
Bacaan 1: Yer 31:7-9Bacaan 2: Ibr. 5:1-6Bacaan Injil: Mrk. 10:46-52
BARTIMEUS MOMENTUM
Drama Yesus dan Bartimeus selalu terjadi terus menerus. Anda dan saya mengalaminya, sering dalam cara sederhana, tapi selalu terasa istimewa. Sepekan sebelum ini seorang sahabat mengajak berjumpa “untuk saling update informasi.” Terus terang saya tidak antusias. Bahkan ada sepercik curiga terhadap niat baiknya untuk berjumpa. Ditemani pisang bakar dan jus buah, akhirnya perjumpaan dan obrolan kami jauh dari yang saya kira. Lewat satu jam obrolan, saya tersadar dia datang dengan niat berbagi cerita, membuka cakrawala. Ceritanya benar-benar membuka mata, betapa saya sudah melakukan banyak kesalahan dalam proses hidup. Itulah “Momentum Bartimeus” bagi saya. Momentum kesadaran …was blind but now I see. PASTI bukan sekali ini saja saya mengalami Momentum Bartimeus. Terlalu sering saya bertemu orang, ngobrol, atau membaca, yang kemudian berakhir pada kesadaran betapa buta saya selama ini. Terlalu sering secara mendadak saya mendapatkan kacamata baru, sehingga punya cara baru melihat sesuatu. TETAPI, betapa pun sudah saya syukuri, pengalaman itu belum apa-apa dibanding pengalaman asli Bartimeus. Dua hal yang paling membedakan. Pertama, Bartimeus berangkat dari kesadaran bahwa dia buta, dan kedua, setelah bisa melihat, dia memilih untuk mengikuti Yesus. Artinya, terbukanya mata membuat Bartimeus mengambil langkah mengikuti Yesus. Bahkan dalam arti yang sesungguhnya. ANDA kenal lagu Amazing Grace, bukan? Lagu itu diciptakan oleh John Newton pada abad ke-18, setelah dia mengalami Bartimeus Momentum. Akibat kebrutalannya, dia dipaksa masuk menjadi personel angkatan laut Kerajaan Inggris, dan kemudian melarikan diri secara memalukan. Dari sana dia masuk dalam bisnis perdagangan budak. Ia menjadi nakhoda kapal yang membawa budak dari Afrika. Suatu ketika, dalam pelayaran dia menghadapi badai yang paling mematikan. Itulah hari pertama dia menyerukan nama Tuhan, dan dia selamat. Dari situ lahirlah karya agung, lagu Amazing Grace… was blind, but now I see. Dan mulai saat itu dia benar-benar “mengikuti Yesus. Dari pebisnis budak, dia berbalik arah menjadi aktivis Abolisionisme, yakni gerakan menentang praktik perbudakan di Inggris.




