Selamat memasuki masa Prapaskah.
Masa Prapaskah selalu ditandai dengan adanya pantang dan puasa. Mungkin bagi beberapa orang, tantangan untuk melakukan pantang dan puasa masih dirasakan enggan dan berat sekali. Untuk apakah kita bersusah-susah menahan lapar sedangkan makanan lezat mungkin sudah siap tersaji untuk kita.
Bacaan-bacaan kitab suci pada hari Minggu Prapaskah pertama ini mencoba mengantar kita kepada pemahaman akan puasa yang ingin disampaikan Tuhan melalui sabda-Nya. Dalam bacaan pertama kita dihadapkan pada peristiwa dimana Allah berjanji untuk tidak akan lagi menenggelamkan umat manusia dengan air bah, sebagai bukti akan janji-Nya Allah menaruh busur-Nya di langit, yaitu pelangi seperti yang kita bisa lihat sehabis hujan. Tetapi inti dari kisah nabi Nuh ini adalah: hanya ada seorang yang menanggapi seruan Allah (nabi Nuh)—seorang yang melakukan keinginan Allah walaupun akibatnya ia dicemooh oleh semua orang—tetapi pada akhirnya hanya nabi Nuh dan keluarganya yang dapat selamat.Memasuki nasihat dari Injil, tampak persamaan yang muncul disana: Ada seseorang yaitu Yesus yang membiarkan diri-Nya dipimpin oleh Roh Allah—Ia pergi berpuasa ke padang gurun selama empat puluh hari, baik untuk menentang cobaan iblis yang menyerang secara rohani, maupun menghadapi cobaan hidup sehari-hari yang berupa kehidupan keras diantara binatang-binatang liar ditambah rasa lapar yang menderan secara jasmani.— Hasil dari ketaatan Yesus kepada kehendak Allah ini kemudian tampak dari telah dilengkapinya Yesus untuk memulai misi Kerajaan Allah dengan mulai mewartakan Injil: “Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!” (Mrk 1:15). Bahkan tidak hanya sampai disitu saja, karya Yesus yang terus disemangati dan dikuatkan oleh kekuatan Roh Allah itu terus saja berlanjut sampai kekuatan-Nya untuk menanggung derita dosa manusia di kayu salib, dan bahkan setelah wafat-Nya, rasul Paulus mengatakan: “Ia pergi memberitakan Injil kepada roh-roh yang di dalam penjara, yaitu kepada roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah”, sungguh luar biasa kedua contoh hasil dari mentaati kehendak Allah ini.
Inti dari puasa adalah: Mentaati dan mengikuti kehendak Roh Allah untuk bekerja sepenuh-penuhnya didalam diri kita. Dan bila Roh Allah telah tinggal dan bekerja dalam diri kita, maka kita akan memiliki kemampuan untuk bekerja sama dengan Allah untuk membawa keselamatan, yaitu keselamatan mulai dari diri kita, keluarga kita seperti yang dilakukan kemudian alam sekitar kita, seperti yang dialami nabi Nuh. Dan kita akan dipenuhi oleh rasa syukur yang mendalam, yaitu rasa syukur yang lengkap seperti tema APP kita tahun ini: “TIADA SYUKUR TANPA PEDULI”.




