Tempat pewartaan Sabda Allah sudah sepatutnya memiliki kekhasan, ataupun keistimewaan. Tampilan ambo bisa mencerminkan sikap hati umat (Gereja) terhadap martabat Sabda itu sendiri. Gampangnya, ambo yang jelek mungkin mencerminkan kurangnya penghargaan umat terhadap martabat luhur Sabda Allah atau Kitab Suci. Harus selalu disadari bahwa perayaan-perayaan liturgis selalu pertama-tama berdasarkan pada Sabda Allah dan dihidupi oleh-Nya. Santapan pertama dihidangkan lewat meja Sabda itu. Dari ambo kekayaan Sabda dibagikan kepada jemaat. Jemaat dapat “mencicipi manisnya Sabda” dan “dipenuhi oleh cinta Kristus yang melampaui segala pengetahuan”. HANYA SATU AMBO Hanya ada satu ambo dalam pengertian sebenarnya, yakni yang sesuai dengan teologi di atas. Seperti halnya hanya ada satu altar dalam satu gereja, maka ambo pun demikian. Altar dan ambo ibaratnya “dua meja kembar” Satu altar melambangkan satu Kristus dan satu Ekaristi. Maka, satu ambo berarti satu Sabda Allah di mana Kristus Sendiri hadir. Satu-satunya ambo dalam gedung gereja mencerminkan martabat Sabda Allah yang agung. Keterkaitan yang erat antara altar dan ambo membawa konsekuensi bahwa keduanya sudah sepantasnya secara arsitektural ditampilkan sebagai berkesinambungan (paralel). Akan lebih bagus lagi bila bahan yang dipakai untuk ambo sama dengan yang dipakai untuk altar. “Sebaiknya tempat pewartaan Sabda itu berupa mimbar (ambo) yang tetap, bukannya “standar” yang dapat dipindah-pindahkan (PUMR, No 309). LETAKNYA: KIRI, KANAN, ATAU TENGAH? Ada yang bertanya tentang letak ambo. Sebenarnya tidak ada aturan resmi tentang di mana persisnya. Hanya dikatakan “hendaknya mimbar itu ditempatkan sedemikian rupa, sehingga pembaca dapat dilihat dan didengar dengan mudah oleh umat beriman” (PUMR, No 309). Letak ambo dekat panti imam. Tentang di sebelah kiri atau kanan biasanya dipengaruhi oleh rasa atau nilai budaya setempat. Ada budaya yang menganggap kiri sebagai lebih buruk daripada kanan, maka ambo tidak diletakkan di sebelah kiri. Tapi, di sebelah apa atau siapa sesungguhnya relatif sekali. Yang perlu ditambahkan adalah jangan sampai ambo itu menghalangi keberadaan altar dan kursi imam. Penempatan ketiga unsur utama itu (altar, ambo, kursi imam) sebaiknya juga memungkinkan peralihan fokus perhatian jemaat sesuai dengan alur perayaan Ekaristi itu sendiri. Penempatan ketiganya jangan sampai membuat para petugas kerepotan atau gerak-geriknya malah mengganggu suasana ritual yang sedang diciptakan. Edisi yang akan datang tentang : UNTUK MEMBAWAKAN APA SAJA? Diambil dari : yesaya.indocell.net




