BELAJAR DARI PENDERITAAN
Manusia diberi kehendak bebas karena Allah menghendaki pengabdian dan kesetiaan yang tulus. Hukum Taurat yang diberikan melalui Musa tidak membuat umat Israel setia kepada Sang Pencipta; kemunafikan merajalela, mereka hanya datang pada Allah saat mengalami kegagalan, menderita atau mendapat bencana; maka Allah mengisi nurani umatNya dengan pengenalan akan Dia.“Beginilah perjanjian yang Kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman TUHAN: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku. Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah TUHAN! Sebab mereka semua, besar kecil, akan mengenal Aku, demikianlah firman TUHAN, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka." (Yer 31:33-34).
Allah selalu melimpahkan berkat bagi semua ciptaanNya, namun sukacita dan kelimpahan bukanlah suasana yang kondusif bagi pengajaran Tuhan; belajar dengan ‘bonus’ penderitaan lebih mudah dipahami dan melekat dalam hati! Maka Allahpun melakukan metode ini dengan teladan pengorbanan AnakNya yang mencapai puncaknya di kayu salib! Kerendahan hati, kerelaan dan kesetiaan dalam menanggung penderitaan sesuai kehendak Bapa akan berbuah manis pada waktunya! Yesus memberi teladan bahwa kemuliaan tertinggi hanya bisa dicapai dengan ketaatan menderita sesuai kehendak Bapa!Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya, dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya, (Ibr 5:7-9).
Buah kebaikan yang tumbuh dari penderitaan bukan hanya berguna bagi diri sendiri, tapi juga bagi banyak orang. Pada puncaknya, kematian justru menjadi awal tumbuhnya biji-biji ketekunan untuk menjadi buah kebaikan berikutnya. Kalau kita percaya bahwa Allah adalah sumber hidup dan kasih, apakah kematian masih perlu ditakuti? Bukankah Allah yang menciptakan kehidupan dan juga berhak menghukum dan memusnahkannya? Walaupun sebagai manusia Yesus juga ngeri menghadapi kematian, namun Dia tetap konsisten memilih melakukan kehendak Bapa untuk memuliakan namaNya daripada sekedar menyelamatkan diri sendiri.Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah. Barangsiapa mencintai nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa tidak mencintai nyawanya di dunia ini, ia akan memeliharanya untuk hidup yang kekal. Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana Aku berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa. Sekarang jiwa-Ku terharu dan apakah yang akan Kukatakan? Bapa, selamatkanlah Aku dari saat ini? Tidak, sebab untuk itulah Aku datang ke dalam saat ini. (Yoh 12:24-27).
Kematian akan dialami oleh setiap orang, hanya soal waktu; tapi kenyataannya kita sering gamang dan segan membicarakannya, apalagi menghadapinya. Namun Roh Kudus akan menghibur dan menguatkan apabila kita berdoa kepadaNya! Bukankah yang mati hanyalah tubuh yang fana? Bukankah keselamatan jiwa jauh lebih berharga?
Dengan ‘mengoyakkan’ hati dan bukan pakaian kita, niscaya pantang dan puasa ‘skala kecil’ dalam masa prapaskah ini semakin mendekatkan diri kepada Bapa, semakin berpasrah kepadaNya, semakin mampu memahami dan setia pada kehendakNya, dan pada akhirnya berbuah nyata dalam kasih dengan semakin bersyukur dan peduli pada sesama yang membutuhkan...




