
Keb 7:7-11, Ibr 4:12-13, Mrk 10: 11-30
KRISTIANI ANONIM
Menjelang akhir musim gugur 1940, Lithuania tak hanya mulai membeku oleh dingin, tapi juga tegang oleh Perang Dunia II. Sugihara Chiune, seorang konsul Jepang di negeri itu, bersigegas menuju Stasiun Kaunas untuk mengejar kereta tujuan Vladivostok, untuk selanjutnya menyeberang ke Kobe. Dentum bom dan rentetan senjata sudah menyerbu seberang jalan. Dalam mobil yang membawanya ke stasiun, Sugihara terus membubuhkan tandatangannya pada lembar kertas kosong. Lembar bertandatangan itu, satu demi satu, dilemparkannya ke luar mobil, dan langsung menjadi rebutan ratusan orang Yahudi yang terus mengejar mobil Sugihara. Di peron stasiun dia masih terus menggoreskan pena. Lima menit sebelum kereta berangkat Sugihara bersimpuh di depan ratusan orang Yahudi di hadapannya. Sambil meratap dia memohon, “Maafkan saya. Saya tidak bisa menulis lagi.” Kereta bergerak, diringi derai airmata, yang bahagia dan yang putus asa. *** Yang bahagia adalah mereka yang mendapatkan tandatangan Sugihara, yang bermakna visa transit ke Jepang untuk menyelamatkan diri ke negara berikutnya. Dalam waktu kurang dari tiga bulan sejak Juli, selama 18 sampai 20 jam per hari, Sugihara menandatangani lebih dari 6000 visa keluarga, yang menyelamatkan belasan ribu orang Yahudi dari ancaman genosida. Sugihara menandatangani visa itu dengan kesadaran bahwa karir diplomatiknya selesai, karena langkahnya berseberangan dengan kebijakan Tokyo. *** Sugihara bukan pengikut Kristus. Tetapi pasti dia sudah menjual seluruh harta yang paling berharga, yakni karir politik dan diplomatik, yang dirintisnya dengan susah payah. Memang setelah itu dia masih sempat menempati jabatan konsul di Berlin, Praha, dan Bukarest (mendekam 16 bulan penjara di sana), tetapi sesudah perang dia tak lagi mendapat tempat di pemerintahan karena langkahnya itu. Bahkan selama beberapa tahun dia sempat menjadi salesman keliling, menjajakan bola lampu. Sugihara telah “menjual segalanya”, demi hormatnya pada kehidupan, demi cintanya pada kemanusiaan. Bukankah ini yang dimaksud dengan perintah juallah hartamu, berikan pada kaum miskin, dan ikutlahaku? *** Tidak banyak dari kita yang diperhadapkan pada pilihan-pilihan besar sekelas Sugihara. Tetapi syukurlah. Bukankah kita tetap bisa menjual harta dan kesenangan kecil kita sehari-hari, dan mengalihkannya pada sesuatu yang lebih bermakna cinta pada sesama?




