
Bacaan I: Kej. 22:1-2,9a,10-13,15-18; Bacaan II :Rm. 8:31b-34; Bacaan Injil Mrk. 9:2-10.
IMAN & PENGORBANAN
Kisah pengorbanan Ishak dalam bacaan I merupakan puncak kesetiaan Abraham. Ujian iman Abraham berawal dari panggilan untuk meninggalkan Ur-Kasdim di Irak Selatan. Dia ke Kanaan bersama Sarai, istrinya, menempuh perjalanan kurang lebih 1000 km (= Anyer ke Panarukan). Sampai keduanya menginjak usia lanjut, belum ada tanda-tanda punya keturunan. Namun tiada yang mustahil bagi Tuhan (Kej. 18:14). Ketika Abraham berusia 100 tahun (Kej. 21:5) lahirlah Ishak. Namun ketika Ishak remaja, Allah meminta Abraham mengorbankannya (Kej. 22:2). Tanpa keberatan sedikitpun, Abraham membawa Ishak ke gunung Moria untuk dikorbankan. Di saat Abraham mau menyembelih Ishak, Allah berfirman : “Telah Kuketahui sekarang, bahwa engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepadaku” (Kej.22:12). Iman Abraham menjadi model hidup beriman (Rom 4:1-25). Dalam perspektif inilah Kisah Transfigurasi dalam injil hari ini (Mrk. 9:2-10). Dalam peristiwa Transfigurasi, Allah mengakui “Yesus adalah AnakNya yang terkasih” (Mrk. 9:7) yang akan dikorbankan untuk keselamatan dunia (Mrk. 8:31). Ini ditegaskan lagi dalam bacaan II : “Allah tidak menyayangkan AnakNya sendiri demi kita semua” (Rm. 8:32). Apa makna bacaan-bacaan hari ini ? Pertama, iman butuh keberanian untuk meninggalkan "comfort zone". Seperti Abraham meninggalkan kenyamanan kota Ur Kasdim untuk kehidupan baru yang dibaktikan kepada Allah, kita pun diminta untuk meninggalkan kehidupan dunia yang bertentangan dengan kehendak Allah. Kedua, slalu sabar dan penuh harapan. Abraham menunggu sampai usia 100 tahun agar janji Allah terpenuhi. Kitapun harus sabar dan tidak hilang harapan, karena Allah tidak pernah lupa akan janjiNya. Ketiga, iman butuh pengorbanan. Seperti Abraham berani mengorbankan anak tunggalnya demi kesetiaannya kepada kehendak Allah, kitapun harus siap mengorbankan "yang terbaik" yang kita miliki untuk kemuliaan Tuhan dan keselamatan sesama. (YS)




