*** Renungan ini memenangkan JUARA INMI AWARDS 2015 Kategori Renungan Terbaik ***
Lebih dari setengah abad hidup di dunia ini, saya merasa hidup saya biasa-biasa saja, meskipun dari mulai sekolah sampai selesai kuliah dimana saya selalu berada di lingkungan Katolik,tentunya sudah ribuan kali saya mendengar dan membaca, kamu special di mata Tuhan, rambut kepalamu saja dihitung, di telapak tangan Tuhan selalu ada tato nama kamu dan sebagainya.
Tetapi tetap saja, saya merasa “I just an ordinary people with an ordinary life.” Saya tidak punya prestasi luar biasa seperti banyak orang di dunia ini, saya juga tidak punya banyak hutang ,yang mungkin kalau saya menghilang akan dicari-cari banyak orang.Hidup saya sama saja seperti kebanyakan orang-orang lain, sekolah,kerja dsb dsb.
Sampai suatu hari, hampir dua tahun yang lalu, Tuhan menganugerahkan kepada saya penyakit langka dan keren Myasthenia Gravis. Langka karena belum ditemukan obatnya, keren karena penyakit serupa juga diderita oleh Aristoteles Onassis yang super tajir itu.
Suatu pagi di bulan April tahun yang lalu, otot-ototpernapasan saya mogok bekerja sehingga sang Pencipta otot-otot tersebut mengistirahatkan mereka dan menggantinya dengan mesin a.k.a. intubasi dan saya terpaksa berlibur di ICU sebuah rumah sakit di Jakarta.
ICU bisa saja dibaca Aiciyu, bisa saja berarti Saya melihat kamu artinyaTuhan melihat saya, menjaga saya dan mengajarkan banyak hal kepada saya dan saya juga melihat sekeliling saya karena ruang ICU hanya disekat-sekat dengan tirai.
Liburan yang istimewa, sementara otot-otot pernapasan saya secara perlahan mulai bekerja lagi, Tuhan tidak membuat saya terkapar koma seperti mayoritas mereka yang berada disana, tetapi saya diberikan kesadaran penuh untuk melihat dan mendengar apa yang terjadi di sekitar saya. Yang tidak bisa saya lakukan adalah berbicara,karena alat-alat intubasi, monitor dll yang dipasang pada tubuh saya. Seakan Tuhan berkata, libur lah berbicara,sekarang saatnya mendengar dan melihat, walaupun saya masih nekad,menuliskan apa yang ingin saya katakan.
Selama delapan hari itu,Tuhan mengubah total pandangan saya terhadap hidup. Walaupun tidak ada televisi atau radio di ruang ICU, tetapi dengan jelas saya menyaksikan dan mendengar drama yang berbeda setiap hari, seorang nenek di sebelah saya yang tersenyum dalam koma nya dan akhirnya pulang ke rumah Bapa dengan tenang sementara penghuni berikutnya seorang gadis remaja yang mencoba mengakhiri hidupnya tetapi tidak berhasil, ada juga pemilik warung yang terbakar tetapi tetap mencoba bertahan hidup dengan kesakitannya, ada pula anak-anak yang akhirnya mencabut alat-alat yang terpasang di tubuh orang tua mereka untuk melepasnya pergi dan aneka drama-drama yang lain yang jauh lebih bermakna daripada nonton sinetron.
Saya belajar bahwa hidup itu adalah sepenuhnya anugerah Tuhan kepada saya si debu yang dilapisi pakaian. Setiap saat kalau Tuhan menjentikkan jariNya,lenyaplah si debu dari muka bumi. Tidak ada seorang manusia pun yang bisa memaksakan kapan hidupnya berakhir atau memanjangkan hidupnya sedetikpun.
Pelajaran lainnya adalah, di luar ICU ternyata lumayan banyak kerabat dan teman-teman yang sukarela mendoakan kesembuhan saya. Jadi tidaklah terbantahkan lagi bahwa apa yang dikatakan Tuhan : Karena di mana dua atau tiga orang berhimpun dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.(Mat 18:20) karena memang doa-doa mereka yang berkumpul mendoakan saya lah yang menyembuhkan saya.
Liburan delapan hari itu adalah liburan yang paling berkesan dalam hidup ini.
Saya akhirnya menyadari bila Tuhan menganugerahkan saya hidup selama lebih dari setengah abad, tentunya itu bukan sekedar hidup yang biasa-biasa saja. Apalagi hidup dengan dianugerahi penyakit yang belum ditemukan obatnya, tentunya I am special in God’s sight.
Setiap kita adalah sebutir debu yang sangat berarti buat Tuhan, yang diberi Nya nafas sampai detik ini, walaupun letaknya di alas kaki Nya. Bersyukurlah, berbuat baiklah setelah menerima anugerah Nya.
Oleh Santie.




