
Mungkin kita pernah merasakan apa yang dirasakan Ayub, merasa terperangkap dalam hidup yang penuh penderitaan dan kesulitan, yang walaupun berbagai hal sudah diusahakan, rasanya semua usaha masih sia-sia belaka dan tanpa harapan. “demikianlah dibagikan (diberikan) kepadaku bulan-bulan yang sia-sia, dan ditentukan kepadaku malam-malam penuh kesusahan.” (Ayub 7:3), bahkan mungkin sudah hampir putus asa rasanya: “Hari-hariku berlalu lebih cepat dari pada torak (sekoci tenun), dan berakhir tanpa harapan.” (Ayub 7:6)
Mungkin kita sudah tidak dapat lagi menghitung sudah berapa banyak doa permohonan yang kita panjatkan kepada Tuhan untuk menolong kita keluar dari kesulitan. Sayangnya kebanyakan orang tidak melihat bahwa rencana allah yang terutama bukanlah “mengeluarkan manusia dari kesulitan”. Rencana-Nya yang terutama adalah untuk hadir bersama kita dalam kesulitan-kesulitan kita. Karena Allah telah mengutus Putera satu-satunya yaitu Yesus, yaitu: “’Imanuel’ yang berarti: Allah menyertai kita.” (Mat 1:23). Ujian sejati seorang Kristiani justru dalam bagaimana kita menghadapi salib kehidupan kita. Tindakan kita pada saat kesusahan memberitahu Allah apakah kita ingin Yesus tinggal dengan kita atau kita hanya ingin terhindar kesulitan (Ref Luk 23:39-43).
Sebaliknya, apabila Yesus hadir dalam hidup kita, maka kita dapat menghadapi kesulitan terberatpun dengan harapan dan bahkan sukacita, seperti orang Kapernaum dalam Injil hari ini, dimana terjadi kegembiraan besar dan banyak mukzizat pada kerumunan orang Kapernaum yang kesusahan itu. Atau seperti nabi Habakuk yang berkata: “Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku. ALLAH Tuhanku itu kekuatanku” (Hab 3:17-19)
Ayub yang menengadah ke langit dalam penderitaanyapun, pada akhirnya mendapatkan pemahaman: “Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.” (Ayub 42:5) Dan sejak itu seluruh hidup Ayub berubah dan dipulihkan. Dan bersama Ayub dalam mendekati masa suci Prapaskah ini , marilah kita bukan hanya (sedikit) mendengar saja dari orang lain tentang Tuhan, tetapi berusaha untuk dapat mencari dan memandang-Nya sendiri, seperti kata kitab Ibrani: “Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus” (Ibr 12:2) karena: “Mata Tuhan tertuju kepada orang yang cinta kepada-Nya. Tuhan menjadi perisai kuat dan sandaran yang kokoh, naungan terhadap angin yang panas dan perlindungan terhadap panas terik siang hari, penjagaan sehingga tidak tersandung dan pertolongan sehingga tidaklah runtuh.” (Sir 34:16)




