Setiap hari Rabu malam pk 20.00, para pria katolik berkumpul di aula bawah gereja St. Monika. Biasanya acara diawali dengan lagu-lagu pujian dan penyembahan. Kemudian dilanjutkan dengan firman Tuhan. Dalam beberapa kesempatan, para peserta diberi kesempatan untuk memberi kesaksian. Berikut adalah kesaksian pada hari Rabu 23 Sep 2015:
"Beberapa bulan terakhir saya sering mengikuti Persekutuan Doa Pria Sejati Katolik setiap hari rabu. Pada saat itu saya belum mengikuti Retret-nya.
Di hari pertama mengikuti PD, saya diminta maju ke depan untuk perkenalan. Waktu itu saya dengan sombongnya katakan bahwa saya tidak punya masalah, hidup saya bahagia, hidup saya baik-baik saja.
Ternyata saya salah. Setiap saya mengikuti PD, dari firman dan kesaksian teman-teman, saya selalu menemukan kekurangan diri saya. Sehingga ketika ditawari mengikuti retret, saya sangat penasaran untuk mengikutinya.
Saya mengikuti retret 19-20 Sep 2015 di Sentul (Angkatan 19). Di dalam retret, di setiap sesi, dosa saya terasa dikorek-korek. Di setiap sesi saya menemukan ‘wah itu dosa gue juga’.
Hingga di acara altar call, ketika saya menutup mata, tahu-tahu air mata saya keluar. Padahal saya sedang tidak memikirkan apa-apa. Saat itu dosa-dosa saya 5 tahun sebelumnya, Tuhan munculkan.
Tuhan mengingatkan, ketika anak saya berumur 4 tahun, saya pernah menjewer anak saya dan menarik telinganya ke atas sampai dia jinjit. Waktu itu saya bangga karena saya merasa sebagai orang tua yang berkuasa atas anak saya. Saya baru tahu sekarang bahwa itu dosa.
Tuhan juga mengingatkan, pernah saya dan istri saya bertengkar di dalam perjalanan ketika saya mengendarai mobil. Waktu itu istri saya sedang hamil. Karena marahnya saya, saya suruh istri dan anak saya keluar dari mobil di tengah jalan. Saya tidak peduli dan tidak pernah tanya bagaimana mereka pulang. Saya baru tanya setelah retret, ternyata mereka waktu itu pulang jalan kaki. Saya menyesal. Waktu itu saya memperlakukan istri saya yang sedang hamil dengan begitu kejam.
Banyak perubahan yang saya alami setelah mengikuti retret Pria Sejati Katolik:
– Di dalam retret saya baru melakukan pengakuan dosa lagi setelah 20 tahun
– Baru pertama kalinya sekarang saya meminta maaf pada istri dan anak saya
– Sekarang saya sudah bisa pimpin doa di rumah
– Sering saya bersenandung sendiri, ternyata saya bersenandung lagu rohani"
Gegap gempitanya media sosial di Indonesia,tentu saja mempengaruhi empati kita sebagai umat katolik di Indonesia. Beberapa tahun terakhir kita terbiasa berempati melalui media sosial di dunia maya. Anda yang terbiasa aktif di media sosial tentunya fasih menggunakan singkatan-singkatan OIC,GWS,GBU atau memasang Ibu jari Anda apabila ada teman yang sakit,ada musibah yang terjadi.Singkatan yg bisa saja di salah arti kan sebagai “Oh Itu Ceritanya,Gak Wafat Sekalian,Gue Butuh Uang. Gadget yang memudahkan komunikasi ternyata juga mengurangi tatap muka,pelukan menghibur dsb.
Agar tidak semakin hanyut di keriuhan medsos,umat wilayah VI sepakat menjadi manusia kepompong di dunia nyata dengan membantu memenuhi kebutuhan Panti Asuhan Bhakti Luhur di daerah pamulang. Ke kepo an dimulai dengan mencari tahu apa yang paling dibutuhkan penghuni panti,mulai dari kursi kursi roda,seprei,sembako,rak sepatu,perbaikan sanitasi dsb. Ke rempong an dimulai dengan mengerjakan perbaikan,membersihkan seluruh area panti,mengumpulkan donasi dari umat wilayah VI dan diakhiri dengan mengantarnya ke panti sambil makan siang dan menghibur anak-anak berkebutuhan khusus penghuni panti pada Sabtu,14 Nopember 2015.
Mengutip misi Romo Jannsen dalam misinya mendirikan yayasan Bhakti Luhur "menjangkau yang tak terjangkau",semoga Anda juga tetap eksis menjadi kepompong,si kepo dan rempong dengan tetap berusaha menjangkau mereka yang membutuhkan secara nyata,dijamin Anda akan merasa lebih bersyukur daripada Anda berlomba menempelkan ibu jari Anda di media sosial.