Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia." Sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. (Yoh6:51,53-54).
Umat Katolik sungguh mempunyai keistimewaan yang luar biasa: berkesempatan menyambut Tubuh dan Darah Suci Sang Penebus pada setiap perayaan Ekaristi Suci! Ini sungguh suatu anugerah tiada tara yang kita warisi untuk melaksanakan amanatNYA sebagai kenangan, kurban persembahan dan sekaligus kurban syukur yang paling berharga karena Sang Putra terkasih sekaligus bertindak sebagai Imam, Altar dan Kurban!
Penderitaan dan kesulitan hidup membuat orang terobsesi untuk menimbun harta dunia; fokus pada masalah ini menyebabkan orang melupakan kewajibannya kepada Sang Pencipta; keberhasilan mengumpulkan harta duniawi membuat manusia makin sombong dan melalaikan Sang Pencipta. Karena adanya penyesatan ini maka Allah memberi pelajaran bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti saja, tapi juga dari Sabda Allah, dimana diperlukan kerendahan hati dan ketaatan untuk dapat memahaminya. Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. (Ul 8:2-3).
Dengan kebaikan yang tak terhingga Allah telah menawarkan DiriNYA untuk bersatu dengan kita, apa sulitnya membuka pintu hati bagiNYA? Dia terus mengetuk untuk tinggal di hati kita sebagai BaitNYA yang kudus, tidak bersediakah kita memantaskan diri untuk menerimaNYA? Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu. (1Kor 10:16-17). Selain Keluarga, Lingkungan adalah tempat yang ideal untuk belajar sekaligus ‘praktek’ melaksanakan kehendak Allah, alangkah ruginya kalau hanya diisi gosip dan ajang pamer; betapa indahnya bila dimanfaatkan untuk mengajak warga yang masih enggan bergabung dengan keramahan dan kerendah-hatian hingga terwujud relasi yang saling peduli, saling memperhatikan, saling membantu dan saling menguatkan.




