya selaras dengan makna dan maksud Ritus Tobat. Sebaiknya komunitas memilih salah satu cara untuk dipraktekan bersama supaya menandakan kesatuan hati umat.