
Yer. 53:10-11, Ibr. 4:14-16, Mrk.10:35-45
EMAS DALAM LUMPUR
ANDAI Yesus hidup di Indonesia tahun 90an, beliau pasti akan disebut pemimpin organisasi tanpa bentuk (OTB). Beliau dikelilingi begitu banyak orang dengan aneka intensitas relasi. Ada simpatisan (kalau rombongan Yesus lewat mereka nonton, kalau nggak ya nggak mencari); ada lagi pengikut (cerita Yesus memberi makan 5000 orang dan rangkaiannya); ada murid (sekitar 70, termasuk Maria, Martha, Maria Magdalena); dan ada 12 rasul. Dalam kelompok rasul itu masih ada “lingkar dalamnya” lagi, yakni Petrus (ketua kelas) dan Yakobus-Yohanes bersaudara. Kedua yang terakhir ini dikenal sebagai rasul yang dekat dengan Yesus. RASA DEKAT itulah yang memberanikan mereka mengajukan proposal untuk menjadi pendamping Yesus raja dalam kemuliaannya nanti. Jelas keduanya belum berpikir soal kemuliaan akhir jaman, melainkan kemuliaan politis duniawi, raja ala Daud dan Sulaiman. Yesus tidak eksplisit menolak proposal itu, tetapi menilainya sebagai salah alamat. Pertama, mereka berdua dinilai tidak tahu apa yang mereka minta, dan kedua, bukan urusan Yesus untuk menentukan siapa yang akan duduk di kiri atau kanannya. Dari situ masuklah Yesus pada konsep leadership. Beliau mengatakan “tidak” pada pemimpin tangan besi, dan mempromosikan konsep pemimpin melayani. JELAS sekali fragmen ini punya banyak poin yang bisa direnungkan. Tapi izinkan saya menarik salah satu saja, yakni proposal kedua bersaudara, Yakobus dan Yohanes. Mereka tidak jahat, dan pasti orang pilihan Yesus sendiri. Bahkan kita yakin, mereka juga mencintai Yesus sang guru. Tetapi cinta mereka pada Yesus tidak murni. Mereka punya emas, tetapi bercampur lumpur. Mereka mencintai Yesus, tetapi juga jelas terlihat mereka mencintai diri sendiri. Bisa jadi ini muncul tanpa sadar. Rasa lebih mencintai dan lebih dicintai oleh Yesus membuat mereka merasa lebih berhak mendapat posisi istimewa. PERASAAN kedua bersaudara itu kiranya adalah perasaan kita, yang merasa istimewa karena mencintai dan dicintai Yesus. Rasa istimewa ini berpeluang membawa kita pada kesombongan, “akulah (bukan mereka) yang berhak mendapat kemuliaan bersama Yesus.” Bacaan hari ini sudah mengingatkan, “Awas salah alamat.”




