
Kepompong Yang Nyata
Gegap gempitanya media sosial di Indonesia,tentu saja mempengaruhi empati kita sebagai umat katolik di Indonesia. Beberapa tahun terakhir kita terbiasa berempati melalui media sosial di dunia maya. Anda yang terbiasa aktif di media sosial tentunya fasih menggunakan singkatan-singkatan OIC,GWS,GBU atau memasang Ibu jari Anda apabila ada teman yang sakit,ada musibah yang terjadi.Singkatan yg bisa saja di salah arti kan sebagai “Oh Itu Ceritanya,Gak Wafat Sekalian,Gue Butuh Uang. Gadget yang memudahkan komunikasi ternyata juga mengurangi tatap muka,pelukan menghibur dsb.
Agar tidak semakin hanyut di keriuhan medsos,umat wilayah VI sepakat menjadi manusia kepompong di dunia nyata dengan membantu memenuhi kebutuhan Panti Asuhan Bhakti Luhur di daerah pamulang. Ke kepo an dimulai dengan mencari tahu apa yang paling dibutuhkan penghuni panti,mulai dari kursi kursi roda,seprei,sembako,rak sepatu,perbaikan sanitasi dsb. Ke rempong an dimulai dengan mengerjakan perbaikan,membersihkan seluruh area panti,mengumpulkan donasi dari umat wilayah VI dan diakhiri dengan mengantarnya ke panti sambil makan siang dan menghibur anak-anak berkebutuhan khusus penghuni panti pada Sabtu,14 Nopember 2015.
Mengutip misi Romo Jannsen dalam misinya mendirikan yayasan Bhakti Luhur "menjangkau yang tak terjangkau",semoga Anda juga tetap eksis menjadi kepompong,si kepo dan rempong dengan tetap berusaha menjangkau mereka yang membutuhkan secara nyata,dijamin Anda akan merasa lebih bersyukur daripada Anda berlomba menempelkan ibu jari Anda di media sosial.
Penulis: Santie




