KURBAN YANG SEMPURNA
Minggu ini kita merayakan dua tema kontradiktif dari kehidupan Yesus, yakni Kemuliaan dan PenderitaanNya. Tema pertama ditampilkan dengan sorak-sorai mengelu-elukanNya sebagai Raja ketika Ia memasuki Yerusalem; tema kedua, penderitaan yang sangat tragis atas karya perutusan-Nya: Dia harus mati di salib! Sejak awal Yesus sadar bahwa Ia harus mengalami penolakan dari para pemimpin, menderita di kayu salib dan bangkit pada hari ketiga. Tiga kali hal ini diberitakannya kepada para murid, tetapi mereka belum dapat menerimanya. Kesetiaan, kepasrahan dan kebulatan hati untuk menderita demi melakukan kehendak Allah adalah yang paling utama bagi Hamba Yahweh. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi. Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu. (Yes 50:6-7).
Maut dan penderitaan masuk kedalam dunia karena dosa. Dosa telah merusak hubungan manusia dengan Allah, sekaligus juga merusak hubungan dengan sesama dan dengan dunia ini. Pesan yang ingin disampaikan dalam perayaan Minggu Palma ini mengingatkan kita, bahwa Kristus telah memberi teladan rela menderita-sengsara dan mati di kayu salib untuk mengatasi dan mengalahkan persoalan dosa dan akibat dosa itu. Sebagai manusia, Yesus juga mengalami ketakutan dan merasa ditinggalkan, namun ketaatan untuk melaksanakan tugas perutusanNya sesuai kehendak Bapa mengalahkan semua hambatan dalam menyempurnakan pengurbananNya yang telah membawa keselamatan bagi dunia!Pada jam dua belas, kegelapan meliputi seluruh daerah itu dan berlangsung sampai jam tiga. Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: "Eloi, Eloi, lama sabakhtani?", yang berarti: Allahku, Allahku, mengapa Engkaumeninggalkan Aku?". Lalu berserulah Yesus dengan suara nyaring dan menyerahkan nyawa-Nya. Ketika itu tabir Bait Suci Allah!" (Mrk 15:33-34,37-39).terbelah dua dari atas sampai ke bawah. Waktu kepala pasukan yang berdiri berhadapan dengan Dia melihat mati-Nya demikian, berkatalah ia: "Sungguh, orang ini adalah Anak
Yesus tidak membela diri agar rencana dan kehendak Bapa terlaksana. Dia yang tidak berdosa rela melaksanakannya, karena Ia mau memberi teladan dan bahkan menemani kita untuk memberi kekuatan.Yesus tidak mau menunjukkan keinginan pribadi-Nya, sekalipun ia mampu; karena itulah Allah meninggikan namaNya di atas segala nama. Sengsara dan penderitaan yang dialami Yesus merupakan wujud ketaatan dan sikap berserah-Nya kepada kehendak Allah, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dlm keadaan sbg manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya & taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia & mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dlm nama Yesus bertekuk lutut segala yg ada di langit & yg ada di atas bumi & yg ada di bawah bumi, & segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa! (Flp 2:6-11).
Sebuah pengurbanan yang sempurna, yang tidak dapat dipahami dan tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal-budi, bukan karena tidak rasional, melainkan karena melampaui/diluar batas akal-budi. Semoga pantang dan puasa dalam masa prapaskah ini dapat menumbuhkan solidaritas kita untuk semakin menghayati Karya Agung pengorbanan Kristus, sehingga menimbulkan rasa syukur yang nyata dalam aksi peduli pada sesama yang membutuhkan




