Saudara-saudari Terkasih, [1] . Praktek-praktek tobat dianjurkan oleh Gereja teristimewa selama Masa Prapaskah ini; termasuk di dalamnya adalah hal berpuasa. Berpuasa berarti secara khusus membatasi diri dalam mengkonsumsi makanan, selain dari apa yang dibutuhkan untuk menjaga stamina tubuh. Bentuk tradisional dari tobat ini masih tetap maknanya; tetapi sungguh, mungkin sepatutnya digali kembali maknanya, khususnya di bagian-bagian dunia dan dalam situasi-situasi tertentu di mana tidak hanya makanan berlimpah, tetapi orang bahkan jatuh sakit karena terlalu banyak makan. Puasa tobat jelas merupakan sesuatu yang sangat berbeda dari diet terapi atau pengobatan, tetapi dengan maknanya sendiri dapat dianggap sebagai terapi bagi jiwa. Sesungguhnya, puasa tobat yang dilakukan sebagai tanda tobat, membantu orang dalam usaha batinnya untuk mendengarkan Tuhan. Berpuasa adalah menegaskan kembali pada diri sendiri apa yang dikatakan Yesus kepada setan ketika ia mencobai-Nya di akhir masa puasa-Nya selama 40 hari di padang gurun: “Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat 4:4). [2]. Sekarang, teristimewa dalam masyarakat yang makmur, sungguh sulit menangkap arti dari kata-kata Injil ini. Konsumerisme, bukannya memuaskan kebutuhan manusia, malahan secara terus-menerus menciptakan kebutuhan-kebutuhan baru, kerapkali menimbulkan aktivitas-aktivitas yang berlebihan. Segala sesuatu tampak penting dan mendesak dan orang bahkan mengambil resiko untuk tidak meluangkan waktu bagi dirinya sendiri barang sejenak.Peringatan St Agustinus menjadi semakin lebih mendesak dari waktu-waktu sebelumnya. “Masuklah kembali ke dalam dirimu sendiri.” Ya, kita harus masuk kembali ke dalam diri kita sendiri jika kita ingin menemukan diri kita. Bukan hanya kehidupan rohani kita yang dipertaruhkan, melainkan sungguh, juga keharmonisan pribadi, keluarga dan sosial kita sendiri.Salah satu makna dari puasa tobat adalah membantu kita memulihkan kembali kehidupan batin kita. Usaha untuk membatasi diri dalam hal makanan juga diperluas pada hal-hal lainnya yang tidak perlu, dan ini merupakan suatu pertolongan yang besar bagi kehidupan rohani. Pengendalian diri, renungan dan doa berjalan seiring.Perinsip ini dapat dengan tepat diterapkan pada media masa. Manfaat media masa tak disangkal lagi, namun demikian, media masa jangan sampai menjadi “tuan” atas hidup kita. Dalam begitu banyak keluarga, televisi tampaknya telah mengambil alih percakapan pribadi dalam keluarga, dan bukannya sekedar sarana. “Puasa” tertentu dalam hal ini juga menyehatkan, baik guna meluangkan lebih banyak waktu untuk refleksi dan doa, maupun guna membina hubungan pribadi dengan sesama.[3]. Saudara-saudari terkasih, marilah kita belajar dari Bunda Maria. Injil mengatakan bahwa ia menyimpan segala perkara di dalam hatinya dan merenungkannya (bdk Luk 2:19), berusaha menemukan rencana Allah yang tersembunyi di balik peristiwa-peristiwa yang terjadi sepanjang hidupnya. Bunda Maria adalah teladan kepada siapa kita semua dapat berpaling. Marilah kita mohon padanya untuk memberikan kepada kita rahasia “puasa rohani” yang membebaskan kita dari perbudakan hal-hal duniawi, memperkuat jiwa kita dan menjadikannya senantiasa siap bertemu dengan Kristus.“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya atas ijin Catholic Information Network”




