Seri: 05
RITUS PEMBUKA

Tanda Salib
Setelah imam selebran tiba di kursi pemimpin liturgi, ia menghadap umat dan mengajak mereka menandai dirinya dengan tanda Salib. Sebagai tanda atau lambang pengungkapan kebenaran sejati yang sedang terjadi pada diri umat. Kebenaran sejati dimaksud ialah tata
gerak menandai diri dengan tanda Salib, menyadarkan dan mengingatkan diri akan Sakramen Pembaptisan yang telah diterima, sebab melalui tanda Salib, diri kita diangkat menjadi anak-anak Allah dan dimasukan menjadi anggota Gereja (Tubuh Mistik Kristus). Diri kita yang telah dibaptis dan segala sesuatu yang dilakukan dalam liturgi sekarang ini dalam nama Trinitas: dalam Allah Bapa, dengan pengantaraan Putera-Nya dan bersama dengan kekuatan Roh Kudus.
Tanda Salib yang kita buat pada tubuh kita, juga bermakna mengingatkan kita bahwa jantung dari Perayaan Ekaristi adalah Misteri Paskah Kristus (Penderitaan, Kematian, dan KebangkitanNya). Dan lagi seluruh doa kita yang diawali dengan tanda Salib sedang mengungkapkan bahwa semua pribadi beriman yang berhimpun adalah milik Yesus Kristus yang mencintai kita dan sebaliknya pula kita juga mencintai Dia. Kata “Amin” diserukan pada akhir Tanda Salib sebagai ungkapan persetujuan hati kita terhadap peristiwa iman yang sedang terjadi: “Ya, saya setuju.”
Imam selebran kemudian memberi salam kepada umat: Tuhan bersamamu.
Umat menjawab: Dan bersama rohmu.
Salam imam selebran dan jawaban umat ini mengingatkan kita bahwa Roh Kristus yang telah bangkit dan diterima pada saat pembaptisan itu, saat ini dan di sini (hic at nun) hadir dalam diri imam selebran dan dalam diri segenap umat beriman yang percaya dan berhimpun untuk merayakan Ekaristi bersama dengan Kristus Tuhan. Jadi, Roh Tuhan sendirilah yang memimpin Perayaan Ekaristi.
Kursi Imam Selebran
Tanda Salib dilakukan dari kursi imam selebran (pemimpin liturgi). Berdiri di depan kursi pemimpin liturgi sebagai lambang kewibawaan
seorang pemimpin, gembala, pengajar, dan pengantar doa. Maka mulai sejak Tanda Salib sampai usai Doa Pembuka, imam selebran tetap berdiri di depan kursi pemimpin liturgi. Oleh karena itu, kursi imam selebran itu tidak hanya punya arti fungsional, tetapi juga sarat dengan makna simbolis, teologis-liturgis.
P. Tinus Sirken, OSC




