Tentu kita pernah mengalami perasaan ‘ditinggal’ Allah, doa permohonan kita tidak digubris, seolah-olah Allah diam saja. Benarkah Allah meninggalkan kita? Abraham berumur 75 tahun waktu dipanggil Allah untuk menuju ke negeri yang akan ditunjukkan kepadanya; “Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat” (Kej 12:2). 10 tahun berlalu tanpa tanda yang jelas, membuat Sarai, istrinya yang merasa sudah tua putus asa, lalu ’membujuk’ Abraham untuk mengambil Hagar, hambanya menjadi gundik yang kemudian melahirkan Ismael. Ketika berumur 99 tahun dan sekali lagi Tuhan mengkonfirmasi janjinya, dengan agak pesimis Abraham berkata: "Ah, sekiranya Ismael diperkenankan hidup di hadapan-Mu!". Maka, dapat dibayangkan betapa besarnya arti kelahiran Ishak, anak ‘mahal’, anak perjanjian yang dilahirkan Sara saat Abraham berumur 100 tahun itu!Namun ketika anak perjanjian itu baru beranjak remaja datanglah Firman Tuhan kepada Abraham: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu." (Kej 22:2). Betapa besar ketaatan iman Abraham yang tanpa ragu sedikitpun segera berangkat untuk melakukan perintahNya, karena dia percaya bahwa Allah maha Tahu, maha Kuasa dan maha Baik, yang berkuasa melakukan kehendakNya tanpa tergantung apakah kita bersedia atau tidak!
Ketaatan iman inilah yang membuat Allah berjanji.kata-Nya: "Aku bersumpah demi diri-Ku sendiri: Karena engkau telah berbuat demikian, dan engkau tidak segan-segan untuk menyerahkan anakmu yang tunggal kepada-Ku, maka Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan membuat keturunanmu sangat banyak seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, dan keturunanmu itu akan menduduki kota-kota musuhnya. Oleh keturunanmulah semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, karena engkau mendengarkan firman-Ku." (Kej 22:16-18).
Ketaatan dan kerelaan berkorban luar biasa ini dijadikan model dan teladan bagi seluruh umatNya; Allahpun mengorbankan Anak yang dikasihinya, AnakNya yang tunggal untuk menebus dosa umatnya, memberi jalan bagi manusia untuk memulihkan harkat sebagai anak Allah! Allahpun memberi penglihatan itu kepada Petrus, Yakobus dan Yohanes.Maka datanglah awan menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara: "Inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia." (Mrk 9:7).
Nah, jika Allah demikian mengasihi kita, apakah masih ada sesuatu yang perlu kita takuti atau kuatirkan? Apa yang bisa dilakukan selain bersyukur? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? (Rm 8:31-32).
Gereja KAJ mencanangkan tahun 2015 sebagai Tahun Syukur dan tema APP kali ini adalah Tiada Syukur Tanpa Peduli, marilah kita mengungkapkan rasa syukur itu dengan berbagi kepada orang yang membutuhkan kepedulian kita




