1. Gerakan ini tidak dimaksudkan untuk menambah jumlah kegiatan/program karya di Paroki atau komunitas. Usulan-usulan berikut ini hanyalah mengisi program karya atau kegiatan yang sudah rutin dilakukan di banyak Paroki atau Komunitas dengan memberi arah gerakan sesuai semangat dari tahun Persatuan 2018 ini. 2. Kekhasan dari Gerakan Tahun Persatuan adalah sedapat mungkin kepanitiaan melibatkan lembaga lintas agama atau tetangga sekitar 3. Seluruh umat didorong untuk terlibat aktif dalam kegiatan bersama tetangga sekitar lintas agama 4. Dalam setiap kegiatan bersama masyarakat sekitar tetap memperhatikan konteks dan situasi sehingga semuanya dapat berjalan dengan baik, lancar dan damai. 5. Gerakan tahun persatuan ini dapat dilaksanakan lagi pada tahun berikutnya sebagai program berkelanjutan. 6. Karya sosial yang sudah ada dan biasa dilakukan tetap dilaksanakan secara rutin.
1. Gerakan ini tidak dimaksudkan untuk menambah jumlah kegiatan/program karya di Paroki atau komunitas. Usulan-usulan berikut ini hanyalah mengisi program karya atau kegiatan yang sudah rutin dilakukan di banyak Paroki atau Komunitas dengan memberi arah gerakan sesuai semangat dari tahun Persatuan 2018 ini. 2. Kekhasan dari Gerakan Tahun Persatuan adalah sedapat mungkin kepanitiaan melibatkan lembaga lintas agama atau tetangga sekitar 3. Seluruh umat didorong untuk terlibat aktif dalam kegiatan bersama tetangga sekitar lintas agama 4. Dalam setiap kegiatan bersama masyarakat sekitar tetap memperhatikan konteks dan situasi sehingga semuanya dapat berjalan dengan baik, lancar dan damai. 5. Gerakan tahun persatuan ini dapat dilaksanakan lagi pada tahun berikutnya sebagai program berkelanjutan. 6. Karya sosial yang sudah ada dan biasa dilakukan tetap dilaksanakan secara rutin.
FILOSOFI LOGO TEMA 2018 “TAHUN PERSATUAN” KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA “AMALKAN PANCASILA: KITA BHINNEKA, KITA INDONESIA”
Bentuk oval adalah simbol dari ikatan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang kokoh-kuat. Pelbagai unsur dalam konfigurasi oval membentuk: a) telur yang telah pecah menetas sebagai tanda kebangkitan bangsa Indonesia yang bersatu dan siap mengalahkan pelbagai kepentingan yang hendak memecah-belah; b) Siluet Bunda Maria yang mendekap burung Garuda menjadi simbol penyertaan dan doa-restu St. Maria, Bunda Segala Suku bagi NKRI yang berlandaskan Pancasila.
Garis silang warna kuning emas yang melintas di bagian atas, selain menjadi simbol garis khatulistiwa, juga menjadi tanda Salib sebagai bentuk kehadiran Tuhan yang telah memberikan pelbagai anugerah, memberkati, membimbing, dan menuntun perjalanan NKRI.
Bagian paling atas setengah lingkaran konfigurasi oval berwarna hijau merupakan representasi dari pohon beringin, lambang sila ketiga Pancasila yang menjadi fokus pastoral evangelisasi 2018, yaitu menghayati dan semakin mewujudkan serta menguatkan nilai-nilai “Persatuan Indonesia” di tengah masyarakat.
Di bawah setengah lingkaran hijau ada bagian berwarna merah dan putih yang menandakan warna bendera Indonesia dengan pulau-pulau berwarna warni untuk mengingatkan kita betapa luasnya tanah air Indonesia dengan 17.508 pulau dan dengan beragam kekayaan alam serta budayanya.
Siluet putih kepala burung Garuda menandai Dasar Negara yang mengikat pelbagai keragaman Indonesia.
Dua tangan dengan warna yang berbeda dan saling menggenggam adalah simbol semangat pelbagai komponen bangsa lintas budaya, suku, adat-istiadat, agama, dan golongan untuk bersatu dan bekerja sama membangun negeri ini dengan rasa, cipta, cinta kasih, karsa, dan keyakinan terhadap Tuhan yang Maha Esa.
Di sekeliling konfigurasi oval terdapat tulisan tema Tahun Pastoral Evangelisasi 2018 “AMALKAN PANCASILA: KITA BHINNEKA, KITA INDONESIA” dilengkapi bendera Merah Putih yang berkibar dan Garuda Pancasila. Tulisan “AMALKAN PANCASILA” abu-abu sebagai warna permanen bermakna komitmen dan ketetapan hati. Tulisan “KITA” berwarna hijau mengandung semangat menjaga keutuhan ciptaan. Tulisan “BHINNEKA” berwarna-warni sebagai simbol keberagaman. Tulisan “KITA INDONESIA” berwarna merah menandai semangat keberanian untuk bersatu-padu mempertahankan NKRI, Pancasila, dan UUD 1945
FILOSOFI LOGO TEMA 2018 “TAHUN PERSATUAN” KEUSKUPAN AGUNG JAKARTA “AMALKAN PANCASILA: KITA BHINNEKA, KITA INDONESIA”
Bentuk oval adalah simbol dari ikatan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang kokoh-kuat. Pelbagai unsur dalam konfigurasi oval membentuk: a) telur yang telah pecah menetas sebagai tanda kebangkitan bangsa Indonesia yang bersatu dan siap mengalahkan pelbagai kepentingan yang hendak memecah-belah; b) Siluet Bunda Maria yang mendekap burung Garuda menjadi simbol penyertaan dan doa-restu St. Maria, Bunda Segala Suku bagi NKRI yang berlandaskan Pancasila.
Garis silang warna kuning emas yang melintas di bagian atas, selain menjadi simbol garis khatulistiwa, juga menjadi tanda Salib sebagai bentuk kehadiran Tuhan yang telah memberikan pelbagai anugerah, memberkati, membimbing, dan menuntun perjalanan NKRI.
Bagian paling atas setengah lingkaran konfigurasi oval berwarna hijau merupakan representasi dari pohon beringin, lambang sila ketiga Pancasila yang menjadi fokus pastoral evangelisasi 2018, yaitu menghayati dan semakin mewujudkan serta menguatkan nilai-nilai “Persatuan Indonesia” di tengah masyarakat.
Di bawah setengah lingkaran hijau ada bagian berwarna merah dan putih yang menandakan warna bendera Indonesia dengan pulau-pulau berwarna warni untuk mengingatkan kita betapa luasnya tanah air Indonesia dengan 17.508 pulau dan dengan beragam kekayaan alam serta budayanya.
Siluet putih kepala burung Garuda menandai Dasar Negara yang mengikat pelbagai keragaman Indonesia.
Dua tangan dengan warna yang berbeda dan saling menggenggam adalah simbol semangat pelbagai komponen bangsa lintas budaya, suku, adat-istiadat, agama, dan golongan untuk bersatu dan bekerja sama membangun negeri ini dengan rasa, cipta, cinta kasih, karsa, dan keyakinan terhadap Tuhan yang Maha Esa.
Di sekeliling konfigurasi oval terdapat tulisan tema Tahun Pastoral Evangelisasi 2018 “AMALKAN PANCASILA: KITA BHINNEKA, KITA INDONESIA” dilengkapi bendera Merah Putih yang berkibar dan Garuda Pancasila. Tulisan “AMALKAN PANCASILA” abu-abu sebagai warna permanen bermakna komitmen dan ketetapan hati. Tulisan “KITA” berwarna hijau mengandung semangat menjaga keutuhan ciptaan. Tulisan “BHINNEKA” berwarna-warni sebagai simbol keberagaman. Tulisan “KITA INDONESIA” berwarna merah menandai semangat keberanian untuk bersatu-padu mempertahankan NKRI, Pancasila, dan UUD 1945
Norma umum Tahun Liturgi dan Kalender (General Norms for the Liturgical Year and the Calendar), menyebutkan demikian: (32) setelah perayaan Misteri Paskah tahunan, Gereja merayakan perayaan kudus pengenangan akan kelahiran Kristus dan permulaan penampakan , inilah maksud dari Masa Natal; (33) perayaan Masa Natal dimulai dari Ibadat Sore I sampai Hari Minggu sesudah Penampakan, atau setelah 6 Januari; (34) perayaan Ekaristi malam Natal dirayakan pada 24 Desember malam, sebelum atau sesudah Ibadat Sore I. Norma Tahun Liturgi ini mengajarkan kita bahwa Masa Natal mulai pada 24 Desember (Malam Natal) dengan Misa pertama Natal. Dalam liturgi, hari-hari khusus sepanjang Tahun Liturgi dimulai pada malam sebelumnya; yang seringkali dengan Misa Vigili. Natal adalah pesta yang menakjubkan pada saat kita merayakan kedatangan Yesus ke dalam dunia untuk memperlihatkan kepada kita betapa besarnya Allah mengasihi kita. Sebagai persiapan dalam Gereja, lilin dalam lingkaran Adven dinyalakan. Pada rumah-rumah dan gereja-gereja, gambar atau patung bayi Yesus ditempatkan di dalam palungan. Keluarga-keluarga memberi dan menerima hadiah dan menikmati satu hari bersama, dan dapat membaca kisah kelahiran Yesus dalam Injil Lukas 2:1-20. Sepanjang Masa Natal warna yang dipakai oleh imam pada Misa adalah putih. Terdapat sejumlah pesta-pesta penting dan hari raya termasuk Keluarga Kudus (Hari Minggu sesudah Natal), Maria, Bunda Allah (1 Januari) dan Penampakan Tuhan (Hari Minggu sesudah 1 Januari atau 6 Januari di sejumlah tempat). Keseluruhan perayaan-perayaan ini memperdalam pengetahuan dan pengertian kita kepada kelahiran Kristus di antara kita. Penampakan Tuhan (Epiphany) dirayakan dalam Masa Natal. Epiphany adalah pesta di mana kita mengingat ketiga orang bijak atau sarjana yang mengunjungi Yesus. Mereka menempuh perjalanan dari belahan dunia yang jauh yang mana mengingatkan kita bahwa Yesus datang untuk menyelamatkan semua orang, tanpa memperhitungkan dari mana mereka datang. Kita dapat membaca kisah ini dalam Injil Matius 2:1-12. Masa Natal berakhir dangan pesta Pembaptisan Tuhan. Pesta ini dirayakan saat Yesus dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes Pembaptis. Kita dapat membaca tentang kisah ini dalam Injil Matius 3:13-17. Gereja menghubungkan Pembaptisan Tuhan, dengan Penampakan Tuhan bersama dengan kisah pesta Perkawinan di Kana (Yoh 2:1-11). Setiap ceritra-ceritra ini adalah tentang Yesus diperkenalkan kepada dunia.