ASAL KATA "ALTAR"
Sebenarnya asal-usul kata “altar” kurang jelas, entah dari kata Latin “alta res” yang berarti “hal yang tinggi” atau “alta ara” yang berarti “altar yang tinggi”. Orang-orang Romawi kuno sudah membedakan dua macam altar: [1] “ara” merupakan altar kecil yang dapat dipindah-pindahkan, dipakai untuk kegiatan kultik orang biasa, untuk pengenangan orang mati, dsb; [2] “altare” merupakan altar yang lebih monumental, dibangun menjulang, khususnya untuk kegiatan kultik kaum kalangan atas. Umat Kristiani perdana meminjam istilah “altare” itu terutama untuk menunjuk pada meja Kurban Perjanjian Baru. MAKNA DAN FUNGSI ALTAR. Di atas altar, Kurban Salib dihadirkan dalam rupa tanda-tanda sakramental. Altar adalah meja Tuhan; di sekelilingnya umat Allah berhimpun dan saling berbagi. Altar menjadi pusat kegiatan bersyukurnya umat. Altar, sebagai meja perjamuan kudus, seharusnya menjadi yang paling mulia dan paling indah. Hendaknya dirancang dan dibangun bagi keperluan kegiatan liturgis komunitas / umat. Altar adalah tanda Kristus; altar adalah simbol Kristus sendiri. UMAT KRISTIANI JUGA MERUPAKAN ALTAR. Altar adalah simbol Kristus.Altar adalah juga Kristus sendiri. Itu memang makna simbolisasi liturgisnya. Namun dalam tataran spiritual ternyata altar juga menyimbolkan umat kristiani. Maksudnya, umat kristiani adalah altar-altar spiritual tempat kurban hidupnya dipersembahkan bagi Allah. St Ignatius dari Antiokhia, St Polikarpus, dan St Gregorius Agungpernah menyinggung gagasan ini. Orang kristiani yang memberikan dirinya sendiri, entah lewat doa maupun pengorbanan, menjadi batu-batu penjuru, di mana Yesus membangun altar Gereja-Nya. Dari altar mengalirlah spiritualitas jemaat dan setiap pribadi anggota Gereja. Sumber: “Simbol-Simbol Sekitar Perayaan Ekaristi: Altar”; Pamflet Liturgi M3 Mengalami, Merawat, Menarikan Liturgi; diterbitkan oleh ILSKI (Institut Liturgi Sang Kristus Indonesia




