Kedua istilah ini sering dipakai untuk menunjukkan hal yang sama, yakni tempat pembacaan atau tempat berbicara di hadapan para pendengar. Hanya saja, istilah “mimbar” juga dipakai dalam arti profan (mimbar pidato, mimbar debat, dsb). Istilah “ambo” sering kurang lazim, karena mungkin lebih bermakna liturgis. Sudah umum dalam penggunaan atau wacana liturgis di Indonesia; istilah “mimbar” dipakai untuk menerjemahkan “ambo”. Namun di sini biarlah kita membiasakan diri pula dengan istilah “ambo” yang lebih universal atau umum penggunaannva, dan mungkin terasa lebih liturgis. ASAL KATA “AMBO”Sebenarnya asal usul kata “ambo” diturunkan dari bahasa Yunani “anabainein”, artinya “naik, bergerak dari bawah ke atas”. Petugas menaiki tempat khusus untuk membawakan bacaan-bacaan suci atau berkotbah. Mengapa naik? Karena tempatnya agak tinggi, harus dicapai melalui beberapa anak tangga. Ini merupakan warisan kuno, ketika ambo pada jaman itu (sebelum abad ke-14) masih dibangun secara monumental, tinggi, cukup luas, dan amat simbolis dekorasinya. Lengkap dengan perhitungan akustik atau tata suara dalam bangunan gerejanya. Beberapa basilika atau gereja kuno masih menyisakan ambo semacam itu, meskipun banyak yang sudah tidak difungsikan lagi. Dulu pernah juga dipakai dua ambo yang berbeda. Yang lebih tinggi untuk bacaan Injil, dan yang lebih rendah untuk bacaan Kitab Suci sebelum Injil. SABDA YANG DIWARTAKAN PERLU TEMPAT KHUSUS Kitab Suci adalah sumber hidup dan kekuatan. Di dalam liturgi suci manakala Kitab Suci dibacakan, bergaunglah suara Allah, Sabda yang menghidupkan. Dalam tindakan membacakan dan mendengarkan Sabda Allah, jemaat berada dalam situasi dialog dengan Allah sendiri. Inilah teologi Sabda: Allah berbicara kepada umat-Nya, yang menerima kekuatan untuk menanggapi-Nya secara aktif dengan penuh iman, harapan, dan cinta kasih melalui doa dan pemberian diri... dalam seluruh hidup kristiani mereka (OLM / Ordo Lectionum Missae, 48). Maka, agar simbolisasi Allah yang berbicara kelihatan, diperlukanlah suatu tempat khusus, dengan persyaratan khusus pula. Tempat itu disebut ambo, sebuah meja Sabda, pendahulu meja perjamuan. SEDIKIT TENTANG TEOLOGI AMBO




